Pada tanggal 23 April 2015 sore hari, Polri melakukan penggerebekan terhadap sebuah gudang yang berlokasi di Medan, Sumatra Utara.
Setelah enam bulan penyelidikan intensif bersama Unit Kejahatan Satwa Liar WCS, tim investigasi tiba di lokasi. Berkat informasi informan, petugas mengungkap pengiriman besar trenggiling Sunda, spesies bersisik malam hari yang terancam punah.
Petugas menemukan lima ton trenggiling beku dan 80 kilogram sisik tersembunyi di balik tumpukan ikan beku. Petugas juga menyita 96 ekor trenggiling hidup. Penyidik memperkirakan barang bukti itu bernilai sekitar $1,8 juta di pasar gelap. Aparat menangkap Soemiarto Boediono, pria berusia 60 tahun. Polisi menjeratnya dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun dan denda Rp100 juta.
Petugas konservasi satwa liar secara sembunyi-sembunyi melepas 88 ekor trenggiling hidup ke suaka alam yang lokasinya dirahasiakan, serta mengubur dan membakar delapan trenggiling mati beserta sisik dan hewan mati lainnya.
Petugas bea cukai di berbagai negara secara rutin menggagalkan upaya penyelundupan trenggiling dan sisiknya. Para pelaku sering menyamarkan barang ilegal dalam muatan lain, seperti pada penggerebekan di Medan dan penemuan di Bandara Surabaya Juli 2015. Petugas menemukan 43 kotak berisi 455 trenggiling mati. Beberapa pelaku menggunakan dokumen bea cukai palsu, misalnya kasus di Uganda Januari 2015. Saat itu petugas menyita dua ton sisik trenggiling yang pelaku daftarkan secara ilegal sebagai peralatan komunikasi.
Mungkin Anda belum familiar dengan hewan yang pemalu, tak bergigi dan memiliki penampilan unik ini. Trenggiling menyerupai sarawaboga prasejarah berlapis pelindung, namun berukuran lebih kecil. Hewan ini bersifat nokturnal dan hidup menyendiri, hanya berinteraksi dengan sesamanya saat musim kawin. Kemampuannya memanjat sangat luar biasa, bahkan bisa bergelantungan di pohon menggunakan ekornya yang panjang dan kuat. Trenggiling menggunakan cakar tajamnya yang konon mampu menembus beton untuk membongkar sarang rayap, makanannya.
Pengetahuan Terbatas
Pengetahuan para ilmuwan tentang hewan ini masih terbatas karena sulit untuk ditangkap. Delapan spesies trenggiling terancam punah dan jarang terdeteksi di alam liar di 48 negara Afrika dan Asia. Trenggiling jarang ada di kebun binatang karena sangat sensitif, sehingga sedikit individu bertahan dalam penangkaran.
Dalam 10 tahun terakhir, pelaku perdagangan ilegal internasional memperdagangkan lebih dari satu juta trenggiling. Perdagangan itu menjadikan trenggiling mamalia yang paling sering orang perdagangkan di dunia. Pangeran William dari Inggris baru-baru ini mengungkapkan kekhawatirannya bahwa trenggiling bisa punah sebelum masyarakat luas sempat mengenalinya.
Di China, dan dalam tingkat yang lebih kecil di Vietnam, terdapat permintaan yang sangat tinggi terhadap daging trenggiling. Orang biasanya mengolah daging ini dengan mengukusnya bersama jahe dan daun bawang atau memasaknya menjadi kari. Banyak orang menganggap hidangan tersebut mewah dan sering menjadikannya simbol status sosial atau kekayaan. Sebagian orang mengonsumsi hidangan itu sendiri atau menyajikannya kepada tamu untuk memamerkan kekayaan. Masyarakat percaya trenggiling memiliki manfaat kesehatan, khususnya untuk menjaga fungsi ginjal. Di Afrika, penduduk setempat mengonsumsi hewan ini sebagai bagian dari daging hasil buruan.
Permintaan terhadap trenggiling sebagai barang mewah kelas atas terus meningkat dan mengancam kelangsungan hidupnya. Secara historis, ancaman terbesar bagi delapan spesies trenggiling berasal dari kepercayaan bahwa sisik mereka menyembuhkan. Dalam bahasa Mandarin, nama trenggiling berarti penggali bukit; cerita kuno menyebut konsumsi memberi kekuatan dan daya tahan luar biasa.
Edisi Materia Medica China 1957 merekomendasikan sisik trenggiling kering sebagai obat untuk kegelisahan berlebihan pada anak. Buku itu juga menyarankan sisik untuk mengatasi tangisan tak terkendali pada anak. Praktisi merekomendasikan sisik untuk perempuan yang mengalami gangguan spiritual atau kerasukan. Beberapa orang menyebut sisik bermanfaat mengobati demam malaria dan gangguan pendengaran. Edisi 1989 memperluas penggunaan sisik untuk kanker, rematik, asma, gangguan sirkulasi, dan jerawat.
Janin Trenggiling
Pria mengonsumsi janin trenggiling untuk mengatasi penurunan vitalitas dan membantu ibu menyusui. Penduduk Afrika memakai bagian tubuh trenggiling sebagai jimat pelindung dan untuk ritual spiritual. Orang menggunakan bagian itu untuk menangkal malaria, mengusir roh jahat, atau memohon turunnya hujan.
Tidak terdapat bukti ilmiah yang mendukung klaim manfaat kesehatan dari penggunaan bagian tubuh trenggiling dalam pengobatan.
Perdagangan trenggiling telah berlangsung selama ratusan tahun. Pada tahun 1820, orang menghadiahkan Raja George III baju zirah yang terbuat dari sisik trenggiling. Pada era modern, terutama 1980-an dan 1990-an, pedagang memperdagangkan puluhan ribu kulit trenggiling setiap tahun secara internasional. Permintaan industri mode mendorong perdagangan, terutama untuk pembuatan sepatu dan sepatu bot berbahan kulit trenggiling. Negara seperti Jepang, Meksiko, dan Amerika Serikat menjadi pasar utama. Amerika Serikat secara legal mengimpor sekitar 167.000 trenggiling antara 1980 dan 1985.
Para anggota CITES menghentikan perdagangan kulit trenggiling setelah menetapkan kuota ekspor nol pada tahun 2000. Kebijakan itu melarang semua aktivitas perdagangan komersial tiga spesies trenggiling Asia yang orang tangkap dari alam liar. CITES adalah perjanjian internasional yang mengatur perdagangan lintas negara satwa liar dan telah 181 negara sepakati.
Larangan terhadap perdagangan trenggiling ternyata tidak cukup efektif untuk menekan pasar di China. Permintaan terhadap hewan ini justru meningkat tajam seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang makmur di negara berpenduduk 1,4 miliar tersebut. Dan Challender, ketua Kelompok Spesialis Trenggiling IUCN, mengatakan pemburu menangkap hingga 160.000 trenggiling per tahun pada 1980-an.
Setelah populasi trenggiling lokal mengalami kepunahan secara komersial, China mulai mengimpor trenggiling Sunda dari wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan. Para ahli mengategorikan trenggiling China (Manis pentadactyla) dan trenggiling Sunda sebagai spesies yang sangat terancam punah.
Spesies trenggiling asal India (Manis crassicaudata) dan Filipina (Manis culionensis) menjadi sasaran berikutnya dalam perdagangan ilegal. Saat ini, kedua spesies tersebut telah masuk dalam kategori spesies yang terancam punah.
Penurunan Drastis
Chris Shepherd, kepala kantor Asia Tenggara TRAFFIC, mengatakan populasi trenggiling menurun drastis. Di banyak wilayah, spesies itu sudah punah. TRAFFIC adalah jaringan internasional yang memantau perdagangan satwa liar.
Ketika spesies trenggiling di Asia mendekati kepunahan, dan hubungan ekonomi antara negara-negara Afrika dan Asia Timur semakin erat, pusat perburuan pun bergeser ke Afrika. Dan Challender mengatakan para pedagang kini mengekspor trenggiling dari Afrika ke China dalam jumlah besar, menyerupai skala industri. Perdagangan lintas benua itu mulai terlihat sekitar enam tahun lalu dan berkembang pesat karena banyak proyek pembangunan China di Afrika. Pada 2013 pihak berwenang memasukkan keempat spesies trenggiling Afrika ke daftar spesies terancam punah dengan status rentan.
Trenggiling telah punah secara lokal di sejumlah wilayah Asia dan Afrika, dan seiring dengan semakin langkanya hewan ini, nilai jualnya pun meningkat tajam. Sisik trenggiling yang kini menjadi barang langka dan bernilai tinggi menarik perhatian para pelaku perdagangan ilegal yang sebelumnya berfokus pada gading gajah dan cula badak, ujar Challender. Ia menyebut perkembangan ini sebagai sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.
Tahun lalu petugas menyita lebih dari enam ton sisik trenggiling asal Afrika di wilayah Asia; dalam enam bulan pertama 2015 petugas menyita delapan ton. Lisa Hywood, CEO dan pendiri Tikki Hywood Trust, mengatakan, “Melihat tren peningkatan yang mengkhawatirkan ini, kami menyadari bahwa penyitaan tersebut hanyalah bagian kecil dari jaringan penyelundupan yang jauh lebih besar.” Ia menambahkan bahwa masyarakat akan terkejut mengetahui seberapa banyak trenggiling yang pelaku selundupkan secara ilegal dari Afrika. Menurutnya, situasi ini sangat serius.
Perhitungan menunjukkan jumlahnya sangat mengejutkan. Untuk menghasilkan enam ton sisik, pemburu membantai sekitar 2.000 trenggiling tanah Temminck (Smutsia temminckii) atau sekitar 1.000 trenggiling perut putih (Phataginus tricuspis).
Berskala Global
Trenggiling kini menjadi bagian dari jaringan perdagangan satwa liar ilegal berskala global, yang bernilai sekitar $19 miliar per tahun. Pada bulan Maret 2015, Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Sam Kutesa, menyerukan perlunya respons internasional yang terkoordinasi, dengan menekankan bahwa perdagangan satwa liar menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan global.
Dalam Sidang Majelis Umum PBB pada bulan Maret 2015, Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Jan Eliasson, menyebut bahwa jaringan kriminal terorganisir, kelompok pemberontak dan organisasi teroris turut terlibat dalam perdagangan satwa liar ilegal. Ia menyatakan bahwa praktik ini telah berkembang menjadi bentuk kejahatan lintas negara yang meluas, serupa dengan perdagangan manusia, narkotika dan barang palsu.
Challender mencatat para ilmuwan memperkirakan fosil trenggiling tertua berasal dari sekitar 80 juta tahun lalu. Delapan spesies yang masih ada hingga kini termasuk dalam ordo Pholidota, kelompok taksonomi yang hanya beranggotakan trenggiling. Para ahli menamai genusnya Manis dari kata Latin manes, yang berarti roh orang mati dalam kepercayaan Romawi kuno, karena kebiasaan trenggiling aktif di malam hari dan penampilannya yang unik.
Ketika merasa terancam, trenggiling akan menggulung tubuhnya membentuk bola bersisik yang kaku, dengan sisik-sisik kuat melindungi bagian perutnya yang rentan. Mekanisme pertahanan ini mampu melindunginya bahkan dari predator besar seperti singa dan harimau. Strategi itu justru memudahkan pemburu liar menangkap trenggiling, karena mereka hanya perlu mengambil hewan yang sudah menggulung dan memasukkannya ke dalam karung.
Pengetahuan ilmiah mengenai perilaku trenggiling, yang merupakan hewan soliter dan aktif di malam hari, masih sangat terbatas. Para peneliti masih sedikit meneliti spesies ini. Karena populasinya semakin menurun, para peneliti semakin sulit mengamati spesies itu secara langsung di habitat alaminya.
Beberapa spesies trenggiling tidur di lubang pohon, sedangkan spesies lain membuat liang di bawah tanah. Mereka biasanya keluar dari tempat persembunyiannya saat malam tiba, mengandalkan penciuman yang tajam untuk mencari makanan favoritnya—semut dan rayap—karena penglihatannya yang kurang baik.
Tiga Cakar
Trenggiling menggunakan tiga cakar panjang dan tajam untuk merobek gundukan atau sarang serangga; cakar itu begitu besar sehingga trenggiling harus menyelipkannya ke bawah tubuh saat berjalan. Setelah merobek, ia memasukkan moncongnya yang ramping ke dalam sarang seolah menyusu dari tanah, lalu menjilat semut atau rayap dengan lidah lengket itu, yang pada sebagian besar spesies bahkan lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Trenggiling menutup lubang hidung dan telinga dengan otot khusus agar semut tidak masuk; sisik kerasnya melindungi dari gigitan; dan kerikil di dalam perutnya berfungsi seperti gigi untuk menggiling makanan.
Kebiasaan trenggiling dalam mencari makan menjadikannya sebagai penjaga lingkungan alami sekaligus insinyur ekosistem. Dengan menggali tanah dan membuat lubang, menciptakan tempat tinggal yang kemudian berbagai spesies lain manfaatkan, sehingga turut meningkatkan keanekaragaman hayati di sekitarnya. Selain itu, trenggiling juga berperan dalam pengendalian hama dengan memangsa jutaan serangga setiap tahun, menjaga populasi serangga sosial tetap seimbang.
Meskipun memiliki penampilan seperti bersenjata dan sifat yang tertutup, trenggiling ternyata merupakan induk yang sangat perhatian. Induk trenggiling akan melingkarkan tubuhnya untuk melindungi atau menyusui anaknya, serta menidurkannya dengan penuh kasih. Biasanya, hanya melahirkan satu anak dan membawanya di punggung atau ekor selama sekitar tiga bulan pertama. Pada masa itu, para peneliti meyakini bahwa anak trenggiling mulai mencoba memakan semut, telur semut dan beberapa rayap. Anak tersebut kemungkinan masih menyusu selama lima hingga enam bulan, sambil belajar keterampilan penting seperti menemukan dan menggali sarang semut dan rayap.
Menurut Hywood, induk trenggiling menjadi kurang gesit saat merawat anaknya, sehingga lebih mudah menjadi target perburuan liar. Bagi spesies dengan tingkat reproduksi yang rendah, hilangnya betina dewasa yang masih bisa berkembang biak akibat perdagangan ilegal semakin memperburuk ancaman terhadap kelangsungan hidupnya.
Pengalaman Langsung
Hywood memiliki pengalaman langsung dalam merawat trenggiling. Organisasi nirlaba miliknya telah menangani lebih dari 50 kasus trenggiling tanah Temminck yang mereka sita dalam kondisi sakit, terluka atau yatim piatu dan membutuhkan perawatan intensif. Tujuan utama dari upaya ini adalah untuk membesarkan atau merehabilitasi hewan-hewan tersebut hingga siap mereka lepasliarkan kembali ke habitat aslinya.
“Karena itu, menjadi tanggung jawab kita untuk mengajarkan trenggiling cara bertahan hidup sebagai trenggiling,” ujar Hywood. Perawat menyusui bayi trenggiling dengan botol dan melatihnya agar hidup mandiri. “Anda tidak bisa melepasliarkan trenggiling tanpa keterampilan bertahan hidup yang memadai,” katanya, “atau melepaskan yang masih terlalu kecil, karena bisa menjadi mangsa singa, elang atau predator lainnya.” Dalam proses rehabilitasi, seorang pengasuh manusia berperan sebagai induk pengganti, rutin mengajak trenggiling berjalan-jalan, mengenalkannya pada berbagai jenis semut dan rayap, serta membimbingnya ke sarang. Pengasuh juga menggunakan alat khusus yang meniru bentuk cakar trenggiling untuk melatih anak trenggiling menggali makanannya sendiri.
Menurut Hywood, mengajarkan trenggiling muda bahwa semut adalah sumber makanannya merupakan proses yang sangat lambat dan membutuhkan banyak tenaga. Ketika Champ, trenggiling yatim piatu pertama yang pusat rehabilitasi rawat, tiba, perawat beri susu formula khusus melalui botol selama tiga bulan pertama. Namun, saat waktunya mereka sapih, para peneliti kesulitan membuatnya mau makan semut atau rayap—dan tidak tahu penyebabnya. “Aneh sekali, sebagian besar trenggiling muda tampaknya justru tidak suka semut. Mereka akan mencakar semut yang merayap di tubuhnya dan langsung kabur,” kata Hywood. “Tapi kemudian, seolah-olah ada momen pencerahan—tiba-tiba sadar, ‘Hei, aku suka semut,’ dan sejak itu tidak bisa berhenti memakannya.”
Tim pelepasliaran melepaskan trenggiling muda ke alam setelah mereka mampu makan sendiri dan mencapai berat minimal 6 kilogram. Sebelumnya, tim memasang alat pelacak pada hewan-hewan itu dan memantau sinyal radio hingga Hywood yakin mereka siap hidup mandiri dan berkembang biak di habitat asli.
Menjalin Ikatan
Menariknya, trenggiling muda tetap menjalin ikatan dengan pengasuh manusianya meskipun telah dilepasliarkan. “Banyak orang lupa bahwa trenggiling adalah mamalia,” ujar Hywood. “Memiliki ikatan emosional yang kuat, dan baru-baru ini saya dikenali oleh seekor trenggiling betina dewasa yang pernah saya lepas enam bulan sebelumnya. Saat mulai terbentuk ikatan, trenggiling muda sering kali berdiri di kaki Anda, seolah meminta untuk digendong,” tambahnya.
Trenggiling merupakan salah satu mamalia liar yang paling banyak diperdagangkan di dunia, namun sering kali terabaikan dalam upaya konservasi. Hingga kini, hanya sedikit organisasi yang benar-benar menyadari besarnya ancaman terhadap spesies ini. TRAFFIC adalah salah satu dari sedikit lembaga yang sejak awal menyoroti isu ini, bahkan menyebutnya sebagai krisis kepunahan yang terlupakan di Asia.
Perhatian terhadap konservasi trenggiling meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2012, Kelompok Spesialis Trenggiling dari Komisi Spesies IUCN dibentuk kembali. Setahun kemudian, kelompok ini menyelenggarakan konferensi konservasi global pertama yang secara khusus membahas trenggiling, dan pada tahun berikutnya meluncurkan rencana aksi global untuk pelestarian spesies ini. Dalam pertemuan CITES tahun 2014, perdagangan ilegal trenggiling diakui meningkat secara mengkhawatirkan, sehingga dibentuklah kelompok kerja khusus yang aktif sepanjang tahun. Pada tahun yang sama, US Fish & Wildlife Service (USFWS) menetapkan trenggiling sebagai salah satu prioritas utama dalam upaya konservasi.
Menurut Challender, semakin banyak organisasi konservasi yang mulai terlibat dalam upaya pelestarian trenggiling. Spesies ini kini mulai mendapatkan perhatian yang sebelumnya lebih banyak tertuju pada hewan-hewan karismatik seperti gajah, badak dan harimau.
Pelestarian Trenggiling
Pada bulan Juni 2015, perwakilan dari 31 negara di Afrika dan Asia yang menjadi habitat trenggiling, bersama delegasi dari Amerika Serikat, berkumpul untuk pertama kalinya guna mendorong kerja sama dalam upaya pelestarian trenggiling. Pertemuan ini diselenggarakan di Da Nang melalui kolaborasi antara pemerintah Vietnam dan Amerika Serikat, serta diorganisir oleh Humane Society International. Acara tersebut mempertemukan berbagai lembaga perlindungan satwa liar, aparat penegak hukum nasional, organisasi konservasi dan para ahli terkemuka dari seluruh dunia.
Negara-negara di Afrika Barat, Tengah dan Selatan menunjukkan komitmen untuk bekerja sama dengan negara-negara Asia dalam upaya pelestarian trenggiling. “Ada kesadaran bahwa kolaborasi antarnegara jauh lebih kuat dibandingkan jika satu negara bertindak sendiri—karena kita membutuhkan kerja sama antara negara pengekspor dan pengimpor untuk menemukan solusi,” ujar Rosemarie Gnam, Kepala Divisi Urusan Ilmiah di US Fish & Wildlife Service (USFWS). “Kerja sama global sangat penting dalam isu ini,” tambahnya.
Sebuah komite ilmiah yang dipimpin oleh Gnam menyimpulkan bahwa seluruh delapan spesies trenggiling berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan, sehingga direkomendasikan untuk dimasukkan ke dalam Lampiran I CITES—kategori perlindungan tertinggi dalam peraturan perdagangan internasional. Untuk menerapkan rekomendasi ini, diperlukan pemungutan suara dalam pertemuan CITES yang dijadwalkan pada tahun 2016.
Chris Shepherd dari TRAFFIC menyatakan bahwa kebijakan nol ekspor yang saat ini diterapkan terhadap keempat spesies trenggiling Asia ternyata belum efektif. Ia menegaskan bahwa perdagangan ilegal masih terus berlangsung, menunjukkan bahwa larangan tersebut belum memberikan efek jera.
Pencantuman trenggiling ke dalam Lampiran I akan meningkatkan perhatian terhadap upaya konservasi, termasuk membuka peluang pendanaan yang lebih besar. Selain itu, langkah ini akan melarang seluruh bentuk perdagangan komersial, yang menurut Shepherd merupakan langkah penting.
Konservasi Trenggiling
“Saya tidak tahu persis berapa banyak dana yang telah dialokasikan untuk konservasi trenggiling, tetapi yang jelas jumlahnya masih jauh dari cukup,” ujar Hywood. “Hanya sedikit anggaran yang tersedia untuk penelitian mendalam mengenai spesies ini di alam liar, maupun untuk memahami dampak dari perdagangannya. Selain itu, dukungan dana untuk penegakan hukum juga masih sangat minim.”
Masuknya ke dalam daftar hitam akan mendorong penegakan hukum menjadi fokus utama. Meskipun sebagian besar negara telah memiliki regulasi yang melarang perburuan trenggiling, keterbatasan jumlah petugas dan minimnya anggaran membuat pelaksanaannya tidak efektif, sementara perdagangan ilegal terus berkembang dan membebani sistem. Bagi para pemburu liar yang tinggal di wilayah pedesaan miskin, tawaran uang cepat sangat menggiurkan. Shepherd menyatakan bahwa hukuman harus mampu memberikan efek jera, dan sebelum hal ini tercapai, aktivitas perdagangan akan terus berlangsung.
Pada tahun 2012, Zimbabwe mengesahkan peraturan perlindungan satwa liar yang mencakup salah satu ketentuan paling ketat terkait perburuan trenggiling di dunia. Hanya dalam tahun ini, aparat penegak hukum Zimbabwe telah menangkap dan menjatuhkan hukuman kepada 16 pelaku perburuan trenggiling, dengan masing-masing menerima hukuman penjara maksimal sembilan tahun, dan salah satu di antaranya dikenai denda sebesar $5.000.
Beberapa tahun yang lalu, isu kejahatan lingkungan masih dianggap kurang penting oleh sebagian besar pemerintah di dunia. Namun, Achim Steiner selaku kepala Program Lingkungan PBB, bersama John E. Scanlon dari CITES dan Helen Clark dari Program Pembangunan PBB, menyerukan agar penanganan kejahatan lingkungan menjadi agenda utama. Kini, pelanggaran terhadap satwa liar telah menjadi sorotan serius di tingkat internasional, termasuk oleh Dewan Keamanan PBB, Majelis Umum dan berbagai lembaga PBB lainnya.
Challender menekankan bahwa meskipun keberadaan hukum yang tegas dan penegakannya sangat penting, upaya untuk menekan permintaan juga memegang peranan vital. “Jika tidak dilakukan, trenggiling Asia dan Afrika berisiko punah, dengan penyebab utama berasal dari tingginya permintaan terhadap daging dan sisiknya—khususnya dari China,” ujarnya.
Budidaya Komersial
Trenggiling memiliki laju reproduksi yang lambat dan sulit bertahan hidup dalam lingkungan penangkaran, sehingga tidak mungkin memenuhi kebutuhan pasar melalui budidaya komersial. Bahkan jika hal tersebut dapat dilakukan, peningkatan pasokan justru cenderung mendorong lonjakan permintaan, yang pada akhirnya memperbesar ancaman terhadap populasi trenggiling di alam liar.
WildAid, sebuah organisasi konservasi yang berbasis di San Francisco, menginisiasi kampanye untuk menekan tingkat permintaan, dengan menggandeng 100 mitra media di China dan Vietnam. Tujuan kampanye ini adalah untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai ancaman terhadap kelangsungan hidup trenggiling serta konsekuensi dari konsumsi daging dan sisik hewan tersebut.
Menurut Shepherd, kesadaran global terhadap ancaman yang dihadapi trenggiling semakin meningkat, dan saat ini kita masih memiliki peluang untuk mencegah agar trenggiling Afrika tidak mengalami kepunahan parah seperti yang terjadi di Asia. Sangat disayangkan jika tidak ada langkah nyata yang diambil untuk menjaga kelestariannya.