Pada suatu siang cerah di Sumatra Utara, Muhamad Syahrial bekerja di perkebunan karet dekat rumahnya. Dia melihat seekor ular merayap di antara anak-anak yang sedang bermain di halaman belakang.
Setelah puluhan tahun bekerja di perkebunan, Syahrial langsung menyadari bahaya ular ini. Ia memojokkan ular yang mengembang tudungnya, lalu memukulnya sampai mati dengan sepotong bambu.
Ia menyatakan bahwa ini adalah kobra.
Bagi buruh tani seperti Syahrial, pertemuan dengan kobra sudah biasa terjadi. Ia bercerita, “Di Riau warnanya emas, sedangkan di sini biasanya hitam atau kadang cokelat.”
Kobra Sumatra, atau kobra penyembur khatulistiwa, adalah ular berukuran sedang dan tubuhnya ramping. Ia dapat menyemprotkan racun ke mata lawan. Racun itu bisa menyebabkan kebutaan permanen.
Kobra menggigit bisa berakibat fatal karena racunnya—kardiotoksin dan neurotoksin—merusak jantung serta sistem saraf pusat dalam hitungan jam.
Populasi kobra Sumatra tumbuh di area perkebunan kelapa sawit dan karet yang luas. Insiden gigitan dan masuknya ular ke lingkungan warga menjadi semakin umum dalam pemberitaan. Pada Mei, seekor ular menggigit seorang satpam di perkebunan Belgia, Sumatra Utara, dan ia meninggal sekitar dua jam kemudian. Pemberitaan tentang kejadian serupa juga mulai berdatangan dari Kalimantan.
Menurut International Society of Toxinology, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan lebih dari 11.000 kematian gigitan ular tiap tahun.
Penulis Janaki Lenin, istri herpetolog Romulus Whitaker, menyaksikan peristiwa itu saat berburu kobra raja bersama suaminya di Kalimantan Tengah.
Dalam blog berjudul Perkebunan Kelapa Sawit, Lenin menulis bahwa selama 10 hari ia menemukan 12 kobra. Ia juga mendengar seekor kobra melingkar di pohon tempat pekerja memanen buah menyemprotkan bisa ke mata dua orang. Menurut Lenin, seorang dokter di perkebunan itu berhasil merawat korban.
Ia menulis bahwa penduduk sering menemukan kobra Sumatra di daerah itu. Jumlahnya bahkan melebihi kobra berkacamata (Naja naja) di sawah kampung halamannya di India.
Kelapa Sawit-Kobra
Hingga kini belum ada penelitian yang menelaah hubungan antara pertumbuhan pesat perkebunan sawit—dengan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dan pemasok bahan untuk berbagai produk—dan peningkatan sebaran kobra Sumatra.
Lenin berpendapat bahwa ekologi perkebunan sawit menyebabkan populasi tikus meningkat karena buah berminyak, menjadikannya hama, yang kemudian menarik predator seperti ular.
Daftar Merah IUCN memasukkan kobra Sumatra dalam kategori Kurang Terancam, sebagian karena kemampuan adaptasinya yang baik di perkebunan sawit dan karet.
Amir Hamidy dari LIPI, yang ahli di bidang herpetologi, mengatakan bahwa populasi kobra menggambarkan cara perkebunan sawit dan karet merusak keseimbangan alami hutan hujan.
Dia menjelaskan bahwa di hutan hujan yang sangat beragam, populasi hewan dan tumbuhan saling dikendalikan dan setiap spesies memiliki peran masing‑masing; namun ketika habitat ini diubah menjadi perkebunan monokultur, keseimbangan tersebut akan rusak.
Amir mengatakan perkebunan sawit menyediakan sumber makanan bagi kobra, sedangkan kanopi pohon karet yang lembap dan rimbun memberinya tempat berlindung. Meski berkembang biak di dalam perkebunan, kobra sering keluar mencari makan di sekitar pemukiman manusia karena di sana tersedia lebih banyak mangsa seperti ayam dan ternak.
Kurangnya antivenom di tingkat dunia memperparah masalah. Biaya produksi yang tinggi, data yang tidak memadai tentang jumlah dan jenis gigitan, serta kebijakan distribusi dan regulasi yang lemah menyebabkan beberapa perusahaan farmasi—termasuk Sanofi Pasteur—menghentikan produksi antivenom seperti Fav-Afrique yang digunakan di Afrika sub-Sahara, demikian laporan Organisasi Kesehatan Dunia.
Amir mengatakan bahwa satu-satunya antibisa ular yang tersedia adalah serum bernama SABU, diproduksi oleh perusahaan vaksin milik negara Biofarma. Serum ini hanya efektif untuk mengobati gigitan kobra penyembur Jawa (Naja sputatrix), pit viper Malaya (Calloselasma rhodostoma) dan krait bergaris (Bungarus fasciatus).
Amir menyatakan bahwa hingga kini belum ada penawar untuk racun kobra Sumatra.
Ia menambahkan bahwa Kementerian Kesehatan bahkan tidak mencatat atau mengumpulkan data kasus gigitan ular dari puskesmas dan rumah sakit.
Pemerintah Mengabaikan
Artinya pemerintah mengabaikan kasus gigitan ular, yang sungguh memalukan.
Di luar ibu kota, Syahrial, seorang pekerja perkebunan, tidak merasakan kekhawatiran yang disampaikan Amir; ia punya cara sendiri untuk menghadapi masalah ini—membunuh kobra setiap kali menemukannya.
Dia mengatakan ular ini sangat berbahaya, jadi kita harus menjaga keselamatan anak-anak.