Kementerian Perhubungan menyatakan tim penyelam berhasil menemukan kotak hitam yang merekam data penerbangan. Pesawat AirAsia itu mengalami kecelakaan di Laut Jawa dua pekan lalu. Kecelakaan menimpa pesawat yang membawa 162 penumpang.
Meskipun telah ketemu, tim belum dapat mengangkat kotak hitam itu dari dasar laut karena terjepit di bawah reruntuhan badan pesawat.
Juru bicara kementerian mengatakan penyelam Angkatan Laut di kapal Jadayat berhasil menemukan kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501. Ia menambahkan bahwa tim menemukan alat perekam itu pada kedalaman sekitar 30 hingga 32 meter di bawah permukaan laut.
Pada hari Senin, para penyelam berencana untuk memindahkan puing-puing guna mencapai kotak hitam. Juru bicara mengatakan jika usaha itu gagal, tim akan mengangkatnya menggunakan metode balon. Tim sebelumnya memakai teknik ini untuk mengangkat bagian ekor pesawat.
Setelah dua minggu pencarian yang penuh tantangan karena cuaca buruk, tim pencari tetap bekerja. Pada hari Minggu, tim mendeteksi sinyal ping yang kuat dari dasar laut. Sinyal itu terdeteksi kurang dari satu kilometer dari lokasi penemuan bagian ekor pesawat.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mengatakan badai menyebabkan kondisi cuaca buruk. BMKG menduga kondisi itu menjadi faktor utama jatuhnya Airbus A320-200 rute Surabaya-Singapura pada 28 Desember 2014.
Meski begitu, penyidik sulit memastikan penyebab kecelakaan tanpa kotak hitam yang merekam percakapan pilot dan data penerbangan.
SB Supriyadi, Direktur Badan SAR Nasional, mengatakan tim menemukan objek yang merupakan bagian utama pesawat di sekitar lokasi sinyal.
Hingga saat ini, upaya pencarian yang melibatkan kapal-kapal angkatan laut dari Amerika Serikat, China dan sejumlah negara lainnya telah berhasil menemukan 48 jenazah.
Supriyadi menyebutkan bahwa sejumlah jenazah kemungkinan besar masih berada di dalam kabin, sehingga upaya untuk mencapai bagian reruntuhan tersebut menjadi fokus utama dalam proses evakuasi.
Ekor Pesawat
Tim mengangkat bagian ekor pesawat yang menampilkan logo merah AirAsia dari laut pada hari Sabtu dengan bantuan balon besar dan derek. Pada hari Minggu, mereka mengangkut bagian itu menggunakan kapal tunda ke pelabuhan dekat pusat operasi pencarian di Pangkalan Bun, Kalimantan.
Mayoritas penumpang, kecuali tujuh orang, merupakan warga negara Indonesia. Pihak berwenang menyampaikan bahwa jenazah pasangan asal Korea Selatan telah berhasil diidentifikasi pada hari Minggu, namun bayinya yang berusia 11 bulan masih belum ditemukan.
Penumpang asing lainnya terdiri dari satu warga Singapura, satu warga Malaysia, satu warga Inggris serta satu warga Prancis yang merupakan kopilot bernama Remi Plesel. Hingga kini, jenazahnya masih belum berhasil ditemukan.
Walaupun penyebab insiden ini masih belum terungkap, tragedi tersebut kembali menyoroti kondisi industri penerbangan Indonesia yang dinilai bermasalah dan memicu pengawasan lebih lanjut.
Pemerintah menyatakan bahwa AirAsia tidak memiliki izin resmi untuk mengoperasikan penerbangan pada rute tersebut saat kecelakaan terjadi, meskipun pihak maskapai membantah tuduhan tersebut.
Kementerian Perhubungan langsung memberlakukan larangan bagi AirAsia untuk mengoperasikan rute Surabaya-Singapura. Selain itu, pada hari Jumat, kementerian juga menangguhkan puluhan rute penerbangan milik lima maskapai domestik lainnya akibat pelanggaran terkait perizinan.