Pemerintah menjadwalkan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Amerika Serikat bulan depan. Kunjungan itu melanjutkan lawatan Presiden ke China dan Jepang tahun ini. Upaya negara-negara Indo-Pasifik memperkuat hubungan bilateral memecah fokus kebijakan luar negeri pemerintah dan meningkatkan beban diplomatik. Para pemimpin Australia baru-baru ini menyadari bahwa pengaruh mereka di Indonesia terbatas. Eksekusi Andrew Chan dan Myuran Sukumaran melambangkan sisi kelam dinamika Abad Asia. Kebangkitan negara berkembang, penguatan nasionalisme, dan ambivalensi panjang terhadap dunia Barat mewarnai era itu.
Kematian Chan dan Sukumaran menjadi momen krusial yang mengubah arah hubungan bilateral antara era SBY dan Jokowi. Di bawah pemerintahan Jokowi, kepentingan nasional bergeser ke pertimbangan untung-rugi, sementara politisi menghidupkan kembali nasionalisme ekonomi dan kedaulatan. Dalam konteks ini, Australia harus meninjau ulang cara mendekati Indonesia secara lebih rasional dan tanpa sentimen emosional.
Salah satu kelemahan mendasar politisi dan pembuat kebijakan Australia dulu adalah membesar-besarkan kedekatan dengan Indonesia. Mereka juga menganggap Australia memiliki peran sangat signifikan di mata Indonesia. Diplomat, perwira militer yang mengejar karier, dan politisi dari berbagai spektrum sering melakukan kesalahan ini.
Partai Buruh Australia (ALP) menyatakan hubungan khusus dengan Indonesia karena dukungan kuat Menteri dan Departemen Luar Negeri. Dukungan itu diberikan pada perjuangan kemerdekaan Indonesia pada pertengahan hingga akhir 1940-an. Namun narasi sejarah ini menghadapi tantangan karena kebijakan pemerintah tidak selaras di seluruh birokrasi. Contohnya, Menteri Imigrasi saat itu, Arthur Calwell, mengkritik risiko perkawinan antarwarga dengan negara tetangga. Untuk penelusuran lebih mendalam, buku Margaret George Australia and the Indonesian Revolution menyajikan catatan sejarah informatif.
Perang Budaya
Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, perdebatan mengenai identitas nasional Australia secara jelas menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dalam dinamika perang budaya di negara tersebut. Dalam masa itu, hubungan dengan Indonesia dijadikan indikator utama keberhasilan diplomasi Australia di kawasan Asia. Di tengah situasi tersebut, partai-partai politik utama saling bersaing untuk menunjukkan kemampuannya dalam menangani hubungan bilateral dengan Indonesia, terutama dalam konteks isu-isu kontroversial seperti pengungsi yang datang melalui jalur laut, ekspor hewan hidup dan kasus-kasus terkait kegiatan intelijen.
Bagi pemerintahan Abbott, slogan “lebih banyak Indonesia dan lebih sedikit Swiss” secara jelas mencerminkan kondisi geopolitik dan ekonomi Australia saat itu, sekaligus menyiratkan kritik terhadap kecenderungan Rudd yang terlalu fokus pada multilateralisme. Namun, seperti yang dialami oleh Bishop dan Abbott, semakin besarnya peran Indonesia dalam ekonomi dan politik global telah mengurangi ruang gerak Australia dalam menentukan kebijakan bilateral, terutama karena ketimpangan kekuatan antara kedua negara yang kian mencolok.
Sudah menjadi pemahaman umum di kalangan pemimpin politik Australia, bahkan sebelum eksekusi berlangsung, bahwa opsi kebijakan yang tersedia selain menarik duta besar sangatlah terbatas. Upaya untuk menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia justru berisiko merugikan kepentingan Australia yang luas di bidang politik, keamanan dan ekonomi. Karena itu, Australia bergerak cukup cepat dalam upaya memulihkan hubungan diplomatik setelah peristiwa eksekusi tersebut.
Setelah kematian Chan dan Sukumaran, saatnya untuk menghadapi kenyataan mengenai hubungan antara Australia dan Indonesia. Hubungan istimewa antara kedua negara sebenarnya tidak pernah benar-benar ada, karena itikad baik yang ditunjukkan oleh para pemimpin politik, diplomat dan perwira militer Indonesia terhadap Australia tidak pernah sepenuhnya diterima oleh kalangan elite maupun masyarakat luas di Indonesia. Yang ada hanyalah kesamaan kepentingan dan hubungan personal antar pemimpin pada momen-momen tertentu. Sayangnya, situasi saat ini bukanlah salah satu dari momen tersebut.