Pemerintah Indonesia akan meluncurkan proyek adaptasi iklim terbesar dalam sejarah modern. Rencana mencakup pembukaan tender Tanggul Laut Raksasa di Pantura Jawa. Proses tender akan mulai pada awal 2027. Garis pelindung pantai ini membentang 575 km dari Tangerang, Banten, hingga pesisir utara Jawa Timur. Proyek terbagi menjadi 15 segmen konstruksi. Prabowo Subianto menyatakan Tanggul Laut Raksasa sangat penting untuk menyelamatkan pesisir utara Jawa. Ia mengatakan pemerintah kemungkinan mulai membagi dan memberi kontrak pada awal 2027. Beberapa calon mitra menunjukkan minat kuat dan siap menyediakan pendanaan. Karena itu, pemerintah harus segera melaksanakan proyek strategis ini. Pesisir utara Jawa menjadi pusat ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menopang rantai pasok manufaktur, jalur logistik, dan puluhan juta penduduk. Namun pengambilan air tanah berlebihan dan kenaikan permukaan laut mempercepat penurunan muka tanah di kawasan itu. Akibatnya kawasan industri dan kota luas terancam terendam saat pasang.
Pemerintah berharap tanggul laut komprehensif dapat melindungi 38 persen PDB nasional dan mengamankan aset industri, infrastruktur, serta pelabuhan. Tim perancang mendesain struktur fisik ini sebagai sistem pertahanan pesisir terpadu. Komponen meliputi tanggul darat, dinding laut lepas pantai, dan pemecah gelombang yang direkayasa. Semua elemen bertujuan mengatasi kenaikan permukaan laut jangka panjang. Presiden Prabowo menegaskan pelaksanaan proyek ini membutuhkan komitmen jangka panjang melampaui masa jabatan pemerintahan. Tim pelaksana memperkirakan pekerjaan sipil di Teluk Jakarta yang rentan akan memakan waktu sekitar delapan tahun. Sedangkan untuk segmen tengah di sekitar Semarang, kontraktor kemungkinan dapat menyelesaikannya lebih cepat. Pada Kamis, kepala negara mengatakan pemerintah tidak bisa menyelesaikan program ini dengan cepat. Pemerintah memperkirakan pembangunan di Jakarta akan memakan waktu sekitar delapan tahun. Pihak pelaksana menilai segmen di Semarang mungkin dapat selesai lebih cepat. Tim pelaksana memperkirakan penyelesaian seluruh perimeter 575 km akan memakan waktu 15–20 tahun, dengan skenario tercepat 10–15 tahun.
20 Tahun
Prabowo menyatakan penyelesaian seluruh ruas bisa memakan waktu sekitar 20 tahun. Dalam skenario tercepat, proyek selesai dalam 10–15 tahun. Oleh karena itu ia tidak dapat memastikan presiden mana yang akan meresmikannya. Tingginya konsentrasi aset komersial di dataran rendah pesisir memperkuat kebutuhan strategis proyek ini, tegas kepala negara. Prabowo menegaskan bahwa Tanggul Laut Raksasa akan melindungi 50 juta warga dan mengamankan 38% PDB Indonesia. Ia menambahkan bahwa sepanjang pantai utara Jawa terdapat 70 kawasan industri, lima kawasan ekonomi khusus dan tulang punggung logistik nasional, sehingga proyek ini sangat strategis.
Presiden menyampaikan jadwal yang sejalan dengan rencana kementerian teknis, yang akan menangani titik-titik hambatan geografis paling sulit di sepanjang koridor tersebut. Menteri Koordinator Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan tantangan teknis paling berat berada di Teluk Jakarta dan pesisir Jawa Tengah, termasuk Semarang, Kendal dan Demak. AHY menyampaikan di forum BRIN pada Senin, 14 September 2026, bahwa tantangan terberat ada di Jakarta dan sekitar Kendal, Semarang, Demak karena di sana terdapat permukiman tradisional dan komunitas nelayan yang terbentuk secara alami sehingga memerlukan penanganan yang cermat.
Memfinalisasi Rencana
AHY mengatakan otoritas sedang memfinalisasi rencana induk untuk proyek 575 km ini agar urutan konstruksi bisa pemerintah tetapkan dari zona paling rentan ke arah luar. Pesisir Jawa Tengah mengalami penurunan muka tanah yang parah dan banjir rob kronis; beberapa proyek percontohan, seperti jalan tol Semarang–Demak yang terintegrasi dengan struktur tanggul berlapis 13 berbahan anyaman bambu, telah membuktikan kelayakan konsep desain tersebut. AHY menambahkan otoritas terus menyempurnakan rencana induk proyek 575 km ini dan akan melaksanakan tahapan formal, termasuk peletakan batu pertama secara administratif, sebelum memulai konstruksi berat di lepas pantai.
Proyek tanggul laut resmi dicantumkan dalam RAPBN 2027 pada klaster Infrastruktur, Perumahan dan Ketahanan Bencana, serta ditetapkan sebagai salah satu dari delapan Program Kerja Prioritas Nasional. Menurut Nota Keuangan dan RAPBN 2027 yang resmi, alokasi awal belanja kementerian/lembaga untuk klaster Infrastruktur, Perumahan dan Ketahanan Bencana pada 2027 diperkirakan sebesar Rp27,156 triliun. Mewujudkan penghalang komprehensif yang dibangun selama beberapa dekade di 15 segmen diperkirakan memerlukan mobilisasi dana sekitar Rp1.784 triliun berdasarkan asumsi nilai tukar anggaran. Proyek berskala besar ini membutuhkan dukungan luas berupa modal campuran asing, keterlibatan konsesionaris institusional serta pembiayaan iklim multilateral agar cetak biru rekayasa tersebut dapat direalisasikan hingga beroperasi penuh.