Trenggiling Terancam Punah: Perdagangan dengan China Masih Sulit Dihentikan

Pada tanggal 23 April 2015 sore hari, Polri melakukan penggerebekan terhadap sebuah gudang yang berlokasi di Medan, Sumatra Utara.

Selama enam bulan penyelidikan intensif, hasil kerja sama dengan Unit Kejahatan Satwa Liar dari Wildlife Conservation Society, tim investigasi akhirnya tiba di lokasi tersebut. Berkat informasi dari seorang informan, petugas berhasil mengungkap pengiriman besar trenggiling Sunda (Manis javanica), spesies mamalia bersisik yang aktif di malam hari dan kini terancam punah di kawasan Asia Tenggara.

Sebanyak lima ton trenggiling beku dan 80 kilogram sisik ditemukan tersembunyi di balik tumpukan ikan beku, sementara 96 ekor trenggiling hidup turut disita oleh petugas. Seluruh barang bukti yang rencananya akan dikirim ke China ini diperkirakan memiliki nilai sekitar $1,8 juta di pasar gelap. Aparat juga menangkap Soemiarto Boediono, pria berusia 60 tahun, yang kini menghadapi ancaman hukuman penjara maksimal lima tahun serta denda sebesar Rp100 juta atas tuduhan memperdagangkan satwa yang dilindungi.

Dalam kurun waktu dua hari, petugas konservasi satwa liar secara diam-diam melepaskan 88 ekor trenggiling yang masih hidup ke sebuah kawasan suaka alam yang lokasinya dirahasiakan. Sementara itu, delapan trenggiling yang telah mati, bersama sisik dan hewan lain yang tidak lagi hidup, dikuburkan dalam sebuah lubang dan kemudian dibakar.

Petugas bea cukai di berbagai negara secara rutin menggagalkan upaya penyelundupan trenggiling dan sisiknya. Barang-barang ilegal ini kerap disamarkan dalam muatan lain, seperti yang terjadi dalam penggerebekan di Medan dan penemuan di Bandara Surabaya pada bulan Juli 2015, di mana ditemukan 43 kotak berisi 455 trenggiling yang telah mati. Beberapa pengiriman bahkan menggunakan dokumen bea cukai palsu, seperti kasus di Uganda pada bulan Januari 2015, ketika dua ton sisik trenggiling disita setelah didaftarkan secara ilegal sebagai peralatan komunikasi.

Nasib Trenggiling yang Tak Diketahui

Mungkin Anda belum familiar dengan hewan yang pemalu, tak bergigi dan memiliki penampilan unik ini. Trenggiling menyerupai sarawaboga prasejarah berlapis pelindung, namun berukuran lebih kecil. Hewan ini bersifat nokturnal dan hidup menyendiri, hanya berinteraksi dengan sesamanya saat musim kawin. Kemampuannya memanjat sangat luar biasa, bahkan bisa bergelantungan di pohon menggunakan ekornya yang panjang dan kuat. Trenggiling juga dikenal memiliki cakar tajam yang konon mampu menembus beton, yang digunakannya untuk membongkar sarang rayap—makanan utamanya.

Pengetahuan para ilmuwan tentang hewan ini masih terbatas karena sulit untuk ditangkap. Delapan spesies trenggiling terancam punah dan keberadaannya jarang terdeteksi di alam liar di 48 negara di Afrika dan Asia, tempatnya hidup, sehingga memperkirakan populasi yang tersisa menjadi sangat sulit. Trenggiling juga jarang ditemukan di kebun binatang karena sifatnya yang sangat sensitif, membuat hanya sedikit individu yang mampu bertahan hidup dalam lingkungan penangkaran.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, diperkirakan lebih dari satu juta trenggiling telah menjadi korban perdagangan ilegal satwa liar internasional, menjadikannya sebagai mamalia yang paling sering diperdagangkan di dunia. Pangeran William dari Inggris baru-baru ini mengungkapkan kekhawatirannya bahwa trenggiling bisa punah sebelum masyarakat luas sempat mengenalinya.

Di China, dan dalam tingkat yang lebih kecil di Vietnam, terdapat permintaan yang sangat tinggi terhadap daging trenggiling. Daging ini biasanya diolah dengan cara dikukus bersama jahe dan daun bawang, atau dimasak dalam bentuk kari. Hidangan tersebut dianggap mewah dan sering digunakan untuk menunjukkan status sosial atau kekayaan seseorang, baik saat dikonsumsi sendiri maupun disajikan kepada tamu. Trenggiling dipercaya memiliki manfaat kesehatan, khususnya dalam menjaga fungsi ginjal. Sementara itu, di Afrika, hewan ini dikonsumsi sebagai bagian dari daging hasil buruan.

Permintaan terhadap trenggiling yang kini dianggap sebagai barang mewah kelas atas terus meningkat dan menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidupnya. Namun, secara historis, ancaman terbesar bagi delapan spesies trenggiling di dunia berasal dari kepercayaan bahwa sisiknya—yang tersusun dari keratin, sama seperti kuku manusia dan cula badak—memiliki khasiat penyembuhan. Dalam bahasa Mandarin, nama trenggiling berarti hewan penggali bukit, dan menurut cerita kuno, mengonsumsi hewan ini diyakini dapat memberikan kekuatan untuk menembus penyakit dan memperoleh daya tahan tubuh yang luar biasa.

Dalam edisi Materia Medica China tahun 1957, sisik trenggiling kering—yang bentuknya menyerupai kulit babi—direkomendasikan sebagai obat untuk mengatasi kegelisahan berlebihan dan tangisan tak terkendali pada anak-anak, serta untuk perempuan yang dianggap mengalami gangguan spiritual, seperti kerasukan makhluk halus atau raksasa. Sisik ini juga disebut bermanfaat untuk mengobati demam malaria dan gangguan pendengaran. Sementara itu, pada edisi tahun 1989, penggunaannya diperluas untuk menangani berbagai kondisi kesehatan, termasuk kanker, rematik, asma, gangguan sirkulasi darah dan bahkan jerawat.

Dalam praktik pengobatan tradisional China dan pengobatan herbal di Afrika, janin trenggiling dikonsumsi oleh pria sebagai solusi untuk mengatasi penurunan vitalitas, serta digunakan untuk membantu ibu dalam proses menyusui. Di Afrika, berbagai bagian tubuh trenggiling juga dimanfaatkan sebagai jimat pelindung dan digunakan dalam ritual serta praktik spiritual, termasuk untuk menangkal malaria, mengusir roh jahat, atau memohon turunnya hujan.

Tidak terdapat bukti ilmiah yang mendukung klaim manfaat kesehatan dari penggunaan bagian tubuh trenggiling dalam pengobatan.

Perdagangan trenggiling telah berlangsung selama ratusan tahun. Pada tahun 1820, Raja George III dari Inggris bahkan menerima hadiah berupa baju zirah yang dibuat dari sisik trenggiling. Di era yang lebih modern, khususnya sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an, puluhan ribu kulit trenggiling diperdagangkan secara internasional setiap tahunnya untuk memenuhi permintaan industri mode, terutama dalam pembuatan sepatu dan sepatu bot berbahan kulit trenggiling. Negara-negara seperti Jepang, Meksiko dan Amerika Serikat menjadi pasar utama, dengan Amerika Serikat secara legal mengimpor sekitar 167.000 trenggiling antara tahun 1980 hingga 1985.

Perdagangan kulit trenggiling akhirnya dihentikan setelah para anggota Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah (CITES) menetapkan kuota ekspor nol pada tahun 2000. Kebijakan ini melarang seluruh aktivitas perdagangan komersial terhadap tiga spesies trenggiling Asia yang ditangkap dari alam liar. CITES sendiri merupakan perjanjian internasional yang mengatur perdagangan lintas negara terhadap satwa liar, dan telah disepakati oleh 181 negara.

Meningkatnya Hasrat China terhadap Trenggiling

Larangan terhadap perdagangan trenggiling ternyata tidak cukup efektif untuk menekan pasar di China. Permintaan terhadap hewan ini justru meningkat tajam seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang makmur di negara berpenduduk 1,4 miliar tersebut. Menurut Dan Challender, salah satu ketua Kelompok Spesialis Trenggiling dari IUCN (Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam), pada tahun 1980-an, jumlah trenggiling yang ditangkap bisa mencapai hingga 160.000 ekor setiap tahunnya.

Setelah populasi trenggiling lokal mengalami kepunahan secara komersial, China mulai mengimpor trenggiling Sunda dari wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan. Saat ini, baik trenggiling China (Manis pentadactyla) maupun trenggiling Sunda telah dikategorikan sebagai spesies yang sangat terancam punah.

Spesies trenggiling asal India (Manis crassicaudata) dan Filipina (Manis culionensis) menjadi sasaran berikutnya dalam perdagangan ilegal. Saat ini, kedua spesies tersebut telah masuk dalam kategori spesies yang terancam punah.

“Populasi trenggiling telah mengalami penurunan drastis, dan di banyak wilayah, spesies ini sudah benar-benar punah,” ujar Chris Shepherd, kepala kantor Asia Tenggara dari TRAFFIC, sebuah jaringan internasional yang memantau perdagangan satwa liar.

Ketika spesies trenggiling di Asia mendekati kepunahan, dan hubungan ekonomi antara negara-negara Afrika dan Asia Timur semakin erat, pusat perburuan pun bergeser ke Afrika. Menurut Challender, trenggiling kini diekspor dari Afrika ke China dalam jumlah besar, menyerupai skala industri. Perdagangan lintas benua ini mulai terlihat sekitar enam tahun lalu dan berkembang pesat, dipicu oleh banyaknya proyek pembangunan yang dilakukan China di Afrika. Pada tahun 2013, keempat spesies trenggiling Afrika resmi dimasukkan ke dalam daftar spesies yang terancam punah dengan status rentan.

Trenggiling telah punah secara lokal di sejumlah wilayah Asia dan Afrika, dan seiring dengan semakin langkanya hewan ini, nilai jualnya pun meningkat tajam. Sisik trenggiling yang kini menjadi barang langka dan bernilai tinggi menarik perhatian para pelaku perdagangan ilegal yang sebelumnya berfokus pada gading gajah dan cula badak, ujar Challender. Ia menyebut perkembangan ini sebagai sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.

Tahun lalu, lebih dari enam ton sisik trenggiling asal Afrika berhasil disita di wilayah Asia. Dalam enam bulan pertama tahun 2015, jumlah tersebut meningkat menjadi delapan ton. “Melihat tren peningkatan yang mengkhawatirkan ini, kami menyadari bahwa penyitaan tersebut hanyalah bagian kecil dari jaringan penyelundupan yang jauh lebih besar,” ujar Lisa Hywood, CEO sekaligus pendiri Tikki Hywood Trust, organisasi konservasi dan penyelamatan satwa liar yang berbasis di Zimbabwe. Ia menambahkan bahwa masyarakat akan terkejut jika mengetahui seberapa banyak trenggiling yang diselundupkan secara ilegal dari Afrika. Menurutnya, situasi ini sangat serius.

Jika dihitung, jumlahnya sangat mengejutkan. Untuk menghasilkan enam ton sisik, diperlukan pembantaian sekitar 2.000 ekor trenggiling tanah Temminck (Smutsia temminckii) atau sekitar 1.000 ekor trenggiling perut putih (Phataginus tricuspis).

Trenggiling kini menjadi bagian dari jaringan perdagangan satwa liar ilegal berskala global, yang diperkirakan bernilai sekitar $19 miliar per tahun. Pada bulan Maret 2015, Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Sam Kutesa, menyerukan perlunya respons internasional yang terkoordinasi, dengan menekankan bahwa perdagangan satwa liar menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan global.

Dalam Sidang Majelis Umum PBB pada bulan Maret 2015, Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Jan Eliasson, menyebut bahwa jaringan kriminal terorganisir, kelompok pemberontak dan organisasi teroris turut terlibat dalam perdagangan satwa liar ilegal. Ia menyatakan bahwa praktik ini telah berkembang menjadi bentuk kejahatan lintas negara yang meluas, serupa dengan perdagangan manusia, narkotika dan barang palsu.

Spesies Purba yang Terancam oleh Zaman Modern

Challender mencatat bahwa fosil trenggiling tertua diperkirakan berasal dari sekitar 80 juta tahun yang lalu. Delapan spesies yang masih ada hingga kini termasuk dalam ordo Pholidota, kelompok taksonomi yang secara eksklusif terdiri dari trenggiling. Nama genusnya, Manis, diambil dari kata Latin manes, yang berarti roh orang mati dalam kepercayaan Romawi kuno, merujuk pada kebiasaan trenggiling yang aktif di malam hari dan penampilannya yang unik.

Ketika merasa terancam, trenggiling akan menggulung tubuhnya membentuk bola bersisik yang kaku, dengan sisik-sisik kuat melindungi bagian perutnya yang rentan. Mekanisme pertahanan ini mampu melindunginya bahkan dari predator besar seperti singa dan harimau. Namun, strategi tersebut justru membuat trenggiling mudah ditangkap oleh pemburu liar, karena hanya perlu mengambil hewan yang sudah menggulung dan memasukkannya ke dalam karung.

Pengetahuan ilmiah mengenai perilaku trenggiling, yang merupakan hewan soliter dan aktif di malam hari, masih sangat terbatas. Penelitian terhadap spesies ini belum banyak dilakukan, dan karena populasinya semakin menurun, pengamatan langsung di habitat alami pun menjadi semakin sulit.

Beberapa spesies trenggiling diketahui tidur di lubang pohon, sementara yang lainnya membuat liang di bawah tanah. Mereka biasanya keluar dari tempat persembunyiannya saat malam tiba, mengandalkan penciuman yang tajam untuk mencari makanan favoritnya—semut dan rayap—karena penglihatannya yang kurang baik.

Trenggiling menggunakan tiga cakar panjang dan tajam untuk merobek gundukan atau sarang serangga—cakar yang begitu besar hingga harus diselipkan ke bawah tubuh saat berjalan. Setelah itu, hewan ini memasukkan moncongnya yang ramping ke dalam sarang, seolah sedang menyusu dari tanah, sambil menjilat semut atau rayap menggunakan lidah lengket yang, pada sebagian besar spesies, bahkan lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Untuk melindungi diri, trenggiling memiliki otot khusus yang menutup lubang hidung dan telinga agar tidak dimasuki semut, sisik kerasnya melindungi dari gigitan, dan kerikil di dalam perutnya berfungsi seperti gigi untuk menggiling makanan.

Kebiasaan trenggiling dalam mencari makan menjadikannya sebagai penjaga lingkungan alami sekaligus insinyur ekosistem. Dengan menggali tanah dan membuat lubang, menciptakan tempat tinggal yang kemudian dimanfaatkan oleh berbagai spesies lain, sehingga turut meningkatkan keanekaragaman hayati di sekitarnya. Selain itu, trenggiling juga berperan dalam pengendalian hama dengan memangsa jutaan serangga setiap tahun, menjaga populasi serangga sosial tetap seimbang.

Cara Mengasuh Trenggiling

Meskipun memiliki penampilan seperti bersenjata dan sifat yang tertutup, trenggiling ternyata merupakan induk yang sangat perhatian. Induk trenggiling akan melingkarkan tubuhnya untuk melindungi atau menyusui anaknya, serta menidurkannya dengan penuh kasih. Biasanya, hanya melahirkan satu anak dan membawanya di punggung atau ekor selama sekitar tiga bulan pertama. Pada masa itu, para peneliti meyakini bahwa anak trenggiling mulai mencoba memakan semut, telur semut dan beberapa rayap. Anak tersebut kemungkinan masih menyusu selama lima hingga enam bulan, sambil belajar keterampilan penting seperti menemukan dan menggali sarang semut dan rayap.

Menurut Hywood, induk trenggiling menjadi kurang gesit saat merawat anaknya, sehingga lebih mudah menjadi target perburuan liar. Bagi spesies dengan tingkat reproduksi yang rendah, hilangnya betina dewasa yang masih bisa berkembang biak akibat perdagangan ilegal semakin memperburuk ancaman terhadap kelangsungan hidupnya.

Hywood memiliki pengalaman langsung dalam merawat trenggiling. Organisasi nirlaba miliknya telah menangani lebih dari 50 kasus trenggiling tanah Temminck yang disita dalam kondisi sakit, terluka atau yatim piatu dan membutuhkan perawatan intensif. Tujuan utama dari upaya ini adalah untuk membesarkan atau merehabilitasi hewan-hewan tersebut hingga siap dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya.

“Karena itu, menjadi tanggung jawab kita untuk mengajarkan trenggiling cara bertahan hidup sebagai trenggiling,” ujar Hywood. Bayi trenggiling perlu disusui dengan botol dan dilatih untuk hidup mandiri. “Anda tidak bisa melepasliarkan trenggiling tanpa keterampilan bertahan hidup yang memadai,” katanya, “atau melepaskan yang masih terlalu kecil, karena bisa menjadi mangsa singa, elang atau predator lainnya.” Dalam proses rehabilitasi, seorang pengasuh manusia berperan sebagai induk pengganti, rutin mengajak trenggiling berjalan-jalan, mengenalkannya pada berbagai jenis semut dan rayap, serta membimbingnya ke sarang. Pengasuh juga menggunakan alat khusus yang meniru bentuk cakar trenggiling untuk melatih anak trenggiling menggali makanannya sendiri.

Menurut Hywood, mengajarkan trenggiling muda bahwa semut adalah sumber makanannya merupakan proses yang sangat lambat dan membutuhkan banyak tenaga. Ketika Champ, trenggiling yatim piatu pertama yang dirawat di pusat rehabilitasi, tiba, diberi susu formula khusus melalui botol selama tiga bulan pertama. Namun, saat waktunya disapih, para peneliti kesulitan membuatnya mau makan semut atau rayap—dan tidak tahu penyebabnya. “Aneh sekali, sebagian besar trenggiling muda tampaknya justru tidak suka semut. Mereka akan mencakar semut yang merayap di tubuhnya dan langsung kabur,” kata Hywood. “Tapi kemudian, seolah-olah ada momen pencerahan—tiba-tiba sadar, ‘Hei, aku suka semut,’ dan sejak itu tidak bisa berhenti memakannya.”

Setelah trenggiling muda mampu makan sendiri dan mencapai berat minimal 6 kilogram, dilepasliarkan ke alam. Sebelum itu, hewan-hewan ini dipasangi alat pelacak dan terus dipantau melalui sinyal radio hingga Hywood yakin bahwa benar-benar siap untuk hidup mandiri dan berkembang biak di habitat aslinya.

Menariknya, trenggiling muda tetap menjalin ikatan dengan pengasuh manusianya meskipun telah dilepasliarkan. “Banyak orang lupa bahwa trenggiling adalah mamalia,” ujar Hywood. “Memiliki ikatan emosional yang kuat, dan baru-baru ini saya dikenali oleh seekor trenggiling betina dewasa yang pernah saya lepas enam bulan sebelumnya. Saat mulai terbentuk ikatan, trenggiling muda sering kali berdiri di kaki Anda, seolah meminta untuk digendong,” tambahnya.

Menyelamatkan Mamalia yang Paling Banyak Diperdagangkan

Trenggiling merupakan salah satu mamalia liar yang paling banyak diperdagangkan di dunia, namun sering kali terabaikan dalam upaya konservasi. Hingga kini, hanya sedikit organisasi yang benar-benar menyadari besarnya ancaman terhadap spesies ini. TRAFFIC adalah salah satu dari sedikit lembaga yang sejak awal menyoroti isu ini, bahkan menyebutnya sebagai krisis kepunahan yang terlupakan di Asia.

Perhatian terhadap konservasi trenggiling meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2012, Kelompok Spesialis Trenggiling dari Komisi Spesies IUCN dibentuk kembali. Setahun kemudian, kelompok ini menyelenggarakan konferensi konservasi global pertama yang secara khusus membahas trenggiling, dan pada tahun berikutnya meluncurkan rencana aksi global untuk pelestarian spesies ini. Dalam pertemuan CITES tahun 2014, perdagangan ilegal trenggiling diakui meningkat secara mengkhawatirkan, sehingga dibentuklah kelompok kerja khusus yang aktif sepanjang tahun. Pada tahun yang sama, US Fish & Wildlife Service (USFWS) menetapkan trenggiling sebagai salah satu prioritas utama dalam upaya konservasi.

Menurut Challender, semakin banyak organisasi konservasi yang mulai terlibat dalam upaya pelestarian trenggiling. Spesies ini kini mulai mendapatkan perhatian yang sebelumnya lebih banyak tertuju pada hewan-hewan karismatik seperti gajah, badak dan harimau.

Pada bulan Juni 2015, perwakilan dari 31 negara di Afrika dan Asia yang menjadi habitat trenggiling, bersama delegasi dari Amerika Serikat, berkumpul untuk pertama kalinya guna mendorong kerja sama dalam upaya pelestarian trenggiling. Pertemuan ini diselenggarakan di Da Nang melalui kolaborasi antara pemerintah Vietnam dan Amerika Serikat, serta diorganisir oleh Humane Society International. Acara tersebut mempertemukan berbagai lembaga perlindungan satwa liar, aparat penegak hukum nasional, organisasi konservasi dan para ahli terkemuka dari seluruh dunia.

Negara-negara di Afrika Barat, Tengah dan Selatan menunjukkan komitmen untuk bekerja sama dengan negara-negara Asia dalam upaya pelestarian trenggiling. “Ada kesadaran bahwa kolaborasi antarnegara jauh lebih kuat dibandingkan jika satu negara bertindak sendiri—karena kita membutuhkan kerja sama antara negara pengekspor dan pengimpor untuk menemukan solusi,” ujar Rosemarie Gnam, Kepala Divisi Urusan Ilmiah di US Fish & Wildlife Service (USFWS). “Kerja sama global sangat penting dalam isu ini,” tambahnya.

Sebuah komite ilmiah yang dipimpin oleh Gnam menyimpulkan bahwa seluruh delapan spesies trenggiling berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan, sehingga direkomendasikan untuk dimasukkan ke dalam Lampiran I CITES—kategori perlindungan tertinggi dalam peraturan perdagangan internasional. Untuk menerapkan rekomendasi ini, diperlukan pemungutan suara dalam pertemuan CITES yang dijadwalkan pada tahun 2016.

Chris Shepherd dari TRAFFIC menyatakan bahwa kebijakan nol ekspor yang saat ini diterapkan terhadap keempat spesies trenggiling Asia ternyata belum efektif. Ia menegaskan bahwa perdagangan ilegal masih terus berlangsung, menunjukkan bahwa larangan tersebut belum memberikan efek jera.

Pencantuman trenggiling ke dalam Lampiran I akan meningkatkan perhatian terhadap upaya konservasi, termasuk membuka peluang pendanaan yang lebih besar. Selain itu, langkah ini akan melarang seluruh bentuk perdagangan komersial, yang menurut Shepherd merupakan langkah penting.

“Saya tidak tahu persis berapa banyak dana yang telah dialokasikan untuk konservasi trenggiling, tetapi yang jelas jumlahnya masih jauh dari cukup,” ujar Hywood. “Hanya sedikit anggaran yang tersedia untuk penelitian mendalam mengenai spesies ini di alam liar, maupun untuk memahami dampak dari perdagangannya. Selain itu, dukungan dana untuk penegakan hukum juga masih sangat minim.”

Masuknya ke dalam daftar hitam akan mendorong penegakan hukum menjadi fokus utama. Meskipun sebagian besar negara telah memiliki regulasi yang melarang perburuan trenggiling, keterbatasan jumlah petugas dan minimnya anggaran membuat pelaksanaannya tidak efektif, sementara perdagangan ilegal terus berkembang dan membebani sistem. Bagi para pemburu liar yang tinggal di wilayah pedesaan miskin, tawaran uang cepat sangat menggiurkan. Shepherd menyatakan bahwa hukuman harus mampu memberikan efek jera, dan sebelum hal ini tercapai, aktivitas perdagangan akan terus berlangsung.

Pada tahun 2012, Zimbabwe mengesahkan peraturan perlindungan satwa liar yang mencakup salah satu ketentuan paling ketat terkait perburuan trenggiling di dunia. Hanya dalam tahun ini, aparat penegak hukum Zimbabwe telah menangkap dan menjatuhkan hukuman kepada 16 pelaku perburuan trenggiling, dengan masing-masing menerima hukuman penjara maksimal sembilan tahun, dan salah satu di antaranya dikenai denda sebesar $5.000.

Beberapa tahun yang lalu, isu kejahatan lingkungan masih dianggap kurang penting oleh sebagian besar pemerintah di dunia. Namun, Achim Steiner selaku kepala Program Lingkungan PBB, bersama John E. Scanlon dari CITES dan Helen Clark dari Program Pembangunan PBB, menyerukan agar penanganan kejahatan lingkungan menjadi agenda utama. Kini, pelanggaran terhadap satwa liar telah menjadi sorotan serius di tingkat internasional, termasuk oleh Dewan Keamanan PBB, Majelis Umum dan berbagai lembaga PBB lainnya.

Challender menekankan bahwa meskipun keberadaan hukum yang tegas dan penegakannya sangat penting, upaya untuk menekan permintaan juga memegang peranan vital. “Jika tidak dilakukan, trenggiling Asia dan Afrika berisiko punah, dengan penyebab utama berasal dari tingginya permintaan terhadap daging dan sisiknya—khususnya dari China,” ujarnya.

Trenggiling memiliki laju reproduksi yang lambat dan sulit bertahan hidup dalam lingkungan penangkaran, sehingga tidak mungkin memenuhi kebutuhan pasar melalui budidaya komersial. Bahkan jika hal tersebut dapat dilakukan, peningkatan pasokan justru cenderung mendorong lonjakan permintaan, yang pada akhirnya memperbesar ancaman terhadap populasi trenggiling di alam liar.

WildAid, sebuah organisasi konservasi yang berbasis di San Francisco, menginisiasi kampanye untuk menekan tingkat permintaan, dengan menggandeng 100 mitra media di China dan Vietnam. Tujuan kampanye ini adalah untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai ancaman terhadap kelangsungan hidup trenggiling serta konsekuensi dari konsumsi daging dan sisik hewan tersebut.

Menurut Shepherd, kesadaran global terhadap ancaman yang dihadapi trenggiling semakin meningkat, dan saat ini kita masih memiliki peluang untuk mencegah agar trenggiling Afrika tidak mengalami kepunahan parah seperti yang terjadi di Asia. Sangat disayangkan jika tidak ada langkah nyata yang diambil untuk menjaga kelestariannya.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *