Sekitar enam juta penganut Pentakosta hidup di Indonesia, dan di tengah komunitas itu Gereja Mawar Sharon tampil sebagai salah satu gereja yang paling dinamis dan populer. Orang juga mengenal gereja ini sebagai The Rose of Sharon atau GMS. Gereja ini menyasar kalangan muda dan menarik banyak mahasiswa, terutama di kota-kota pendidikan. Walaupun GMS memperlihatkan representasi etnis China yang cukup dominan, terutama pada level kepemimpinan, jemaatnya sesungguhnya terdiri atas kelompok kelas menengah yang multietnis dan memiliki orientasi pada arus kebangkitan Kristen global. Daya tarik utama GMS baginya terletak pada pendekatan penginjilan yang berorientasi pasar, di mana penekanan pada angka pertumbuhan dan penyelenggaraan ibadah berskala besar mencerminkan etos konsumsi massal. Fenomena ini tampak jelas di Surabaya, kota metropolitan tempat GMS pertama kali berkembang.
Surabaya menempati posisi sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 3,12 juta jiwa, atau mencapai 5,6 juta jiwa jika mencakup kawasan metropolitannya. Kota ini mengembangkan diri sebagai pusat industri perkapalan, pengolahan makanan, elektronik, dan manufaktur furnitur. Etnis Jawa, Madura, dan Tionghoa mendominasi komposisi penduduk Surabaya, yang juga terdapat kehadiran etnis lain seperti Sunda, Minangkabau, dan Bugis. Dalam kehidupan keagamaan, Surabaya memiliki masjid agung. Kota ini juga menjadi salah satu basis penting Nahdlatul Ulama, organisasi Muslim terbesar.
Selain GMS, salah satu gereja dengan pertumbuhan paling pesat di Surabaya adalah Gereja Bethany. Bethany menjadi gereja Pentakosta terbesar dengan lebih dari 1.000 cabang di berbagai wilayah dan jumlah anggota yang melampaui 250.000 orang. Seperti halnya GMS, tokoh-tokoh berlatar etnis China mendirikan dan memimpin Bethany. Namun, jika jemaat Bethany terdominasi oleh kelompok usia paruh baya, GMS justru menarik perhatian yang kuat dari kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, kita dapat memahami kedua gereja Pentakosta ini bukan semata-mata sebagai gerakan etno-religius, melainkan sebagai fenomena keagamaan kelas menengah yang berkembang seiring pertumbuhan ekonomi pada masa Orde Baru (1966–1998).
Karakter Penting
Salah satu karakter penting Pentakostalisme kontemporer adalah ekspansinya ke beragam ranah kehidupan yang melampaui aspek keagamaan semata. Di Surabaya, komunitas tersebut mengadakan lokakarya pengembangan diri, karier, relasi keluarga, isu perempuan, anak, dan pengasuhan. Program serupa juga umum di kalangan kelas menengah. Kelompok-kelompok ini sering memadukan nilai keagamaan dengan kewirausahaan. Mereka juga kerap menggelar seminar di hotel-hotel bergengsi.
Berbeda dari ceramah besar dan lokakarya lain yang cenderung khidmat, pertemuan itu tampil lebih semarak dan menyerupai konser pop. Secara lokal, masyarakat mengenal format seperti ini sebagai kebaktian kebangunan rohani. Fenomena ini menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak hanya menghadirkan pengalaman personal, tetapi juga menampilkan ekspresi kolektif dalam kemasan yang performatif.
Pertemuan keagamaan berskala besar tersebut umumnya menampilkan musik yang energik, penyampaian pesan yang ekspresif, serta unsur gerak yang dinamis. Dalam konteks ini, musik populer, pembicara yang komunikatif, dan media audiovisual semakin menggantikan format konvensional. Layar besar, teks proyeksi, dan elemen visual lain menyesuaikan kegiatan ini dengan budaya media kontemporer, terutama bagi generasi muda. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pengalaman individual, tetapi juga membentuk praktik kolektif yang menarik.
Jika ciri tersebut dianggap umum secara global, unsur lokal yang membentuk perkembangannya perlu ditelaah lebih lanjut. Setelah serangkaian serangan akhir 1990-an, sebagian kelompok minoritas memilih pertemuan besar karena dianggap memberi rasa aman dan dukungan bersama. Ruang pertemuan di pusat komersial atau gedung berkeamanan baik pun lebih diminati dibanding tempat kecil yang rentan masalah. Besarnya peserta kemudian dimaknai sebagai tanda pertumbuhan, penguatan identitas, legitimasi sosial, dan afirmasi keberadaan komunitas di lingkungan kompleks.