Internet broadband berbasis satelit menjadi solusi bagi masyarakat di wilayah pedesaan yang belum terjangkau jaringan internet kabel konvensional. Teknologi ini memanfaatkan antena parabola untuk menyediakan koneksi dua arah, dan kini telah mengalami peningkatan signifikan dalam hal kecepatan. Saat ini, kecepatan unduh melalui jaringan satelit bisa mencapai hingga 20 MBps. Di Amerika Serikat, penduduk yang tinggal di daerah pertanian atau lokasi terpencil sering kali memilih layanan satelit karena jaringan kabel tidak tersedia atau tidak praktis.
Di negara dengan kondisi geografis kompleks seperti Indonesia — yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau — penyedia layanan menilai internet satelit sebagai opsi yang layak pemerintah pertimbangkan. Pemerintah dan operator menilai pembangunan infrastruktur broadband konvensional, seperti jaringan serat optik, kurang efektif di daerah pedesaan. Penyebabnya adalah penyebaran penduduk yang tidak merata dan rendahnya daya beli masyarakat. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, internet satelit dapat menjadi solusi paling realistis untuk menghadirkan konektivitas di seluruh wilayah.
Dalam beberapa pekan terakhir, perusahaan penyedia layanan satelit BigNet menginformasikan bahwa telah menjalin kerja sama senilai $78 juta dengan Kacific Broadband Satellite yang berpusat di Singapura. Kesepakatan ini bertujuan untuk meluncurkan layanan internet broadband berbasis satelit pada tahun 2017.
Christian Patouraux, CEO Kacific, menyatakan bahwa sekalipun menggunakan teknologi serat optik, menjangkau seluruh wilayah tetap tidak memungkinkan. Dia menekankan investasi yang pemerintah perlukan bisa 50 hingga 200 kali lebih besar, bahkan mencapai miliaran dolar. Patouraux menambahkan bahwa sebagian besar penyedia layanan broadband mengabaikan Papua dan Sulawesi karena memilih wilayah padat seperti Jakarta dan Surabaya yang menawarkan potensi bisnis lebih besar.
Antena Parabola Tidak Harus Berupa Artefak Kuno
Berbeda dari penyedia layanan lainnya, Kacific dan BigNet berfokus pada wilayah pedesaan sebagai target utamanya. Patouraux menyatakan bahwa perusahaan ingin mengadopsi pendekatan seperti maskapai berbiaya rendah dalam industri ini. Tujuannya adalah memberikan akses internet yang memungkinkan pengguna menikmati layanan seperti Skype atau YouTube selama 15 hingga 20 jam per bulan, hanya dengan biaya sekitar $10.
Patouraux menjelaskan bahwa teknologi broadband satelit mulai berkembang sekitar 15 tahun lalu. Pada era 1970-an, masyarakat biasa memasang antena parabola berukuran besar di atap rumah untuk menerima siaran televisi. Antena seperti itu masih bisa kita temukan, meskipun kini lebih berfungsi sebagai simbol masa lalu atau hiasan klasik. Saat ini, antena untuk internet satelit jauh lebih ringkas—hanya sekitar satu meter panjangnya dan berbobot sekitar 10 kilogram. Patouraux menambahkan bahwa perangkat tersebut kini lebih efisien, baik dari segi ukuran maupun konsumsi energi, dan bahkan bisa kita operasikan menggunakan tenaga surya jika terpasang dengan tepat.
Penyedia memperkirakan harga antena parabola untuk internet rumah tangga sekitar $350. Penyedia menjual antena berukuran lebih besar untuk fasilitas umum seperti sekolah atau pusat komunitas dengan harga berkisar $500 hingga $1.000. Jenis antena ini mampu menyediakan akses broadband untuk seluruh wilayah desa.
Ada yang Akan Mengkritiknya
Sebagian pengguna, seperti penggemar berat game komputer, kerap mengkritisi layanan broadband satelit karena potensi keterlambatan sinyal atau yang dikenal sebagai lag. Latensi ini menjadi pembeda utama antara jaringan darat konvensional dan jaringan satelit geostasioner. Patouraux juga menyoroti fenomena rain fade—gangguan sinyal yang dipicu oleh awan hujan—sebagai keluhan umum lainnya. Dahulu, hujan lebat dan awan tebal sering menyebabkan koneksi satelit terputus. Namun, menurutnya, dengan teknologi perangkat yang lebih canggih saat ini, gangguan akibat rain fade yang benar-benar memutus layanan kini sangat jarang terjadi.
Patouraux menjelaskan bahwa setiap antena parabola dilengkapi dengan sistem yang mampu mendeteksi penurunan kualitas sinyal. Ketika gangguan terdeteksi, antena secara otomatis menyesuaikan lalu lintas data agar tetap stabil. Ia menggambarkan proses ini seperti antena yang meminta satelit untuk memperlambat komunikasi demi menjaga koneksi. Hasilnya, meskipun kecepatan internet mungkin menurun, layanan tetap berjalan tanpa terputus. Patouraux menambahkan bahwa sinyal yang dikirimkan sangat kuat, sehingga antena tetap bisa berfungsi meski dalam kondisi hujan.
Patouraux meyakini bahwa kehadiran broadband satelit memberikan manfaat besar bagi negara ini dibandingkan jika tidak ada sama sekali. Ia menilai bahwa koneksi internet lambat dari jaringan darat sudah menjadi bagian dari rutinitas masyarakat. Belum lagi tantangan lain seperti pemadaman listrik bergilir, ketidakstabilan pasokan energi dan berbagai kendala infrastruktur yang bahkan dirasakan di kota besar. Dengan kondisi tersebut, menurutnya tidaklah masuk akal jika harapan akan konektivitas di daerah pedesaan—yang mungkin sama sekali belum memiliki akses internet—disamakan dengan kebutuhan seorang bankir di New York yang harus selalu terhubung setiap waktu.
Kesetaraan dalam Pendidikan dan Pencegahan Bencana
Patouraux menegaskan bahwa manfaat dari penggunaan internet satelit jauh melebihi kekurangannya, terutama dalam situasi darurat atau bencana alam. Sebagai negara yang rawan terhadap bencana seperti tsunami, gempa bumi dan letusan gunung berapi, sangat membutuhkan solusi komunikasi yang andal. Ia mengungkapkan bahwa di masa lalu, banyak korban jiwa di daerah pedesaan karena keterlambatan dalam menyampaikan informasi ke dunia luar. Dengan adanya internet satelit, masyarakat memiliki alternatif tambahan untuk menghubungi layanan darurat ketika jaringan seluler tidak berfungsi, tanpa harus menempuh perjalanan ke desa lain.
Patouraux menekankan bahwa teknologi broadband satelit memiliki dampak positif yang signifikan terhadap dunia pendidikan di wilayah pedesaan. Ia menyatakan bahwa akses internet yang diberikan kepada anak-anak di daerah terpencil dapat membawa perubahan besar secara langsung. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan di kawasan tersebut, seiring berjalannya waktu, berpotensi memperkuat pengembangan sumber daya manusia yang berbakat—topik yang kerap menjadi sorotan selama ini.