Mengapa Jakarta Belum Aman dari Banjir?

musim hujan cemas banjir

Setiap musim hujan, Suwadi, seorang pedagang makanan, selalu cemas menghadapi banjir yang biasanya menyertainya.

“Saat banjir besar tahun 2015, saya tidak bisa bekerja lebih dari seminggu,” ujar Suwadi, yang mendorong gerobak makanannya melewati pemukiman di Jakarta Utara. “Rumah saya terendam banjir setinggi lutut, sementara jalan menuju pasar lebih parah. Kami benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.”

Seperti Suwadi, banyak warga ibu kota harus menanggung dampak banjir parah setiap tahun. Pada 2013, kerugian ekonomi melebihi Rp7,5 triliun, dan peritel menanggung kerugian terbesar.

Ibukota Rawan Banjir

“Jakarta merupakan kota yang rawan banjir,” ujar Bambang Surya Putra dari BPBD DKI Jakarta. Ia menjelaskan, “Ada 13 sungai besar yang mengalir melalui ibu kota dan bermuara di Laut Jawa.”

Penurunan tanah di Jakarta terus terjadi dengan laju mengkhawatirkan, terutama akibat ekstraksi air tanah dalam yang intensif. Beberapa wilayah Jakarta Utara mengalami penurunan 15–25 cm per tahun. Jika tren ini berlanjut, wilayah tersebut bisa tenggelam 4–5 meter di bawah permukaan laut pada 2025.

Kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim serta meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan semakin memperburuk situasi. Jika pada dekade sebelumnya banjir jarang melanda Jakarta, kini banjir akan terjadi lebih sering dan menimbulkan dampak besar terhadap kondisi sosial ekonomi.

Pengerukan dan Rehabilitasi Saluran Air

Untuk mengendalikan banjir, pemerintah kota mengalihkan aliran puncak ke dua kanal utama yang bermuara di Teluk Jakarta. Kanal-kanal tersebut mengalihkan air dari daerah hulu ke timur dan barat Jakarta.

Selama bertahun-tahun, debit air terus meningkat sementara kanal-kanal tersumbat oleh sampah. Saluran banjir juga kurang terawat, menyebabkan penumpukan sedimen yang besar. Akibatnya, beberapa saluran air hanya berfungsi kurang dari sepertiga kapasitas aslinya.

Bank Dunia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jakarta untuk mengurangi risiko banjir dengan mengeruk kanal dan waduk vital. Proyek ini, bernama Jakarta Urgent Flood Mitigation Project (JUFMP), juga mendukung rehabilitasi tanggul dan peralatan mekanis yang menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir kota.

Setelah pengerukan dan pengangkatan sedimen, kedalaman beberapa kanal meningkat dari hanya 1 meter menjadi 4 meter.

Menurut Iwan Gunawan, Spesialis Risiko Bencana Senior Bank Dunia, pengerukan serta penguatan tanggul memiliki peran krusial dalam memperbesar kapasitas aliran sungai. Upaya ini dapat menekan kemungkinan terjadinya luapan air yang berpotensi menimbulkan kerusakan pada aset di sekitar bantaran sungai.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Bank Dunia merehabilitasi sistem pengendalian banjir perkotaan. Proyek ini membangun 11 kanal banjir dengan total panjang 67,5 km serta empat embung seluas 65 hektare. Selain itu, mereka memperbaiki atau membangun sekitar 42 km tanggul di dalam kanal dan embung tersebut.

Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, proyek ini mulai menampakkan hasil. Jika pada 2007 terdapat 200 kelurahan yang terkena banjir, maka pada 2015 jumlah tersebut menurun cukup drastis menjadi 130 wilayah, berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.

Pengerukan dan Rehabilitasi

Kegiatan pengerukan dan rehabilitasi yang berjalan sejak 2013 memberikan manfaat bagi warga sekitar.

Eti, seorang ibu yang pernah mengalami banjir besar tahun 2015 ketika kedua anaknya jatuh sakit, menuturkan bahwa setelah dilakukan pengerukan, air kini lebih cepat surut usai hujan deras. Kondisi sungai juga tampak lebih bersih, dengan berkurangnya sampah yang berserakan sehingga tidak lagi menimbulkan bau menyengat. Ia menambahkan, dirinya bersama para tetangga kini merasa nyaman duduk santai di tepi sungai sambil memperhatikan anak-anaknya bermain.

Dengan terus berlangsungnya musim hujan, banyak pihak berharap langkah ini dapat meningkatkan keamanan Jakarta dari ancaman banjir, meskipun tidak berarti kota ini sepenuhnya terbebas.

Suwadi menyampaikan bahwa banjir kemungkinan masih terjadi, namun menurutnya tidak akan seburuk yang pernah dialami sebelumnya.

Di area proyek Bank Dunia, berbagai langkah telah ditempuh untuk mengurangi jumlah warga yang terkena dampak. Jika relokasi tidak bisa dihindari, telah disiapkan rencana pengadaan lahan dan pemukiman kembali dengan melibatkan konsultasi bersama masyarakat.

Kerja sama erat antara Bank Dunia dan badan penanggulangan bencana, dengan dukungan Fasilitas Global untuk Pengurangan dan Pemulihan Bencana, telah mendorong peningkatan langkah mitigasi risiko. Sistem koordinasi yang lebih efektif kini dijalankan guna menjamin kecukupan sumber daya. Contohnya, saat musim hujan, pemerintah kota menugaskan personel di setiap kecamatan untuk segera menangani potensi risiko banjir, seperti melakukan pembersihan saluran air di jalan.

Menurut Bambang Surya Putra, pejabat Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta, penempatan personel lapangan yang sigap menjadi pelengkap dari peningkatan infrastruktur fisik, sekaligus menandakan adanya dampak positif dari proyek pengerukan sungai. Dengan penuh kebanggaan, ia menuturkan perubahan pola kerja tersebut: “Dulu kami baru bertindak setelah bencana terjadi, kini kami lebih proaktif.”

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *