Jumlah Korban Tewas Bertambah: Kecelakaan Pesawat Soroti Kegagalan Keamanan

Menurut pernyataan pemerintah, sebanyak 141 jenazah telah berhasil ditemukan menyusul jatuhnya pesawat angkut militer di kawasan permukiman Medan pada hari Selasa.

Pihak militer menyatakan bahwa seluruh 122 penumpang yang berada di dalam pesawat Hercules C-130 tidak ada yang selamat setelah pesawat tersebut menghantam rumah dan hotel, lalu terbakar.

Sejumlah korban diperkirakan merupakan anggota keluarga dari prajurit laki-laki maupun perempuan.

Meski demikian, data terbaru menunjukkan bahwa sedikitnya 19 orang yang berada di darat turut menjadi korban jiwa dalam insiden tersebut.

Para responden menilai bahwa militer telah beberapa kali mengubah daftar penumpang, yang mencerminkan lemahnya sistem pelacakan terhadap siapa saja yang berada di dalam pesawat.

Mengapa Ada Begitu Banyak Warga Sipil di Dalam Pesawat?

Militer memberikan izin kepada anggota keluarga prajurit, baik laki-laki maupun perempuan, untuk ikut serta dalam penerbangan militer. Namun, pengertian kerabat dalam hal ini cukup luas dan kerap mencakup individu di luar lingkup keluarga inti.

Meski demikian, insiden jatuhnya pesawat Hercules di Medan kemungkinan telah membuka tabir mengenai aktivitas militer yang telah berlangsung lama di pangkalan udara yang terletak di wilayah terpencil.

Warga yang menetap di wilayah seperti Kepulauan Natuna—yang menjadi tujuan keberangkatan pesawat tersebut—menyadari sepenuhnya bahwa menggunakan transportasi militer sering kali menjadi alternatif yang lebih ekonomis dan kadang lebih praktis saat perlu bepergian.

Militer menolak anggapan bahwa hal tersebut merupakan kebiasaan yang lazim, dan menyatakan komitmennya untuk mengusut serta menindak oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mungkin terlibat di dalam institusinya.

Pada Rabu pagi, di sebuah rumah sakit di Medan, petugas kepolisian Agustinus Tarigan menyampaikan kepada para wartawan bahwa sebanyak 141 jenazah telah diterima.

Seorang juru bicara menyampaikan bahwa sejumlah korban perlu dikenali dengan bantuan sampel darah.

Api dan Asap

Penyebab jatuhnya pesawat masih belum dapat dipastikan, namun sejumlah saksi mata menyebutkan bahwa pesawat tersebut terlihat mengalami gangguan sesaat setelah lepas landas dari Medan menuju Tanjung Pinang, sebuah pulau yang terletak di lepas pantai Sumatra.

Seorang saksi bernama Elfrida Efi mengatakan bahwa pesawat tersebut terbang sangat rendah dan berulang kali melintas di atas kepala.

“Terdapat kobaran api dan asap pekat berwarna hitam. Pada lintasan ketiga, pesawat tersebut menghantam atap hotel dan seketika meledak.”

Pada hari Selasa, Kepala Staf Angkatan Udara, Agus Supriatna, menyampaikan bahwa sang pilot sempat mengajukan permintaan untuk kembali ke pangkalan akibat adanya kendala teknis.

Ia menyatakan bahwa pesawat tersebut jatuh ketika sedang melakukan manuver belok ke kanan untuk kembali ke bandara.

Melalui akun Twitter-nya, Presiden Joko Widodo menyampaikan rasa duka cita kepada keluarga para korban, seraya mendoakan agar diberi ketabahan dan kekuatan.

Ia turut menyampaikan bahwa dirinya telah menginstruksikan pihak militer untuk melakukan reformasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan persenjataan.

Visited 4 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *