Dampak Tak Terhindarkan: Krisis Kelapa Sawit yang Memburuk

kepulan asap kawasan hutan

Pada bulan Agustus 2014, puluhan kepulan asap terlihat membubung dari kawasan hutan dan perkebunan yang rimbun. Beberapa di antaranya membentang lebih dari setengah kilometer lebar, menjulang menyerupai tiang-tiang asap ke langit. Dalam pekan itu saja, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 143 titik kebakaran hutan baru di Provinsi Riau. Sebagian besar insiden ini berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan, khususnya untuk penebangan dan budidaya kelapa sawit.

Minyak kelapa sawit banyak muncul dalam produk makanan, kosmetik, dan bahan bakar nabati, serta menimbulkan persoalan lingkungan. Komoditas ini menyebabkan deforestasi yang merusak ekosistem alami dan mempercepat laju perubahan iklim. Kolam limbah pabrik kelapa sawit menghasilkan emisi metana besar. Gas rumah kaca ini 34 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida.

Masyarakat sulit menemukan solusi terhadap dampak lingkungan yang muncul dari produksi minyak kelapa sawit. Luasnya penggunaan minyak tersebut dalam berbagai produk memperumit pencarian solusi. Alternatif yang tersedia saat ini belum menandingi kegunaan minyak kelapa sawit. Meski begitu, jalan menuju solusi tetap terbuka dan memungkinkan untuk ditemukan.

Kebakaran di Bawah Permukaan

Dampak iklim paling signifikan dari produksi minyak kelapa sawit tampak jelas pada lahan gambut yang terbakar di bawah kawasan hutan. Proses konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit sering melibatkan pembakaran lahan. Sebagian besar kebakaran besar di Provinsi Riau terjadi di wilayah gambut. Lapisan gambut terbentuk dari tumbuhan setengah membusuk dan dapat mencapai kedalaman 20 meter di bawah permukaan hutan.

Lahan gambut menyimpan karbon hingga 28 kali lebih banyak dibandingkan hutan hujan di tanah mineral. Kandungan karbon yang sangat tinggi membuat gambut berpotensi berubah menjadi batubara jika terkubur jutaan tahun, terkena tekanan, panas, dan waktu. Konversi hutan hujan gambut menjadi perkebunan melepaskan 6.000 ton karbon dioksida per hektare ke atmosfer. Studi tahun 2012 menunjukkan 70% emisi karbon dari alih fungsi hutan hujan Sumatra berasal dari lahan gambut. Emisi itu meningkat 75% dibanding kontribusinya pada 1990-an, sehingga ekspansi kelapa sawit semakin mengarah ke kawasan gambut.

Masalah bukan hanya emisi karbon dioksida. Pada 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta maaf kepada Singapura dan Malaysia akibat asap pekat kebakaran hutan Sumatra. Kabut asap membuat puluhan ribu orang sakit, rumah sakit kewalahan, dan pemerintah menutup sekolah. Untuk mengatasi kebakaran gambut, pesawat menyemai 100 ton garam ke awan agar hujan memadamkan api.

Rasa Malu

Enam bulan setelah kebakaran sebelumnya, api kembali melanda hutan dan pengguna Twitter mengunggah lebih dari 9.000 pesan kepada kantor presiden. Presiden mengungkapkan rasa malu atas kejadian tersebut saat melakukan kunjungan darurat ke Riau. Sekitar 50.000 penduduk Sumatra mencari perawatan medis akibat asap yang merusak paru-paru, mata, dan kulit mereka. Pesawat kembali menyemai awan untuk menurunkan hujan dan mengatasi kebakaran.

Kebakaran tersebut menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan turut menghancurkan habitat satwa langka seperti gajah, badak, harimau dan orangutan. Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa pada tahun 2020 populasi orangutan liar di luar kawasan lindung akan lenyap. Sementara itu, tingkat kerusakan habitat terus berlangsung. International Union for Conservation of Nature memprediksi gajah Sumatra menghadapi kepunahan dalam 30 tahun.

Laporan IUCN tahun 2013 menegaskan perlunya langkah nyata dan segera di lapangan untuk mencegah kepunahan gajah Sumatra. Laporan tersebut memberi perhatian khusus pada wilayah Riau.

Menjadi Serius

Sebelumnya, Indonesia dan komunitas global hanya memberi perhatian simbolis pada upaya menghentikan industri kelapa sawit. Industri ini menyebabkan kerusakan hutan dan memperburuk perubahan iklim. Namun belakangan ini, komitmen untuk menangani masalah tersebut mulai menunjukkan keseriusan.

Pada tahun 2010, Norwegia berkomitmen memberikan dana sebesar $1 miliar untuk mendukung pelestarian hutan. Setahun setelahnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menargetkan penurunan emisi 41% pada 2020 dengan dukungan internasional. Pada Agustus 2014, Singapura memberlakukan denda hingga $2 juta bagi perusahaan penyebab kabut asap kebakaran. Bulan berikutnya, Indonesia akhirnya meratifikasi perjanjian ASEAN untuk mengatasi asap lintas batas setelah penundaan bertahun-tahun. Tak lama berselang, dalam Climate Summit PBB, 150 perusahaan besar berkomitmen mengurangi deforestasi global setengahnya pada 2020 dan menghentikannya pada 2030.

Beberapa hari setelah menjabat pada Oktober 2014, Presiden Joko Widodo mengusulkan penyatuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan. Reformasi ini mendukung pencapaian target ambisius menjaga hutan dan menurunkan emisi. Kementerian Lingkungan Hidup berperan dalam negosiasi dengan PBB dan menetapkan strategi pemenuhan komitmen emisi nasional. Pemerintah memberi kementerian tersebut kewenangan mengelola hutan dan lahan gambut. Namun, Kementerian Kehutanan memiliki pengaruh besar dan sikap protektif terhadap wilayahnya. Lembaga itu mungkin mengambil alih sebagian peran Kementerian Lingkungan Hidup.

Ketua Greenpeace Indonesia, Longgena Ginting, menyampaikan bahwa penyatuan kewenangan eksploitasi dan pelestarian belum tentu menghasilkan keputusan adil. Keputusan tersebut juga belum tentu seimbang bagi semua pihak.

Ledakan Minyak Kelapa Sawit

Pada akhirnya, regulasi, kesepakatan internasional, lembaga negara, dan insentif ekonomi tidak memberikan dampak signifikan. Dampak nyata hanya muncul jika metode produksi dan pola konsumsi minyak kelapa sawit berubah mendalam. Sayangnya, pilihan alternatif yang sebanding dengan minyak kelapa sawit masih sangat terbatas.

Alan Townsend, Dekan Nicholas School of the Environment di Duke University, menekankan bahwa masyarakat tidak bisa mengabaikan manfaat minyak kelapa sawit. Ia menjelaskan bahwa kelapa sawit merupakan salah satu tanaman dengan tingkat produktivitas tertinggi di dunia dan mampu tumbuh di berbagai wilayah. Selain itu, keuntungan ekonominya yang tinggi, kegunaannya yang sangat beragam serta minimnya alternatif yang secara ekonomi sebanding membuat pertumbuhan industri kelapa sawit berlangsung dengan sangat cepat.

Pada tahun 2013, dunia mengonsumsi 55 juta metrik ton minyak kelapa sawit—hampir empat kali lipat dari dua dekade sebelumnya. Indonesia dan Malaysia menyuplai sekitar 85% dari kebutuhan minyak nabati yang paling banyak di dunia. Pada tahun 1985, Indonesia mencatat luas perkebunan kelapa sawit kurang dari 4.000 kilometer persegi. Dua puluh tahun kemudian, Indonesia meningkatkan luasnya menjadi 35.000 kilometer persegi, dan pemerintah memproyeksikan area tersebut akan meluas hingga sedikitnya 150.000 kilometer persegi pada tahun 2025.

Sebuah studi yang terbit dalam jurnal Nature Climate Change menyatakan bahwa pada tahun 2012 Indonesia mengalami tingkat deforestasi hampir dua kali lipat lebih tinggi dari Brasil. Sebelumnya, dunia mengenal Brasil sebagai negara dengan laju kehilangan hutan tercepat.

Lonjakan pesat dalam perluasan perkebunan kelapa sawit pada dasarnya merupakan dampak tak terduga dari kebijakan serta dinamika ekonomi, pangan dan energi di berbagai belahan dunia.

Lemak Trans

Pada tahun 2006, produsen makanan di Amerika Serikat mulai mencantumkan kandungan “lemak trans” pada label sesuai peraturan dari Food and Drug Administration. Para peneliti menyatakan bahwa zat tersebut meningkatkan risiko penyakit jantung. Kebijakan ini mendorong lonjakan penggunaan minyak tropis non-lemak trans, terutama minyak kelapa sawit. Tokoh televisi Dr. Mehmet Oz turut mendukung tren ini dengan mempromosikan manfaat minyak kelapa sawit bagi kesehatan jantung dan otak, yang berkontribusi pada kenaikan konsumsi minyak tersebut hingga enam kali lipat di AS sejak tahun 2000.

Di Eropa, keengganan masyarakat terhadap makanan hasil rekayasa genetika turut mendorong penggunaan kelapa sawit, yang ketersediaannya sangat melimpah sehingga jarang menjadi objek modifikasi genetik. Sementara itu, kelas menengah di China dan India terus meningkatkan permintaan terhadap minyak makan berkualitas, dan minyak kelapa sawit saat ini memenuhi permintaan tersebut.

Pilihan bahan bakar kendaraan juga memengaruhi lonjakan ini. Minat yang semakin besar terhadap biofuel telah menggantikan dampak lingkungan dari minyak mentah dengan dampak negatif baru yang muncul akibat produksi kelapa sawit, terutama terhadap hutan tropis dan perubahan iklim.

Dampak negatif dari produksi minyak kelapa sawit, seperti deforestasi dan kerusakan ekosistem alami, telah mendorong sebagian konsumen untuk melakukan boikot. Ironisnya, langkah ini justru memicu peningkatan permintaan terhadap tanaman penghasil minyak lain yang ternyata lebih berbahaya bagi hutan dan lingkungan.

Menurut Rhett Butler, pendiri situs Mongabay yang berfokus pada pelaporan dan riset tentang hutan hujan, saat ini belum ada pilihan yang sebanding untuk menggantikan minyak kelapa sawit. Ia menjelaskan bahwa jika tujuan utamanya adalah memenuhi permintaan global terhadap minyak nabati yang terus meningkat, maka minyak kelapa sawit merupakan pilihan paling efisien karena mampu menghasilkan jumlah minyak terbanyak dari luas lahan yang terbatas. Sebaliknya, jika menggunakan tanaman seperti kelapa atau rapeseed, petani membutuhkan area yang jauh lebih luas untuk mencapai hasil yang sama.

Alternatif yang Menjanjikan

Meski saat ini minyak kelapa sawit masih menjadi pilihan utama, situasinya bisa berubah seiring meningkatnya kebutuhan akan opsi lain. Bahkan, ada satu alternatif menjanjikan yang menarik karena tidak memerlukan lahan untuk diproduksi sama sekali.

Perusahaan asal California bernama Solazyme memanfaatkan mikroalga untuk menghasilkan minyak dan menggunakan minyak tersebut sebagai bahan bakar biodiesel, termasuk untuk pesawat United Airlines dan kapal milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Seiring waktu, perusahaan ini memperluas produksi ke sektor sabun, kosmetik, dan makanan, karena produk-produk tersebut menawarkan keuntungan lebih besar dari bahan bakar. Pada tahun lalu, raksasa produk konsumen Unilever mengumumkan rencananya untuk menggantikan minyak kelapa sawit dengan 3 juta galon minyak alga dari Solazyme sebagai bagian dari upaya mereka mengurangi dampak terhadap lingkungan.

“Bayangkan seperti memproduksi bir,” ujar Jill Kauffman Johnson, Direktur Keberlanjutan Perusahaan, saat menjelaskan cara Solazyme membudidayakan alga dalam wadah khusus. Ia menambahkan bahwa salah satu fasilitas perusahaan di Illinois bahkan berlokasi di bekas pabrik bir Pabst Blue Ribbon.

“Kami mampu memproduksi minyak tinggi oleat yang baik untuk kesehatan jantung. Keesokan harinya, dengan memasukkan strain yang berbeda, kami bisa menciptakan pilihan yang berkelanjutan sebagai pengganti minyak kelapa sawit atau minyak inti sawit. Jenis minyak ini memiliki kandungan lemak tak jenuh ganda paling rendah di antara semua minyak yang tersedia di pasaran, bebas lemak trans dan dapat tumbuh dalam hitungan hari, bukan berbulan-bulan seperti tanaman di ladang.”

Ragam Mikroalga

Keragaman jenis mikroalga membuatnya menjadi alternatif yang menjanjikan untuk menggantikan kelapa sawit sebagai sumber produksi minyak.

Kauffman Johnson menyampaikan bahwa tujuan utamanya adalah membantu mengurangi tekanan terhadap wilayah tropis di sekitar khatulistiwa. Karena Solazyme dapat membudidayakan alga di mana saja selama tersedia tangki, perusahaan ini mendirikan fasilitas produksi di lokasi strategis yang dekat dengan pelanggan, mitra, dan sumber bahan baku. Langkah tersebut membuat rantai pasokan lebih efisien. Selain itu, penggunaan bahan baku selulosa seperti rumput liar turut mengurangi dampak terhadap lingkungan. Baru-baru ini, Solazyme membangun pabrik baru di Brasil dengan kapasitas 100.000 metrik ton yang memanfaatkan tebu sebagai bahan baku utama.

Kauffman Johnson menyatakan bahwa teknologi yang mereka kembangkan mampu beradaptasi dan berkembang pesat.

Namun, konsumen masih menunjukkan minat yang rendah dan kondisi ekonomi di sektor pertanian masih bergerak lambat dalam mengadopsi minyak berbasis alga. Akibatnya, masyarakat membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum minyak ini mampu menggantikan sebagian kecil dari dominasi minyak kelapa sawit yang sangat melimpah.

Memperbaiki Kelapa Sawit

Menurut Butler, cara yang lebih cepat untuk mengatasi permasalahan yang ada adalah dengan melakukan perbaikan dan reformasi dalam industri kelapa sawit ini sendiri.

Ia menyatakan bahwa perusahaan dapat berperan dalam mendukung kebijakan dan praktik terbaik yang mencegah konversi hutan untuk keperluan lain. Ia juga menambahkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir telah terjadi lonjakan komitmen dari para pembeli dan produsen untuk menerapkan kebijakan tanpa deforestasi.

Philip Taylor, peneliti pascadoktoral di Institute of Arctic, University of Colorado, dan lembaga Alpine Research, bekerja bersama Townsend dan telah melakukan banyak studi di kawasan tropis. Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar perkebunan kelapa sawit belum mencapai potensi hasil panen maksimal yang seharusnya mereka hasilkan.

Ia menjelaskan bahwa hasil yang saat ini mereka peroleh berbeda secara signifikan dengan potensi hasil maksimal yang bisa mereka capai. Saat ini, rata-rata produksi tandan buah segar di Malaysia dan Indonesia mencapai sekitar 18 ton perhektare, sementara di wilayah dengan pengelolaan terbaik, hasilnya bisa mencapai 30 ton perhektare.

Taylor mencatat bahwa produksi buah kelapa sawit tidak mengalami peningkatan berarti sejak tahun 1975. Sementara itu, selama periode yang sama, produktivitas tanaman kedelai justru meningkat hampir dua kali lipat.

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar faktor penentu keberhasilan berasal dari pengetahuan—seperti penggunaan benih yang sesuai di lokasi yang tepat, serta pemberian pupuk secara akurat pada waktu yang optimal.

Transfer Pengetahuan

Pemberian insentif mendorong transfer pengetahuan dan meningkatkan produktivitas para produsen kelapa sawit. Para produsen memanfaatkan tiap hektare lahan secara maksimal. Namun, laporan Recipes for Success dari Union of Concerned Scientists memperingatkan bahwa peningkatan keuntungan yang menyertai hasil panen lebih tinggi justru berpotensi mendorong ekspansi perkebunan. Selain itu, menurut peneliti dari Inggris dan Singapura dalam esai di jurnal Science, peningkatan produktivitas dan varietas kelapa sawit yang tahan terhadap kondisi lingkungan sulit bisa membuat wilayah di Afrika dan Amerika Latin—yang belum banyak tersentuh budidaya kelapa sawit seperti di Asia Tenggara—berisiko dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan. Oleh karena itu, peningkatan produksi harus dibarengi dengan perlindungan hutan yang lebih ketat.

Meskipun Indonesia telah memberlakukan moratorium penggundulan hutan sejak 2011, pelaksanaannya masih menghadapi banyak celah hukum. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) telah mulai memberikan sertifikasi kepada produk minyak kelapa sawit yang memenuhi standar lingkungan sejak satu dekade lalu, namun sebagian besar anggotanya masih melakukan penebangan hutan. Meski demikian, komitmen dari pemerintah, produsen, dan perusahaan pengguna minyak untuk menghentikan deforestasi menunjukkan adanya kemajuan dalam upaya perlindungan lingkungan.

Taylor menekankan pentingnya menerapkan moratorium terhadap aktivitas penggundulan hutan. Ia juga menggarisbawahi bahwa komitmen baru dari perusahaan-perusahaan besar seperti Wilmar dan Golden Agri untuk menghentikan praktik tersebut merupakan kemajuan penting dalam arah yang positif. “Keduanya memiliki peran besar dalam industri kelapa sawit,” ujarnya.

Rantai Produksi

Di sisi lain rantai produksi, Taylor menyoroti peluang yang lebih mudah dijangkau untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri minyak kelapa sawit. Berdasarkan hasil penelitian bersama Townsend, menemukan bahwa gas metana yang dilepaskan dari kilang minyak kelapa sawit menyumbang lebih dari sepertiga emisi industri tersebut terhadap perubahan iklim. Bahkan, satu kolam limbah dari kilang dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca setara dengan emisi tahunan dari 22.000 mobil. Metana ini sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik dengan cara menutup kolam dan memasang generator biogas di dekatnya. Jika lebih dari 1.000 kilang di seluruh dunia menerapkan metode ini, dampak iklimnya bisa ditekan hingga 34 kali lebih rendah. Sayangnya, baru sekitar 5% dari fasilitas yang telah melaksanakannya.

Di Indonesia, fasilitas pengolahan kelapa sawit sudah memanfaatkan limbah padat dari buah kelapa sawit untuk menghasilkan energi listrik secara mandiri. Karena umumnya berlokasi di daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik nasional, fasilitas ini belum memiliki kebijakan maupun infrastruktur untuk menyuplai listrik ke jaringan tersebut. Namun demikian, memiliki potensi untuk mendistribusikan listrik ke desa-desa yang berada di sekitar area pabrik.

Taylor menyebut bahwa inisiatif semacam ini telah dijalankan oleh perusahaan New Britain Palm dan Musim Mas.

Sawit Berkelanjutan

Program Kelapa Sawit Berkelanjutan menetapkan bahwa perusahaan-perusahaan kelapa sawit harus mulai menerapkan teknologi penangkapan biogas. Langkah ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak perusahaan untuk segera mengadopsi teknologi tersebut.

Ratusan kendaraan yang menjadi bagian dari rantai distribusi kelapa sawit di Indonesia berpotensi menggunakan bahan bakar gas alam cair, yang tengah berkembang pesat sebagai bahan bakar transportasi di sejumlah negara Asia. Di Provinsi Riau, truk-truk kuning cerah yang mengangkut buah kelapa sawit merah marun tampak mendominasi jalanan sepanjang waktu. Jika kendaraan-kendaraan ini beralih ke gas alam cair, hal tersebut tak hanya akan menghadirkan sumber energi yang murah dan mudah diakses, tetapi juga memberi peluang tambahan pendapatan bagi para pengolah sawit serta mengurangi dampak terhadap iklim.

Visited 8 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *