Kecelakaan pesawat angkut militer yang terjadi di kawasan permukiman Kota Medan diperkirakan telah merenggut nyawa lebih dari 100 orang.
Pesawat Hercules C-130 menghantam dua rumah dan sebuah hotel sebelum akhirnya terbakar hebat, menimbulkan ledakan api besar.
Agus Supriatna, Kepala Staf Angkatan Udara, mendatangi lokasi jatuhnya pesawat dan menyampaikan kepada para wartawan bahwa meyakini seluruh dari 113 penumpang di dalam pesawat tidak ada yang berhasil selamat.
Hingga saat ini, jumlah jenazah yang berhasil ditemukan telah mencapai sedikitnya 66 orang.
Proses evakuasi berskala besar tengah dilakukan di area kejadian yang diselimuti kobaran api dan asap hitam pekat.
Menurut Alice Budisatrijo dari BBC, satu-satunya bagian pesawat yang masih terlihat jelas adalah bagian ekornya, sementara seluruh bagian lainnya telah hancur menjadi serpihan.
Dilaporkan bahwa sejumlah orang masih terperangkap di dalam bangunan yang runtuh, sementara rumah sakit terdekat terus menerima jenazah yang dikirim dari lokasi kejadian.
Sebagian besar penumpang diduga merupakan anggota keluarga dari para prajurit, baik laki-laki maupun perempuan.
Saat ini masih terlalu awal untuk memastikan jumlah korban jiwa dalam tragedi tersebut, maupun mengidentifikasi penyebab pasti dari kejadian ini.

Sejumlah besar warga berkumpul untuk menyaksikan tim penyelamat berupaya mencari korban di antara puing-puing yang masih dilalap api.
Masalah mulai terjadi pada pesawat ini sesaat setelah melakukan lepas landas.
Seorang saksi mata menyampaikan bahwa pesawat tersebut terbang berulang kali di atasnya dengan ketinggian yang sangat rendah.
“Terdapat kobaran api dan asap hitam pekat. Pada lintasan ketiga, pesawat ini menghantam atap hotel dan seketika meledak.”
Agus menyampaikan bahwa sang pilot sempat mengajukan permintaan untuk kembali ke pangkalan akibat mengalami gangguan teknis.
Ia menjelaskan bahwa pesawat tersebut mengalami kecelakaan ketika sedang melakukan manuver belok ke kanan untuk kembali menuju bandara.
Meskipun pesawat angkut Hercules telah dibuat sejak tahun 1964, seorang juru bicara militer menyatakan dengan keyakinan bahwa kondisinya masih layak dan baik.
Menurut laporan para wartawan, insiden ini merupakan kejadian kedua dalam kurun waktu 10 tahun terakhir di mana sebuah pesawat mengalami kecelakaan di Medan.
Pada bulan September 2005, sebuah pesawat Boeing 737 mengalami kecelakaan di kawasan permukiman yang padat penduduk, tak lama usai lepas landas dari Bandara Polonia Medan, mengakibatkan 143 korban jiwa, termasuk 30 orang yang berada di darat.
Insiden kecelakaan di Medan yang baru terjadi merupakan bagian dari rangkaian kecelakaan pesawat militer yang telah berlangsung sejak tahun 2009:
- April 2015, sebuah pesawat tempur F-16 mengalami kebakaran ketika sedang melakukan lepas landas dari pangkalan udara yang berada di Jakarta
- Maret 2015, dua pesawat milik Angkatan Udara yang tergabung dalam tim aerobatik mengalami kecelakaan ketika sedang menjalani sesi latihan
- November 2013, sebuah helikopter milik TNI Angkatan Darat mengalami kecelakaan di wilayah dekat perbatasan Indonesia dan Malaysia, yang mengakibatkan 13 orang meninggal dunia
- Agustus 2013, pintu sebuah helikopter latih terlepas dan jatuh ke kawasan permukiman di Jakarta
- 2012, sebuah pesawat milik TNI Angkatan Udara jatuh di kawasan perumahan di Jakarta, mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia
- 2009, sebuah pesawat angkut militer yang mengangkut personel pasukan beserta keluarganya mengalami kecelakaan di wilayah Jawa, menyebabkan 98 orang kehilangan nyawa