Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan pada hari Jumat bahwa pemerintah memerlukan waktu sekitar 30 hari untuk menanggulangi kebakaran hutan yang masih berlangsung, lantaran kabut asap yang ditimbulkan telah menyebabkan tingkat polusi di kawasan Asia Tenggara mencapai rekor tertinggi.
Selama bertahun-tahun, kawasan ini terus terdampak oleh kabut asap yang muncul setiap tahun akibat praktik pembakaran lahan di Sumatra dan Kalimantan, namun upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut belum membuahkan hasil yang efektif.
Juru bicara BNPB, Sutopo Nugroho, menyampaikan bahwa kabut asap diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga akhir bulan November 2015 akibat dampak El Nino. Meski demikian, pemerintah menargetkan sebagian besar titik kebakaran dapat berhasil dipadamkan pada pertengahan bulan Oktober 2015.
Pemerintah mendapat sorotan tajam dari negara-negara tetangga dan organisasi lingkungan karena dinilai belum melakukan langkah yang memadai untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan, yang setiap tahun menimbulkan kerugian bernilai jutaan dolar bagi sektor kesehatan dan lingkungan.
Pemerintah mengumumkan pekan ini bahwa tengah menyelidiki sekitar 100 perusahaan, termasuk satu perusahaan asal Malaysia yang identitasnya belum diungkap, sebagai bagian dari langkah tegas terbaru untuk menangani kabut asap yang semakin parah akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Biasanya, musim hujan dimulai pada bulan November.
Dalam konferensi pers pada hari Jumat, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, menyampaikan bahwa pekan depan otoritas akan mengumumkan sejumlah perusahaan yang diduga terlibat dalam pemicu kebakaran hutan dan berpotensi dikenai sanksi, termasuk kemungkinan pencabutan izin operasionalnya.
Pada hari Jumat, pemerintah Malaysia mengumumkan rencana evakuasi terhadap 173 warga negaranya yang terdampak parah oleh kabut asap di wilayah sekitar Provinsi Riau. Evakuasi tersebut akan dilakukan dari ibu kota provinsi, Pekanbaru, dengan menggunakan dua pesawat C-130 Hercules.
Perusahaan-perusahaan perkebunan—termasuk sejumlah yang tercatat di Singapura—bersama dengan para petani kecil kerap dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penggunaan metode tebang dan bakar dalam membuka lahan untuk budidaya kelapa sawit dan kegiatan pertanian lainnya.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, peraturan saat ini memperbolehkan petani kecil membuka lahan dengan cara tebang dan bakar hingga seluas dua hektare. Namun, kebijakan ini kerap disalahgunakan dalam praktiknya.
Asia Pulp and Paper (APP), yang merupakan salah satu produsen pulp and paper terbesar di dunia, menyatakan bahwa tengah berupaya mengatasi kebakaran yang terjadi di area konsesinya yang sangat luas, di mana ribuan hektare lahan perkebunan telah mengalami kerusakan parah.
Aida Greenbury, Direktur Pelaksana Keberlanjutan di APP, menyatakan bahwa kondisi saat ini baru merupakan permulaan dari masalah yang lebih besar, mengingat fenomena El Nino diperkirakan akan terus berlangsung hingga bulan Maret tahun depan.
Hampir 3.000 personel militer dan 24 pesawat telah dikerahkan oleh pemerintah untuk membantu memadamkan kebakaran. Siti Nurbaya menyampaikan bahwa tawaran bantuan dari Singapura tidak diterima.