ISIL mengaku bertanggung jawab atas serangan teror di pusat Jakarta pada Kamis pagi. Meski demikian, banyak fakta terkait insiden tersebut masih belum jelas. Hingga kini, aparat belum dapat memastikan jumlah pelaku serta korban tewas dan luka. Dalam situasi seperti ini, informasi keliru sering menyebar lebih cepat daripada fakta sebenarnya. Fakta yang sejauh ini terungkap menunjukkan bahwa serangkaian ledakan mengguncang salah satu ruas utama Jakarta pada Kamis pagi. Sekelompok pria asing, sebagian membawa senjata otomatis, kemudian menargetkan Starbucks, pos polisi dan kompleks perbelanjaan serta teater di sekitar lokasi. Starbucks itu menempati kawasan strategis di depan Kantor PBB dan di tengah pusat pemerintahan serta bisnis Jakarta. Serangan mematikan ini melibatkan aksi bom bunuh diri, tembakan senjata ringan dan lemparan granat.
Polisi melumpuhkan beberapa penyerang saat operasi penanganan berlangsung. Aparat kini meyakini seorang petempur ISIL yang kembali dari luar negeri menjadi otak di balik serangan tersebut. Meski serangan tersebut mengejutkan banyak pihak, sejumlah pengamat menilai kejadian ini tidak sepenuhnya di luar dugaan. Sebelum masa liburan, kepolisian telah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi aksi teror yang menyasar gereja saat Natal maupun lokasi lain selama perayaan Tahun Baru. Detasemen 88 memimpin upaya antiteror Indonesia dan mengklaim berhasil menggagalkan sejumlah rencana serangan. Namun, laporan yang muncul menyebut aparat keamanan telah memperoleh informasi awal terkait potensi serangan pada Kamis. Setidaknya satu kedutaan asing juga telah mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya sebelum peristiwa ini berlangsung.
Generasi Baru
Pertanyaan utama yang muncul adalah apakah ISIL telah menginspirasi munculnya generasi baru pelaku teror di Indonesia. Kemungkinan tersebut cukup besar. Namun, jumlah warga Indonesia yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dalam konflik relatif sedikit dibandingkan sejumlah negara Eropa, yang menunjukkan bahwa ideologi ISIL tidak mendapat dukungan luas di Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia kini dinilai telah masuk dalam daftar sasaran kelompok ekstremis bersama sejumlah ibu kota internasional lainnya. Setelah keterlibatan ISIL terkonfirmasi, muncul pertanyaan apakah Indonesia akan mengambil langkah konfrontatif terhadap kelompok tersebut. Namun, hingga kini hukum Indonesia belum memungkinkan pemerintah menjerat anggota ISIL yang kembali dari Suriah hanya berdasarkan afiliasinya dengan kelompok ini.
Karena itu, kemungkinan Indonesia menyatakan perang secara resmi terhadap ISIL dinilai sangat kecil. Berbeda dengan sejumlah pemimpin Barat yang sering memakai narasi Perang Melawan Teror, Presiden Joko Widodo diperkirakan tidak akan menggunakan pendekatan bahasa serupa. Ia lebih sering memilih penyampaian yang tidak memancing eskalasi. Respons pemerintah akan sangat menentukan perkembangan situasi. Hingga saat ini, Presiden Joko Widodo telah menunjukkan sikap yang tegas sekaligus berhati-hati dalam menyampaikan pernyataannya. Dalam satu dekade terakhir, Indonesia berhasil meningkatkan efektivitas perangkat antiterornya. Namun, tantangan berikutnya adalah menyusun mekanisme hukum yang memungkinkan penindakan terhadap petempur ISIL yang kembali ke Indonesia, sekaligus mencegah penyebaran pengaruh mereka di tengah komitmen Indonesia dalam memerangi ekstremisme secara global.