Eksploitasi Leuser: Wilmar & Musim Mas Abaikan Kelestarian Demi Sawit

Menurut laporan terbaru dari organisasi lingkungan Greenomics, dua pemasok minyak sawit besar, Wilmar dan Musim Mas, masih melakukan perusakan terhadap hutan bernilai tinggi di kawasan Ekosistem Leuser, meskipun mayoritas pelanggan utamanya telah berkomitmen untuk menghindari praktik deforestasi dan telah berulang kali menyoroti tindakan tersebut.

Wilmar dan Musim Mas telah menghentikan kemitraannya dengan Mopoli Raya, menyusul temuan bahwa anak perusahaannya, Aloer Timur, masih melakukan perusakan terhadap hutan dengan stok karbon tinggi (HCS) di kawasan Leuser hingga tanggal 24 Juni 2015, berdasarkan bukti foto dalam laporan tersebut. Wilmar telah meminta perusahaan itu untuk menerapkan kebijakan keberlanjutan yang sejalan dengan standar miliknya, dan memberikan tenggat waktu tiga bulan untuk memenuhi permintaan tersebut, jika tidak, kerja sama akan dihentikan untuk waktu yang tidak ditentukan.

Namun, menurut Greenomics, aktivitas Mopoli Raya yang telah berlangsung selama berbulan-bulan menimbulkan keraguan terhadap efektivitas kebijakan penangguhan pembelian sebagai cara untuk mengatasi perilaku pemasok yang tidak patuh, termasuk Musim Mas dan kemungkinan Wilmar. Dalam laporannya, Greenomics menyatakan bahwa langkah penangguhan tersebut tampaknya gagal mencegah pemasok tersebut membuka perkebunan kelapa sawit baru di kawasan hutan dengan stok karbon tinggi (HCS) dan hutan dengan nilai konservasi tinggi (HCV).

Dalam pernyataan resmi menanggapi laporan tersebut, Musim Mas menyebutkan bahwa meskipun telah terjadi kemajuan berarti dalam menangani pemasok yang terlibat dalam praktik deforestasi, penghentian pembelian belum terbukti sebagai langkah efektif untuk memberikan perlindungan nyata bagi Ekosistem Leuser. Musim Mas saat ini tengah berdialog dengan pihak industri dan para pemangku kepentingan guna mengevaluasi kembali pendekatan konservasi hutan yang lebih tepat.

Pegawai Mopoli Raya yang menerima panggilan di kantor perusahaan pada hari Rabu dan Jumat pekan ini menyatakan bahwa manajer lapangan sedang tidak dapat dihubungi untuk memberikan tanggapan.

Wilmar dan Musim Mas tergabung dalam Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP), sebuah inisiatif penting yang menandai komitmen bersama untuk keberlanjutan. Kesepakatan ini juga melibatkan perusahaan-perusahaan besar lainnya seperti Cargill, Golden Agri-Resources, Asian Agri serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Meskipun kelima perusahaan dagang minyak kelapa sawit itu menguasai sekitar 80 hingga 90% pasar global dalam hal pengolahan tandan buah segar, eksekutif IPOP menyatakan bahwa belum tentu memiliki kendali penuh terhadap pemasok seperti Mopoli Raya.

Di wilayah Provinsi Sumatera Utara dan Aceh, masih terdapat beberapa pabrik yang tidak terikat pada komitmen untuk menghentikan deforestasi. Karena itu, pabrik-pabrik tersebut tetap menjadi tempat pemasaran tandan buah segar dari Mopoli Raya, meskipun perusahaan-perusahaan anggota IPOP sedang mengalami penangguhan.

Dalam laporannya, Greenomics menyatakan bahwa hingga kini Wilmar dan Musim Mas belum berhasil merumuskan langkah yang benar-benar efektif untuk melindungi Ekosistem Leuser.

Menurut Greenomics, inti persoalan terletak pada ketidakmampuan perusahaan-perusahaan IPOP dalam melakukan pengawasan yang cukup terhadap para pemasoknya serta dalam mencegah praktik deforestasi.

Greenomics menuliskan dalam laporannya bahwa tanpa adanya pemantauan yang konsisten, pelaksanaan kebijakan tersebut tidak akan lebih dari sekadar tercantum di halaman siaran pers IPOP.

Wilmar mengakui bahwa pengawasan yang dilakukan masih bisa ditingkatkan dan menyatakan bahwa tengah berusaha untuk memperbaiki dan memperkuat mekanisme tersebut.

Juru bicara Wilmar menyampaikan bahwa mereka memandang tanggung jawab ini dengan penuh keseriusan, yang mencakup keterlibatan aktif serta dukungan terhadap para pemasok dalam proses menuju praktik berkelanjutan. Meskipun para pemasok belum sepenuhnya mampu memenuhi Kebijakan Grup karena berbagai kendala, selama menunjukkan niat dan komitmen yang disertai dengan tindakan nyata, perusahaan tetap memberikan dukungan.

Wilmar meyakini bahwa mendampingi proses perubahan industri merupakan langkah yang lebih tepat dibandingkan langsung memutus kerja sama dengan pemasok yang menghadapi kendala.

Visited 4 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *