Ketika tragedi terjadi, orang sering membahasnya seolah hanya satu peristiwa mengerikan. Gempa bumi datang, membuat tanah berguncang hebat dan bergetar. Rumah, kantor serta bangunan lain ambruk. Jalanan retak dan terbelah. Sejumlah orang meninggal, sementara sebagian lainnya berhasil menyelamatkan diri.
Setelah kejadian berlalu, banyak orang menganggap semuanya sudah selesai. Ancaman mereda, lalu fokus beralih ke penyelamatan dan pemulihan. Komunitas yang porak-poranda kemudian membangun diri kembali.
Namun, kenyataannya, kekacauan akibat bencana hampir tidak pernah sesederhana ini. Begitu ancaman utama mereda, rangkaian tragedi susulan kerap muncul dari pemicu awal dan bisa sama mematikan, bahkan lebih mematikan.
Pada akhir November, hujan deras mengguyur Pulau Sumatra dan memicu longsor serta banjir besar. Arus deras ini menyeret desa-desa, menimbun permukiman, dan memutus jalur akses menuju kota-kota.
Petugas melaporkan lebih dari 900 orang meninggal, dan pihak berwenang mengevakuasi sekitar satu juta orang. Tim penilai memperkirakan lebih dari tiga juta orang terdampak, dan beberapa pekan kemudian pihak berwenang masih mencatat ratusan orang hilang.
Meskipun hujan monsun dan ancaman awal mungkin sudah berlalu, bahaya sekunder tetap muncul dan mulai terasa. Banyak warga selamat dari arus deras dan pusaran lumpur. Namun banyak yang kehilangan rumah, terluka, atau jatuh sakit. Mereka juga kekurangan makanan dan air bersih.
Para pengungsi yang berdesak-desakan di penampungan darurat di tiga provinsi utara Sumatra menderita berhari-hari tanpa air bersih. Layanan medis tidak memadai sehingga banyak pengungsi jatuh sakit parah. Laporan menyebut beberapa orang meninggal sebelum bantuan tiba karena banjir dan longsor terus mengisolasi sejumlah komunitas.
Angkatan laut mengerahkan kapal perang untuk mengirim pasokan ke kota pesisir yang parah terdampak. Helikopter menjatuhkan paket makanan ke daerah pedalaman, tetapi tim penyelamat masih belum menjangkau beberapa wilayah.
Sebagian penyebabnya adalah besarnya tantangan logistik untuk menavigasi beberapa bagian pulau ini, yang tetap sulit warga lalui bahkan dalam kondisi terbaik tanpa adanya krisis ekologi dan kemanusiaan.
Akses Menyulitkan
Akses ke daerah pedesaan biasanya hanya lewat satu jalur tanah berliku yang menembus hutan dan perkebunan, sehingga menyulitkan upaya penyelamatan dan rehabilitasi. Beberapa lokasi paling terdampak hanya bisa petugas jangkau dengan alat berat penggali yang memerlukan beberapa hari untuk mereka kerahkan di sepanjang tepian sempit dan lereng gunung; di tempat lain, butuh dua sampai tiga hari untuk mencapai kota terdekat karena jalan tertutup lumpur dan puing setebal meteran. Di banyak titik, sepeda motor menjadi moda paling praktis, tetapi ini menghambat pengiriman barang besar seperti tenda dan kotak obat serta makanan.
Masalah keterlambatan akses makin parah karena komunitas terpencil di daerah pedesaan umumnya bergantung pada bahan makanan segar yang mereka masak setiap hari dan berbelanja di pasar untuk ikan, daging, buah serta sayuran. Makanan olahan seperti kaleng jarang tersedia, kecuali beberapa kebutuhan pokok seperti mi instan dan beras. Ketika banjir melanda, banyak komunitas kemungkinan tidak memiliki persediaan makanan tahan lama yang cukup untuk bertahan sambil menunggu tim penyelamat menembus tanah longsor, infrastruktur rusak dan kondisi sulit untuk mencapai lokasinya.
Bahkan jika bantuan berhasil sampai, dalam dua minggu sebagian besar persediaan makanan di wilayah terisolasi kemungkinan sudah habis; lahan yang biasa memenuhi kebutuhan pangan atau memasok pasar juga terendam air dan lumpur sehingga tanaman seperti kacang‑kacangan, jagung, wortel, bayam, cabai dan kubis rusak atau tenggelam.
Banyak hewan luput dari perhatian di daerah terdampak karena perhatian tertuju pada korban manusia, padahal air banjir menyerang semuanya, termasuk ternak yang menjadi sumber pangan atau penghasilan.
Setelah banjir di Sumatra pada 2024, sebuah video seekor babi yang hendak warga sembelih terlihat mengapung di air dan menjadi viral. Saat Gunung Semeru meletus di Jawa pada 2021, lebih dari 30 orang tewas; abu vulkanik merendam ternak sehingga dokter hewan harus berjuang berhari-hari untuk menyelamatkannya, sementara petani yang kehilangan tempat tinggal panik dan menjual sapi serta kambing yang terluka.
Mempersempit Jalur
Di Sumatra, menipisnya stok makanan, air dan waktu semakin mempersempit jalur untuk menerima bantuan. Meskipun banyak pusat donasi bermunculan, sekadar mengirimkan atau mentransfer uang agar warga membeli kebutuhan sendiri bukanlah solusi yang efektif.
Saat banjir, ATM sering tak berfungsi karena pemadaman listrik atau terendam air dan lumpur. Bila masih aktif, biasanya uang di dalamnya cepat habis dan tidak sempat diisi ulang. Bahkan jika orang membawa banyak uang tunai, uang ini menjadi tidak berguna karena barang kebutuhan sudah habis.
Ini bukan sekadar bayang-bayang kelaparan yang mengancam Sumatra.
Setelah banjir surut, muncul ancaman tak kasat mata lain seperti pneumonia, demam berdarah dan penyakit yang ditularkan lewat air. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa penyakit seperti diare, demam dan mialgia dipicu oleh kondisi lingkungan dan tempat tinggal yang belum pulih pascabencana.
Dalam banyak kasus, fasilitas kesehatan terdekat terletak di rute yang terputus atau penuh pasien, sementara apotek tidak beroperasi atau stoknya rusak.
Hari demi hari berlalu sementara kesengsaraan terus berlangsung; Sumatra tidak hanya terkena banjir dua minggu yang lalu.
Sebaliknya, pulau ini dilanda bencana alam hebat yang memunculkan serangkaian masalah lanjutan—termasuk ancaman-ancaman yang kurang mencolok seperti ular berkepala banyak, yang meski tak sedramatis dan kurang mendapat sorotan media tetap mematikan dan belum terselesaikan.