Karakteristik kebakaran hutan berbeda dari kebakaran biasa. Api sering menyala di bawah permukaan tanah dan terus membara dalam waktu lama. Kebakaran bawah tanah dapat berlangsung berbulan-bulan sehingga petugas kesulitan memadamkannya. Dalam banyak kasus, petugas baru bisa memadamkan api secara efektif ketika hujan deras turun pada musim hujan. Selain itu, kebakaran ini menghasilkan lebih banyak asap dan polusi udara daripada kebakaran biasa.
Masalah utama adalah luasnya lapisan gambut, campuran sisa tumbuhan setengah membusuk di lahan basah pesisir Kalimantan dan Sumatra. Setiap tahun kebakaran gambut sering terjadi karena petani membuka lahan dengan praktik tebang-bakar, membakar hutan hujan berkala. Tujuan dari teknik ini umumnya adalah untuk menyediakan lahan baru bagi budidaya kelapa sawit dan tanaman akasia untuk produksi pulp.
Menurut David Gaveau dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional, sebagian besar kebakaran bermula di lahan gambut yang sudah petani bersihkan. Lahan tersebut umumnya tidak lagi mereka manfaatkan sehingga rentan terbakar. Api kemudian merambat ke bawah permukaan tanah, menjadikan lapisan gambut sebagai sumber bahan bakar yang nyaris tak terbatas.
MODIS pada satelit Terra milik NASA mengambil citra pada 24 September 2015 yang menunjukkan kondisi serupa tahun ini. Garis merah menandai titik panas tempat sensor mendeteksi suhu permukaan sangat tinggi akibat kebakaran. Asap pekat abu-abu menyelimuti dua pulau, memicu peringatan kualitas udara dan kesehatan di Indonesia serta negara tetangga. Kondisi ini menyebabkan penurunan tajam dalam jarak pandang.
Para ilmuwan yang memantau kebakaran hutan mengkhawatirkan bahwa situasi ini kemungkinan akan memburuk sebelum menunjukkan perbaikan. Kekhawatiran muncul karena fenomena El Nino intens di Pasifik yang menyebabkan musim kemarau panjang dan penurunan curah hujan. Saat El Nino besar 1997, hujan minim memungkinkan kebakaran menyebar luas, memicu polusi udara dan emisi gas rumah kaca rekor.
Pola yang Mirip
“Kita sedang menghadapi pola yang mirip dengan tahun-tahun terburuk sebelumnya,” ujar Robert Field, ilmuwan dari Universitas Columbia yang bekerja di Goddard Institute for Space Studies milik NASA. Ia menjelaskan bahwa kondisi di Singapura dan wilayah tenggara Sumatra hampir menyerupai situasi pada tahun 1997, di mana beberapa stasiun mencatat jarak pandang rata-rata di bawah 1 kilometer selama satu minggu penuh. Sementara itu, di Kalimantan, terdapat laporan yang menyebutkan jarak pandang menurun drastis hingga kurang dari 50 meter.
Instrumen MODIS mengumpulkan data kedalaman optik aerosol yang menunjukkan konsentrasi partikel atmosfer setara puncak kebakaran besar 2006. Namun, kali ini lonjakan tersebut terjadi lebih awal, beberapa minggu sebelumnya. Field menyatakan, “Jika prediksi mengenai musim kemarau yang lebih panjang terbukti benar, maka tahun 2015 berpotensi menjadi salah satu kejadian kebakaran terburuk yang pernah tercatat.”
Guido van der Werf, ilmuwan dari Vrije Universiteit Amsterdam, telah memantau intensitas dan cakupan kebakaran menggunakan data dari MODIS. Ia menyampaikan bahwa jumlah dan skala kebakaran tahun ini terus meningkat, dan tren saat ini menunjukkan kondisi yang lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak MODIS mulai merekam data pada tahun 2001. Ia juga menekankan bahwa musim kebakaran baru saja melewati titik tengahnya.
Van der Werf, bersama timnya dari NASA dan Universitas California, Irvine, telah mengembangkan metode untuk memperkirakan jumlah gas jejak dan partikel udara yang dilepaskan oleh kebakaran hutan—banyak di antaranya merupakan polutan—dengan menggunakan citra satelit yang memantau kebakaran dan tutupan vegetasi. Inisiatif ini dikenal sebagai Basis Data Emisi Kebakaran Global (GFED), yang menyediakan estimasi emisi dari kebakaran secara regional maupun global berdasarkan data sejak tahun 1997. Berdasarkan analisis GFED, kebakaran hutan pada tahun 2015 telah menghasilkan emisi gas rumah kaca sekitar 600 juta ton hingga tanggal 22 September 2015, jumlah yang setara dengan emisi karbon dioksida tahunan dari negara seperti Jerman.