Krisis Identitas dalam Tulisan Kontemporer

Dunia sastra kontemporer sangat berbeda dibandingkan dengan era tahun 1980-an dan 1990-an. Para penulis masa kini tidak lagi menghadapi konflik besar seperti yang dialami oleh tokoh-tokoh seperti Rendra dan Pramoedya. Sebaliknya, sebagaimana dijelaskan oleh Pam Allen, penulis-penulis yang berhasil kini menikmati kesempatan tampil di berbagai festival internasional, mirip dengan tren di negara lain. Namun, muncul pertanyaan: seberapa serius kita menghargai karya penulis jika hanya bertahan sebentar? Meg Downes menyoroti bahwa kepentingan komersial di balik industri penerbitan dan produk turunannya mendorong pergantian cepat baik dalam sosok penulis maupun gaya penulisan.

Perbandingan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan penting: dari perspektif mana seharusnya kita menilai karya sastra masa kini? Bagaimana kita dapat menentukan mana yang memiliki nilai atau makna yang signifikan?

Era ketika gagasan besar tentang identitas kolektif nasional diwujudkan melalui karya sastra mungkin telah berlalu. Kini, penulisan dalam bentuk-bentuk di luar genre sastra tradisional justru membentuk komunitas-komunitas kolektif dengan cara yang tak terduga. Seperti yang dicatat oleh Hendrik Maier, komunitas-komunitas ini berada pada tingkat yang lebih kecil daripada skala nasional. Dalam konteks ini, meninjau sastra kontemporer secara sekilas tetap menawarkan banyak wawasan yang berharga.

Menulis Melawan Globalisasi

Meningkatnya pengaruh genre budaya asing telah mendorong munculnya gerakan untuk menghidupkan kembali genre budaya lokal. Seno Gumira Ajidarma menyoroti upaya masa kini dalam memperkenalkan kembali karya-karya komikus legendaris dari masa lampau. Komik-komik modern kini banyak dipengaruhi oleh gaya global; misalnya, penggambaran tubuh karakter telah dipengaruhi oleh citra pahlawan super Amerika yang berotot. Seperti yang diungkapkan Seno, para tokoh wayang yang dahulu digambarkan sebagai bangsawan prajurit kini tampak seperti pelatih kebugaran. Gaya manga Jepang juga menjadi pengaruh besar yang sulit dibendung. Meski demikian, para penggemar komik bergaya Indonesia telah bersatu untuk menerbitkan ulang karya-karya lama secara hati-hati. Sebagai respons terhadap dominasi manga, perjuangan ini tergolong baru, namun jika dilihat sebagai bagian dari perdebatan panjang tentang representasi budaya India-Indonesia, maka ini adalah perjuangan yang telah berlangsung lama.

Selama beberapa dekade terakhir, Bali menjadi ruang yang penuh kegelisahan terkait identitas dan nilai-nilai komunitas. Dalam kajiannya tentang praktik lontar masa kini, Andrea Acri menunjukkan bahwa teks-teks klasik, yang kaya akan nilai-nilai luhur peradaban, tetap relevan bagi semua kelompok etnis dan menjadi sumber penting dalam mengekspresikan identitas kultural. Masyarakat Bali merespons warisan pengetahuan dalam naskah lontar dengan antusias, yang sebenarnya bukan hal mengejutkan. Yang menarik justru adalah keterkaitan antara lontar dan teknologi modern. Sebagai media tulis yang telah ada jauh sebelum munculnya teknologi cetak, lontar tidak hanya mampu bertahan dari arus inovasi, tetapi justru memperoleh nilai tambah di mata masyarakat Bali. Di sana, teknologi baru dimanfaatkan bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan untuk mendukung pelestarian, penyimpanan dan penyebaran lontar. Akibatnya, jumlah dan ragam judul lontar yang tersedia pun semakin berkembang.

Refleksi Emma Baulch mengenai proyek kosmopolitanisme populis Nanoe Biroe menjadi pelengkap yang menarik bagi pembaruan lontar yang dibahas oleh Acri. Lontar selama ini dianggap sebagai simbol pengetahuan dan peradaban yang sangat terpusat, hingga terkadang menutupi bentuk-bentuk simbolik lain yang lebih sederhana—seperti kaus. Yang mengejutkan dari proyek pesan kaus Nanoe Biroe adalah pemanfaatan bahasa Bali rendah, yang secara tradisional hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun, kegelisahan identitas di Bali saat ini menuntut ekspresi yang lebih luas daripada sekadar pelestarian teks-teks keagamaan klasik. Menurut Emma, penggunaan bahasa Bali rendah oleh Nanoe Biroe justru membentuk sebuah proyek budaya yang inklusif dan kosmopolitan, sesuatu yang sulit dicapai melalui genre budaya tinggi.

Menceritakan Kisah Sendiri

Artikel Maier menguraikan betapa besar kontribusi para penulis terhadap masyarakat masa kini. Meski demikian, cara pandangnya terhadap sejarah tidak memberikan kejelasan yang memadai. Inti dari pengamatannya menunjukkan bahwa konsep bangsa tidak lagi mampu menjadi landasan pemersatu dalam memahami dunia kepenulisan secara menyeluruh. Sebaliknya, beragam kepentingan yang tersebar kini lebih banyak diakomodasi oleh pertumbuhan dan perpecahan genre yang berlangsung dengan sangat cepat.

Meg Downes menguraikan secara rinci dinamika perubahan dalam dunia kepenulisan. Menjelang akhir masa pemerintahan Suharto, industri penerbitan mengalami pergeseran signifikan dengan munculnya penulis-penulis perempuan yang mengangkat isu pembebasan perempuan dari peran gender yang kaku. Kurang dari dua dekade kemudian, tren kembali bergeser, kali ini ditandai oleh hadirnya penulis muda yang secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai muslim dan/atau remaja. Meg menekankan adanya ketidakjelasan dalam perubahan tren yang berlangsung cepat ini. Ketika para penulis perempuan muda mulai menyuarakan pengalaman pribadinya, respons awal kita mungkin melihatnya sebagai bentuk positif dari perluasan ruang ekspresi publik. Namun, bersamaan dengan itu, proses adaptasi novel ke layar lebar mengungkap besarnya investasi yang mendukung sekaligus mengeksploitasi karya para penulis muda tersebut. Dengan kata lain, membuka ruang ekspresi baru juga berarti membuka peluang bisnis yang menggiurkan.

Menulis sejatinya tidak memerlukan modal, bahkan tidak bergantung pada keberadaan pembaca. Seperti yang diungkapkan oleh Pam Allen, kehadiran media sosial telah membuka peluang bagi siapa saja yang memiliki akses internet untuk menjadi penulis. Kini, individu dapat menyampaikan kisah pribadinya tanpa harus melalui proses penerbitan tradisional yang penuh batasan, terlepas dari latar belakang daerah, etnis atau agama yang membentuk narasi tersebut. Berkat semakin banyaknya platform digital, setiap penulis berkesempatan untuk terlibat dalam suatu komunitas… tetapi komunitas seperti apa sebenarnya? Menurut Hendrik Maier, penulis masa kini tidak lagi mengikuti jejak tradisi kepenulisan yang berkesinambungan. Sebaliknya, kumpulan karya ini menunjukkan bahwa yang menengok ke masa lalu dengan semangat dan tujuan tertentu melakukannya dari sudut identitas yang bersifat subnasional.

Visited 5 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *