Beberapa kawasan di Jakarta terendam banjir. Mobil terjebak semalaman di parkir bawah tanah kafe dan restoran di Kemang. Kemang adalah kawasan elit yang sering kebanjiran karena drainase buruk. Minimnya ruang hijau memperparah masalah banjir di sana. Para ahli memperkirakan Jakarta akan melampaui Tokyo sebagai kota terbesar Asia pada 2028 karena pertumbuhan penduduk yang pesat. City Form Lab Universitas Harvard menyelenggarakan pameran Kisah Perkotaan Indonesia di lobi Bursa Efek Indonesia baru-baru ini. Pameran itu mengacu pada publikasi yang memetakan tantangan yang berbagai kota di seluruh Indonesia hadapi. Penyelenggara pameran memberi pengunjung pertanyaan berbeda setiap hari untuk menggali beragam aspek kehidupan perkotaan. Tanggapan ini menimbulkan serangkaian keluhan serta dorongan aspiratif.
Pertanyaan: Bagaimana Anda pergi ke kantor? Berapa lama perjalanan Anda? Jawaban: Mengendarai mobil; terasa seperti selamanya. Pertanyaan: Apa yang paling Anda sukai dan tidak sukai tentang tinggal di kota ini? Jawaban: Suka pusat perbelanjaan; tidak suka kemacetan lalu lintas. Suka akses mudah ke fasilitas; tidak suka polusi. Menyukai internet lebih cepat; tidak suka kemacetan lalu lintas. Suka aktivitas 24 jam; tidak suka kemacetan lalu lintas. Suka gaya hidup modern; tidak suka polusi. Pertanyaan: Apa yang ingin Anda lihat di kota Anda di masa depan? Jawaban: Jakarta yang lebih bersih dan hijau. Kota yang ramah, terutama untuk anak-anak. Lebih banyak ruang publik. Sungai yang bersih untuk pariwisata. Lalu lintas yang lebih lancar. Respons-respons tersebut menunjukkan rasa frustrasi dan keluhan terhadap ketidakefisienan kota, sekaligus menyingkapkan penghargaan atas peluang yang ada di perkotaan dan harapan bahwa ketidakefisienan ini dapat dan akan membaik.
Kemacetan dan Banjir
Warga sering menganggap kemacetan dan banjir sebagai hal biasa, padahal keduanya memberi dampak besar; kemacetan saja menyebabkan kerugian sekitar $3 miliar per tahun bagi wilayah metropolitan, dan sekitar 40% area Jakarta berada di bawah permukaan laut sehingga menghadapi ancaman banjir serius. Masalah-masalah ini tidak akan hilang dengan sendirinya. Urbanisasi di Indonesia berlangsung sangat pesat: saat ini lebih dari separuh penduduk tinggal di kota, dan para ahli memperkirakan proporsi itu akan mencapai 68% pada 2025, sehingga sekitar dua pertiga penduduk akan menjadi warga perkotaan. Pikirkan tentang kota-kota tempat mereka tinggal: saat ini hanya sekitar 48% rumah tangga perkotaan yang memiliki akses air bersih; jaringan sanitasi tersedia di hanya 11 kota; dan hanya 2% penduduk kota yang tersambung ke sistem sanitasi terpusat.
Perlu dipertanyakan apakah infrastruktur akan membaik seiring kota meluas. Untuk merespons pertumbuhan tersebut, pemerintah daerah wajib menjadikan pengembangan infrastruktur sebagai prioritas di wilayahnya agar dapat menangani secara langsung kemacetan, polusi, pelayanan publik yang buruk dan ancaman bencana. Belakangan ini para pemimpin dunia berkumpul di Ekuador untuk Habitat III, konferensi PBB tentang perumahan dan pembangunan perkotaan berkelanjutan. Saat mereka membahas Agenda Perkotaan Baru yang menyiapkan respons terhadap proyeksi 6 miliar orang tinggal di kota pada 2050, pengelolaan urbanisasi yang baik dianggap penting untuk mengatasi tantangan global seperti kemiskinan dan perubahan iklim. Indonesia tidak menghadapi tantangan perkotaan sendirian; negara ini akan menerima dukungan dari komunitas internasional untuk mengembangkan kota-kota berkelanjutan dan memanfaatkan sepenuhnya peluang yang muncul dari urbanisasi.