Skandal Sekolah Surya

Hidup di Pulau Sumba yang berbukit nyaris tak berubah. Seperti leluhur mereka, pria berlayar setiap pagi dengan perahu nelayan ramping. Perempuan merawat kebun kecil dan, bila beruntung, memelihara babi. Tradisi tetap penting bagi penduduk, terlihat pada atap rumah tinggi dan curam. Atap itu menjulang ke langit, memuliakan Tuhan dan merayakan hal suci.

Walau Sumba kaya tradisi, pulau ini masih kekurangan banyak hal. Anak-anak berseragam merah-putih memberi tanda harapan akan masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan. Selain membawa buku pelajaran, mereka juga membawa lentera portabel bertenaga surya untuk menerangi rumah gelap. Mereka mengisi ulang lentera itu di sekolah lewat panel surya pada siang hari yang cerah. Langkah ini merupakan kemajuan signifikan dalam memperluas akses energi di Sumba, masalah yang juga banyak wilayah lain di dunia alami. Menurut Badan Energi Internasional, sekitar 1,2 miliar orang—atau 16% populasi global—belum memiliki akses listrik pada 2016.

Inisiatif Pulau Ikonik

Inisiatif Pulau Ikonik Sumba menggabungkan pemerintah, LSM, dan donor internasional untuk memasok listrik ke 95% pulau pada 2025. Sejak 2010 Winrock bekerja sama dengan Hivos International menjalankan proyek energi terbarukan seperti Sekolah Kataka. Panel surya di sekolah menyalakan laptop, telepon, dan printer sehingga guru tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menggandakan soal. Lentera surya memasok listrik ke rumah siswa, memudahkan belajar malam dan memberi keluarga penghasilan tambahan lewat tenun ikat.

Proyek ini telah menyewakan lebih dari 3.000 lentera surya dan melatih hampir 100 tenaga pendidik dalam perawatan sistem surya. Program yang sebagian dibiayai Millennium Challenge Corporation ini akan segera memasang panel fotovoltaik dan stasiun pengisian lentera di 25 sekolah tambahan di seluruh Sumba. Model distribusi yang bersifat komersial ini memungkinkan warga Sumba meniru dan memperluas sistem tersebut secara mandiri setelah proyek selesai. Setiap sekolah yang teraliri listrik mendekatkan pulau ini ke target 2025, tetapi tantangannya besar: pada 2010 hanya 25% dari 650.000 penduduk yang memiliki listrik, dan medan terjal membuat jaringan listrik konvensional sulit diterapkan.

Setiap cahaya lentera mendorong Sumba semakin dekat ke tujuan ini, memberi harapan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dan keluarganya. Kepala Sekolah Kataka, Yulius Wernek Bale, menyatakan bahwa lentera-lentera tersebut telah mengubah kehidupan warga setempat. Dengan kerja keras tambahan dan sedikit keberuntungan, kisah ini bisa menjadi bagian penting baru dari warisan lisan Sumba.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *