Presiden baru menunjukkan sikap tegas yang tak terduga, kabar buruk bagi sembilan penyelundup Australia yang menghadapi hukuman mati. Tak lama setelah resmi menjabat, Joko Widodo menyatakan akan mengeksekusi puluhan pengedar narkoba, termasuk Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Jokowi menegaskan akan melanjutkan kampanye anti-narkoba yang populer namun kontroversial, meski mendapat kecaman internasional. Ia menegaskan tidak memberi toleransi bagi pengedar, sambil menyebut sekitar 50 orang Indonesia meninggal setiap hari. “Tidak ada toleransi,” tegasnya. Pemimpin politik, pebisnis, akademisi, dan tokoh agama berupaya keras menyelamatkan dua warga Australia itu. Laporan menyatakan mereka telah bertobat dari perdagangan heroin. Perdana Menteri Tony Abbott memimpin kampanye yang terarah dan berhati‑hati untuk mencoba mengubah pandangan Jokowi. Suara keberatan mencapai level tertinggi, yang kemungkinan turut menyumbang pada penundaan pelaksanaan putusan.
Pada Rabu, Abbott tampak melampaui batas dengan janji respons keras bila eksekusi tetap berjalan, yang menimbulkan reaksi pedas dan kekecewaan di kalangan kolega seniornya. Meski begitu, jika Abbott memang kurang menahan diri dalam retorika, hal ini kecil kemungkinannya mengubah hasil akhir. Orang-orang yang dekat dengannya mengatakan bahwa setelah Jokowi mengambil keputusan, ia tidak akan mengubah pendiriannya. Menjelang pelantikannya pada Oktober, Fairfax Media mewawancarai Jokowi; ia tampak rendah hati, lembut, dan sangat manusiawi saat berinteraksi dengan warga di jalan. Wartawan menanyakan apakah ia terlalu baik untuk mendorong reformasi harga bensin yang berat dan menghadapi Prabowo Subianto, mantan jenderal kaya yang sulit dia prediksi serta tampak mampu dan bersedia menjatuhkannya dari bangku oposisi. Jokowi menanggapi dengan tawa dan berjanji meneruskan reformasi tersebut, sambil bertekad mengungguli Prabowo dalam waktu enam bulan. “Saya benar‑benar yakin akan hal ini,” ujarnya, wajahnya tetap tenang dan tidak berubah.
Sikap Keras
Menariknya, Jokowi berjanji akan bersikap lebih tegas soal kedaulatan nasional daripada lawan yang penuh semangat itu. Banyak pengagum Jokowi merasa kecewa setelah ia menyetujui penempatan kroni‑kroni Megawati, tokoh wanita berpengaruh partainya, pada jabatan‑jabatan kunci. Kelembutan dan keengganannya berkonfrontasi secara terbuka—ciri khas orang Jawa—menyembunyikan sifat keras kepala yang membawanya dari permukiman kumuh Solo ke istana presiden. Dalam beberapa bulan awal kepresidenannya, Jokowi menepati komitmennya memangkas subsidi bahan bakar yang membebani anggaran dan menyedot seperlima penerimaan negara. Ia juga berhasil menempatkan Prabowo pada posisi yang kalah. Baru‑baru ini Jokowi berseteru serius dengan Megawati, putri Soekarno, setelah ia menggagalkan pencalonan kapolri pilihan Megawati.
Meskipun masih terlalu dini untuk menilai sepenuhnya, Jokowi menunjukkan komitmen pada janji‑janji utama dan siap memperjuangkan hal‑hal penting tanpa terpengaruh anggapan bahwa sponsor seperti Megawati mengendalikannya. Keteguhan yang tak terduga itu sekaligus menyenangkan dan memancing kemarahan penggemar. Kelompok pendukung dekat Jokowi percaya ia akan memanfaatkan sifat keras kepalanya untuk terus menegakkan perang melawan narkoba, meskipun sekelompok kecil LSM, pengacara, dan komunitas internasional mengecam tindakan itu sebagai salah dan tragis. Adakah kemungkinan penyelamatan bagi puluhan tahanan Indonesia dan asing, termasuk Chan dan Sukumaran, yang akan dihadapkan pada regu tembak? Dalam wawancara Januari, Jokowi menegaskan, “Pengedar narkoba tidak akan mendapat amnesti.” Walau menuai kemarahan internasional yang membuat Brasil dan Belanda menarik dutanya dan pemimpin tertinggi Australia mengajukan protes keras. Menjawab dengan gelengan kepala, presiden menegaskan bahwa ia akan terus bersikap tegas.