Kabut Asap Memburuk, Pemerintah Terdesak Bertindak

Pemerintah Indonesia telah menahan sejumlah eksekutif dari tujuh perusahaan menyusul terjadinya polusi udara parah akibat kebakaran hutan ilegal, yang menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi dan memaksa penutupan sekolah-sekolah di negara-negara tetangga.

Pada puncak kejadian bulan ini, tercatat hampir 1.200 titik kebakaran di berbagai wilayah Indonesia—mayoritas berasal dari pembukaan lahan secara ilegal untuk perkebunan kelapa sawit dan industri kayu. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan periode mana pun dalam dua tahun terakhir, berdasarkan analisis data satelit NASA oleh Global Forest Watch.

Pemerintah telah menetapkan status darurat di Provinsi Riau, wilayah yang mengalami dampak terparah di Pulau Sumatra, dan mengerahkan ribuan personel militer untuk membantu pemadaman kebakaran. Di Sumatra Selatan saja, tercatat lebih dari 22.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut, sementara polusi udara telah menyebar hingga ke Singapura dan Malaysia. Jika kondisi tidak menunjukkan perbaikan, ajang Grand Prix Singapura yang dijadwalkan minggu ini berisiko dibatalkan.

Kebakaran hutan menjadi peristiwa yang berulang setiap musim kemarau di Indonesia dan menyumbang hingga 10% dari total emisi gas rumah kaca negara ini setiap tahunnya. Sebagian besar kebakaran disebabkan oleh praktik tebang dan bakar—metode murah yang digunakan untuk membuka lahan dengan mengorbankan hutan alami demi ekspansi perkebunan kelapa sawit dan industri kayu. Pada tahun ini, kondisi tersebut semakin memburuk akibat dampak kuat dari fenomena El Nino yang memicu kekeringan di berbagai wilayah. “Ini adalah kombinasi yang sempurna untuk bencana,” ujar Laurence.

Penangkapan

Presiden Joko Widodo telah menyatakan komitmennya untuk memberantas praktik tebang dan bakar. Sebagai bagian dari penyelidikan yang masih berlangsung terhadap 20 perusahaan dan lebih dari 120 orang, tujuh eksekutif dari perusahaan pulp dan kelapa sawit telah ditangkap.

Bill Laurance dari James Cook University di Townsville, Australia, menyebut perkembangan ini sebagai langkah positif. Ia mengatakan bahwa pemerintah tampaknya mulai mengambil tindakan, meskipun situasinya telah memburuk. Dampaknya pun tidak terbatas pada Indonesia saja, melainkan juga merugikan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan lainnya akibat paparan asap dan emisi karbon yang tinggi.

Masalah Kebakaran

Asap paling parah, seperti yang terjadi di wilayah Riau, berasal dari lahan gambut yang terbakar, yang bisa terus menyala selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Di area yang telah mengalami deforestasi, lapisan gambut—yang kedalamannya bisa mencapai puluhan meter—menjadi sangat rentan terbakar saat mengering. Kondisi ini sering kali diperburuk oleh proses pengeringan yang sengaja dilakukan agar lahan lebih sesuai untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit dan hutan produksi.

Berdasarkan laporan dari World Resources Institute, kebakaran hutan telah meluas hingga ke kawasan taman nasional, termasuk Taman Nasional Tanjung Puting, yang merupakan salah satu habitat terakhir bagi spesies langka seperti orangutan, gajah Sumatra dan macan dahan.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *