Dalam publikasi Asia 2025 oleh Asia House, Jusuf Kalla menyampaikan pandangan tentang Indonesia dan kontribusinya bagi peran Asia global.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan populasi lebih dari 250 juta jiwa. Letaknya strategis di persimpangan Samudra Pasifik dan Hindia, serta menguasai jalur laut internasional penting seperti Selat Malaka. Sekitar 86% penduduknya beragama Islam, menjadikan Indonesia negara muslim terbesar di dunia. Selain itu, Indonesia adalah demokrasi terbesar ketiga, negara kekuatan menengah dan ekonomi berpenghasilan menengah yang sedang berkembang. Indonesia juga memiliki pengguna Facebook terbesar keempat di dunia dan mewakili 40% ASEAN dalam populasi, luas wilayah dan ukuran ekonomi.
Indonesia memiliki keberagaman etnis, agama, dan bahasa, lalu menyatukannya melalui prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Prinsip itu menumbuhkan toleransi, membentuk karakter bangsa, dan mendorong pencapaian tujuan pembangunan nasional. Sebagai negara heterogen, Indonesia mengakui potensi konflik selalu ada, tetapi berhasil menyelesaikan sebagian besar secara damai. Indonesia juga mengelola konflik di Aceh yang pernah mengalami separatisme, dan kini memberikan pelajaran berharga bagi banyak negara lain.
Dalam bidang politik, Indonesia berhasil melakukan transisi damai dari sistem otoriter ke demokrasi dalam waktu relatif singkat. Setelah jatuhnya rezim Orde Baru Soeharto, banyak pihak memprediksi persatuan akan runtuh. Indonesia berhasil melewati masa sulit dan dunia memuji Indonesia karena sukses memadukan Islam, demokrasi, stabilitas politik, serta kemajuan ekonomi sosial.
Indonesia bangkit dari krisis keuangan 1998 dan 2008. PDB 2014 mencapai $916 miliar, peringkat ke-16 dunia. Bank Dunia mencatat PDB PPP 2014 sebesar $2.554 miliar, menempatkan Indonesia di posisi kesembilan global. Analis memprediksi PDB per kapita nominal meningkat empat kali lipat pada 2020. Rasio utang terhadap PDB turun dari 83% tahun 2001 menjadi 26% akhir 2013. Indonesia kini ekonomi terbesar Asia Tenggara dan anggota G20 serta MIKTA, lima kekuatan ekonomi berpengaruh.
Kesenjangan Sosial
Walau demikian, Indonesia tetap menyadari adanya kesenjangan sosial yang belum sepenuhnya teratasi. Lebih dari 11% masyarakat masih hidup di bawah atau pada garis kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sesekali menimbulkan masalah lingkungan meskipun membawa kemajuan. Indonesia juga menghadapi tantangan daya saing, seperti keterampilan tenaga kerja yang terbatas, infrastruktur yang belum memadai, regulasi yang tumpang tindih, serta birokrasi yang berbelit.
Indonesia saat ini menunjukkan keunggulan penting daripada banyak negara lain. Ketika sejumlah negara lebih banyak tenaga kerja berusia tua, Indonesia justru memiliki cadangan generasi muda terbesar sepanjang sejarah, sekitar 66% dari total penduduk. Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memasuki masa dividen demografis yang mencapai puncaknya antara 2028 hingga 2031. Fenomena tersebut memberi potensi besar bagi kemajuan sosial dan ekonomi. Untuk meraihnya, Indonesia harus berinvestasi pada kaum muda. Sejak era reformasi, pemerintah menetapkan 20% anggaran negara untuk sektor pendidikan dan mendorong keterlibatan swasta dalam menyediakan pendidikan serta pelatihan di berbagai jenjang. Pemerintah juga memperhatikan aspek sosial lain yang menunjang kualitas sumber daya manusia, seperti kesehatan dan perumahan. Selain itu, Indonesia perlu menekan kesenjangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan serta antara Jawa dan daerah lainnya.
Dalam visi jangka panjang, Indonesia menargetkan menjadi negara dengan pendapatan tinggi pada tahun 2030. Untuk mewujudkan sasaran tersebut, Indonesia harus melakukan reformasi menyeluruh dengan menjaga stabilitas politik dan memperkuat pembangunan infrastruktur. Di bawah kepemimpinan pemerintahan saat ini, arah pembangunan berlandaskan pada ideologi Pancasila, yang menekankan nilai religiusitas, pluralisme, kemanusiaan, persatuan bangsa, pengambilan keputusan yang inklusif dan partisipatif serta keadilan sosial. Selain itu, pembangunan juga dipandu oleh konsep Trisakti, yang menegaskan pentingnya kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan penguatan identitas sosial budaya.
Daya Saing
Dalam lima tahun mendatang, Indonesia memusatkan pembangunan pada penguatan seluruh sektor dengan meningkatkan daya saing melalui optimalisasi sumber daya alam, manusia, dan teknologi. Pada periode 2020–2025, pemerintah menargetkan strategi pembangunan untuk mewujudkan bangsa yang mandiri, modern, adil, dan sejahtera dengan mempercepat kemajuan di berbagai bidang. Pemerintah juga mengarahkan fokus utama pada pembentukan struktur ekonomi yang kokoh, yang tertopang oleh keunggulan kompetitif tiap daerah serta kualitas sumber daya manusia nasional.
Dengan mengoptimalkan potensi sumber daya maritim serta meneladani semangat kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, Indonesia menargetkan diri sebagai Poros Maritim Dunia yang berada di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia membangun visi ini dengan lima pilar utama: memperkuat budaya maritim, melestarikan dan mengelola sumber daya laut, membangun infrastruktur serta konektivitas maritim, meningkatkan kerja sama internasional melalui diplomasi, dan memperkuat sistem pertahanan maritim. Agenda tersebut membuka peluang luas bagi kolaborasi dengan berbagai mitra.
Perkembangan global dan regional memengaruhi arah pembangunan masa depan. Saat ini, perekonomian dunia menghadapi tekanan berat. Negara-negara maju menghindari reformasi struktural karena risiko politik tinggi dan memilih kebijakan moneter. Penurunan harga minyak drastis menimbulkan defisit fiskal besar bagi negara penghasil minyak. Perlambatan pertumbuhan ekonomi China menurunkan permintaan dan harga komoditas. Kondisi ini membuat negara pengekspor komoditas yang bergantung pada pasar China, seperti Rusia, Brasil, Australia, Malaysia, dan Indonesia, mengalami perlambatan ekonomi. Ekonomi global akan pulih secara bertahap dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Namun, negara berkembang tetap menghadapi tekanan ekonomi.
Stabilitas dan Perdamaian
Meskipun masih terdapat sejumlah konflik internal maupun bilateral yang belum terselesaikan, kawasan Asia secara umum telah menikmati stabilitas dan perdamaian selama lima dekade terakhir. Memasuki abad ke-21, telah jelas terlihat bahwa pusat kekuatan ekonomi dan geopolitik dunia bergeser dari Barat menuju Timur. Berdasarkan sejumlah proyeksi, pada tahun 2025 sekitar 61% populasi global akan tinggal di Asia, sekaligus menjadikan kawasan ini sebagai pusat utama produksi dunia. Dengan demikian, para ahli memperkirakan Asia akan menjadi arena penting yang menampung kerja sama sekaligus persaingan. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Asia memang melambat akibat meningkatnya ketidakpastian global dan fluktuasi pasar keuangan. Namun, kawasan ini tetap dipandang sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi dunia.
Asia tidak bisa menangani tantangan secara terpisah, sehingga negara-negara harus bekerja sama. Indonesia berada di titik pertemuan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, sehingga Indonesia memanfaatkan posisi strategisnya untuk berperan aktif dan menjalin kolaborasi demi menciptakan kawasan sejahtera, damai, dan stabil. Negara-negara Asia perlu mengelola serta menyelesaikan perselisihan secara damai agar konflik tidak menghambat pertumbuhan ekonomi. Sengketa di Laut China Selatan menjadi isu krusial yang menuntut penyelesaian bersama. Negara-negara harus menyelesaikan sengketa tersebut secara damai karena signifikansinya sangat besar. Melalui kerja sama, Indonesia berupaya menjaga stabilitas dan perdamaian di Laut China Selatan meskipun persoalan teritorial sulit diatasi. Indonesia, baik secara mandiri maupun melalui ASEAN, terus berperan penting mendorong pengelolaan damai atas potensi konflik di wilayah tersebut.
Di kawasan Asia Tenggara, Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) resmi diluncurkan pada akhir 2015 sebagai tonggak bersejarah dalam integrasi ekonomi antarnegara anggota. Kehadiran AEC membuka berbagai peluang sekaligus menjadi ajang pembelajaran penting untuk memperkuat daya saing nasional dalam menghadapi tantangan serta memanfaatkan kesempatan dari sistem perdagangan bebas regional yang semakin luas.
Laju Perekonomian
Saat ini, laju perekonomian mengalami perlambatan akibat tren global, dengan kepercayaan investor yang belum sepenuhnya pulih serta meningkatnya angka pengangguran. Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah mengandalkan dua instrumen utama, yakni anggaran dan kebijakan. Selama ini, defisit anggaran terjadi karena tingginya beban subsidi energi dan biaya birokrasi, yang menjadi hambatan bagi percepatan pembangunan, terutama di sektor infrastruktur yang membutuhkan biaya besar. Oleh sebab itu, pemerintah mengambil langkah politik yang cukup sensitif dengan memangkas subsidi bahan bakar dan listrik, lalu mengalihkan dana tersebut untuk pembangunan infrastruktur demi menarik lebih banyak investasi. Di samping itu, dilakukan reformasi birokrasi, peningkatan layanan publik serta penyederhanaan proses pengambilan keputusan terkait investasi. Pemerintah pusat juga mendorong pemerintah daerah untuk segera menyelesaikan berbagai persoalan lokal yang menghambat masuknya investasi.
Melalui strategi ini, diharapkan Indonesia dapat memanfaatkan seluruh modalitasnya—seperti keterbukaan, kekayaan sumber daya alam, basis konsumen yang besar, dan stabilitas politik—untuk memperkuat perekonomian. Pada saat yang sama, investor diwajibkan mematuhi hukum dan membayar pajak. Pemerintah juga berkomitmen menjaga keseimbangan antara sektor perdagangan, industri, keuangan, dan produksi, karena semuanya memiliki peran yang sama penting.
Iklim Ekonomi
Dalam upaya memperbaiki iklim ekonomi dan mendorong pertumbuhan, pemerintah secara bertahap meluncurkan berbagai paket kebijakan ekonomi. Saat ini, kebijakan tersebut difokuskan pada penguatan sektor riil, perbaikan kondisi makroekonomi serta perlindungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui program jaminan sosial. Selain itu, penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu prioritas utama, mengingat setiap tahun terdapat sekitar 2 juta pencari kerja baru yang harus ditampung.
Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, muncul keraguan mengenai keberlanjutan pertumbuhan Indonesia maupun Asia dalam jangka panjang. Kekhawatiran terhadap masa depan kawasan ini merupakan hal yang wajar. Dengan perubahan global yang begitu cepat, Indonesia menyadari bahwa strategi keberhasilan di masa lalu bisa jadi sudah tidak relevan, dan pencapaian yang dianggap sebagai terobosan saat ini mungkin segera kehilangan arti. Meski demikian, pengalaman panjang dalam menghadapi dan melewati berbagai krisis menjadi modal berharga. Karena itu, Indonesia perlu terus terdorong untuk meraih visi masa depannya dengan pendekatan yang progresif dan inovatif. Keberhasilan tersebut tidak hanya akan membawa manfaat bagi Indonesia, tetapi juga memberi peluang bagi negara lain untuk ikut menikmati pertumbuhan serta berkontribusi pada kemajuan kawasan.