FAO memperkirakan populasi dunia naik dari tujuh miliar pada 2012 menjadi 9,1 miliar pada 2050, sekitar 30% peningkatan. FAO memperkirakan permintaan pangan akan tumbuh lebih cepat karena percepatan urbanisasi dan peningkatan kesejahteraan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pihak terkait harus meningkatkan produksi pangan sekitar 70%. FAO memperkirakan peningkatan hasil panen dan intensifikasi pertanian harus menyumbang 90% dari kenaikan produksi. FAO juga memperkirakan perluasan lahan pertanian akan menyumbang 10% sisanya.
Menjaga kecukupan pangan seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan iklim menjadi tantangan besar bagi negara berkembang dan maju. Pihak terkait harus meningkatkan hasil panen secara signifikan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. Peluang memperluas lahan pertanian sangat terbatas. Oleh karena itu, sektor swasta harus mengucurkan investasi besar untuk mendukung peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan.
Investor dan perusahaan swasta mulai menjadi pemicu penting investasi pembangunan pertanian, terutama melalui konsep Pembiayaan Inovatif (IF). Konsep ini berakar pada kerangka PBB dan menekankan peran berbagai sumber pendanaan, termasuk swasta. Istilah tersebut pertama kali muncul pada Konferensi Internasional PBB tentang Pembiayaan Pembangunan di Monterrey, Meksiko, pada 2002.
Konferensi ini menghasilkan Konsensus Monterrey, di mana peserta menyepakati perlunya sumber pembiayaan inovatif yang tidak membebani negara berkembang. Hingga kini, perbincangan tentang Pembiayaan Inovatif tetap berfokus pada sumber pendanaan pembangunan nonkonvensional di tingkat makro, selain bantuan pembangunan resmi (ODA).
Di tingkat global, berbagai pengalaman pembiayaan pertanian inovatif menginspirasi investor: di Australia pihak berwenang menerbitkan obligasi proyek pertanian; di China lembaga keuangan menghubungkan pembiayaan pertanian dengan instrumen lindung nilai; di Brasil petani menerbitkan obligasi pedesaan yang mendorong instrumen pasar modal sekunder; dan di Kolombia pedagang serta lembaga keuangan memperdagangkan kontrak repo di bursa komoditas.
Publik-Swasta
Di Indonesia, melalui Kemitraan untuk Pertanian Berkelanjutan (Pisagro) berjalan proyek kemitraan publik-swasta di berbagai pulau untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan petani, dan mengurangi emisi CO₂; contohnya, sejak 2014 Cargill, Monsanto, dan BRI membantu 100 petani jagung di Mojokerto memperoleh akses kredit, benih, dan pelatihan sehingga menghasilkan lebih dari 900 ton jagung dari 50 hektare, sementara Syngenta bersama Bank Andara, Mercy Corps, ACA Insurance, dan BPR Pesisir Akbar membangun program pembiayaan mikro di Dompu untuk pengecer dan 640 petani jagung dalam 55 kelompok tani.
Pada awal 1990-an, kemitraan publik-swasta (PPP) muncul untuk bersama-sama membiayai dan melaksanakan proyek publik besar di bidang infrastruktur, air, energi dan lain-lain yang sulit pemerintah tanggung sendiri; keterlibatan swasta penting untuk meningkatkan efisiensi dan mendorong inovasi dalam layanan yang dulu perusahaan negara kelola, seperti penyediaan air, kesehatan dan pendidikan; di sektor pertanian, PPP dapat membiayai infrastruktur seperti irigasi atau fasilitas penyimpanan serta menyediakan layanan yang menguntungkan petani kecil.
Investasi semacam ini harus didorong lewat kebijakan serta kerangka regulasi, hukum dan kelembagaan yang mendukung. Hal itu penting karena dua alasan utama. Pertama, setiap skema investasi memerlukan layanan keuangan dari bank komersial. Namun bank komersial umumnya enggan membiayai petani kecil karena khawatir terhadap pengembalian investasi dan tingginya biaya transaksi relatif terhadap jumlah pinjaman. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyediakan kebijakan dan aturan yang membuat petani kecil lebih layak kredit, misalnya dengan mekanisme jaminan pinjaman.
Kedua, Pembiayaan Inovatif dapat memperkuat dukungan bagi seluruh elemen pengembangan rantai nilai yang tidak selalu menguntungkan secara finansial. Perlu mengintegrasikan produk ke dalam bursa komoditas karena bursa menyediakan harga acuan yang andal. Tugas penting ini harus ditangani oleh para ahli dari lembaga pemerintah maupun LSM.
Menggabungkan Transaksi
Menggabungkan transaksi Pembiayaan Inovatif dengan instrumen manajemen risiko membuka peluang arbitrase dan strategi pemasaran yang lebih fleksibel. Kebijakan dan regulasi yang tepat menjamin aliran produksi dari hulu ke hilir berjalan efektif. Dengan demikian, Pembiayaan Inovatif tidak hanya menguntungkan satu komoditas, tetapi juga komoditas terkait, menarik pelaku baru dan mendorong inovasi untuk memastikan keberlanjutan pertanian.
Akhirnya, dibutuhkan lembaga pengawas yang efektif untuk memastikan penerbit memakai dana sesuai tujuan dan mencegah pengalihan produk secara diam-diam kepada pembeli yang tidak dikenal oleh investor.