Indonesia, sebagai demokrasi terpadat ketiga di dunia, warganya tersebar di ribuan pulau di Samudra Hindia. Kondisi geografis yang unik dan sejarah yang penuh gejolak membuat pengurangan kemiskinan menjadi tantangan besar. Meski demikian, Indonesia berhasil mencatat kemajuan berkat pertumbuhan ekonomi yang kuat dan kebijakan legislatif yang terfokus pada pengentasan kemiskinan.
Kemiskinan ada di perkotaan maupun pedesaan, sehingga upaya pengentasan oleh pemerintah dan organisasi internasional menjadi sangat menantang; posisi geografis Indonesia juga membuat bencana alam lebih mahal dan berdampak lebih berat pada masyarakat miskin.
Upaya pengentasan kemiskinan sangat berhasil pada abad ke-21. Saat ini sekitar 11% penduduk hidup dalam kemiskinan, turun lebih dari separuh sejak 1999; antara 2006 dan 2013 sekitar 10 juta orang keluar dari kemiskinan.
Walau angka kemiskinan menurun, pemerintah memakai definisi garis kemiskinan yang longgar sehingga kondisi tampak lebih baik dari kenyataannya. Akibatnya, banyak warga tergolong hampir miskin dan berisiko jatuh ke kemiskinan ekstrem jika ekonomi memburuk.
Dalam beberapa tahun terakhir ekonomi menunjukkan performa kuat; Indonesia menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan ke-16 di dunia. Sejak 2004 pertumbuhan tahunan stabil di kisaran 4–6%, dan pengangguran relatif rendah, sekitar 5,5% pada 2015.
Baru-baru ini pemerintah meningkatkan belanja publik untuk memperbaiki layanan; sekitar $30 juta per tahun dialokasikan untuk lima program pengentasan kemiskinan, dan alokasi pinjaman bagi usaha kecil juga diperbesar.
Prospek pertumbuhan Indonesia terlihat positif ke depan. Pemerintah berkomitmen melakukan reformasi fiskal untuk menarik investasi asing, sehingga pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan selama 15 tahun terakhir membuka prospek masa depan yang menjanjikan.