3 Pahlawan Tersembunyi Terlupakan

Sejarawan kerap menggambarkan sejarah

Sejarawan kerap menggambarkan sejarah sebagai wilayah samar bak rawa kelabu, termasuk masa pemetaan republik merdeka 71 tahun silam. Meski kisah banyak tokoh sejarah kerap tak jelas dan saling bertentangan, mereka punya kesamaan: patriotisme. Semangat itu mendorong mereka menatap masa depan yang lebih baik.

Kisah tak Terduga

Kisah hidupnya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan nyaris tak pernah terdengar. Namun seperti Tokyo punya Rose dan Hanoi punya Hannah, Surabaya pun memiliki penyiar radio bernama Sally. Menurut cerita yang beredar, seorang raja Bali setempat mengadopsi Muriel Stuart Pearson (nee Walker) dan menamainya K’tut Tantri.

Perjalanan hidup Tantri melintasi banyak tempat: dari kelahirannya di Glasgow, Inggris, ia kemudian hijrah ke California, AS, menjelang Perang Dunia I. Di Bali, Tantri menjalani pencarian jati diri sampai pemerintah pendudukan Jepang menahannya. Setelah itu, Tantri bergabung dengan gerakan nasionalis di Surabaya yang Bung Tomo pimpin. Selanjutnya, para penggerak perjuangan memberinya amanah untuk menyiarkan perkembangan gerakan kemerdekaan melalui Voice of Free—cikal bakal divisi Voice RRI—serta majalah berbahasa Inggris yang menyertainya. Pada tahap berikutnya, Tantri menjadi penulis pidato Soekarno dan mendukung republik yang baru lahir dalam berbagai tugas diplomatik.

Di Balik Pemancar

Di antara tokoh kunci yang membantu menyebarkan berita proklamasi adalah Joesoef Ronodipuro dan F. Wuz, selain sejumlah figur penting lainnya. Setelah pihak Jepang mengetahui Proklamasi Kemerdekaan, mereka segera melarang media massa menyiarkannya. Namun Syahruddin, jurnalis kantor berita resmi Jepang Domei, menyerahkan salinan teks penting itu kepada Waidan Palenewan, kepala radio. Lalu Palenewan memerintahkan F. Wuz, operator nirkabel, untuk menyiarkan teks tersebut tiga kali. Akan tetapi Jepang keburu menangkap Wuz dan menghentikan siaran setelah ia menyiarkan dua kali. Setelah itu pihak Jepang menyegel stasiun, tetapi mereka tidak menyadari bahwa Joesoef telah mendengar kabar tersebut dan juga memegang salinan teksnya. Sebagai penyiar di Hoso Kyoku, sebuah stasiun swasta yang kelak menjadi RRI, Joesoef berhasil memanfaatkan pemancar internasional dan membacakan teks proklamasi dalam bahasa Indonesia, lalu sekitar 20 menit kemudian membacakannya dalam bahasa Inggris. Sejak itu, berita tersebut perlahan menyebar ke dalam dan luar negeri.

Banyak Peran

Selain Indonesia Raya, lagu Hari Merdeka hampir selalu berkumandang dalam upacara pengibaran bendera pada peringatan Hari Kemerdekaan. Lagu ini digubah oleh Husein Mutahar dan memancarkan semangat patriotisme melalui irama mars yang membangkitkan gairah kebangsaan.

Kisah di balik tokoh penggubahnya bermula pada tahun 1946, ketika bendera pusaka harus diselamatkan ke Yogyakarta dengan cara disembunyikan di dalam koper milik Soekarno, saat Belanda kembali berupaya merebut Jakarta. Ketika terjadi agresi militer Belanda kedua, presiden pertama bahkan membagi bendera ini menjadi dua bagian dan berpesan kepada Mutahar agar menjaganya dengan segenap jiwa raga.

Mutahar sempat ditangkap, namun ia berhasil meloloskan diri menuju Jakarta. Di sana, ia menjahit kembali kedua potongan bendera hingga utuh, lalu mengirimkannya kepada Soekarno yang saat itu berada dalam pengasingan di Bangka.

Mutahar dikenal sebagai sosok multitalenta. Pada masa pemerintahan Soekarno, ia pernah menjabat Duta Besar untuk Vatikan dan menguasai setidaknya enam bahasa. Ia juga menggubah lagu kebangsaan pramuka, menjadi salah satu tokoh penting dalam pengembangan gerakan pramuka, serta turut meletakkan dasar dan membina Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka).

Visited 5 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *