Keluarga dua warga Australia yang terancam hukuman mati meminta presiden mengunjungi Penjara Kerobokan. Mereka yakin siapa pun yang melihat kontribusi luar biasanya di penjara tidak akan mendukung eksekusi.
Dalam wawancara emosional hari Sabtu, keluarga Andrew Chan dan Myuran Sukumaran mengungkapkan rasa terpukul karena Presiden Joko Widodo menolak grasi.
Meski eksekusi semakin dekat, mereka tetap berharap nyawa dua pria ini terselamatkan dengan dukungan pemerintah Australia.
Mereka merasa frustrasi karena para pemimpin dan sistem peradilan belum menghargai terpidana mati yang kini membantu sesama. Mereka berharap suatu hari nanti hal itu terjadi.
Chinthu Sukumaran, adik Myuran, mengatakan bahwa mereka harus melihat langsung kondisi di dalam penjara.
“Siapa pun yang masuk ke sana dan berada beberapa menit akan merasa sangat terkesan.”
Chan dan Sukumaran mengubah hidupnya setelah awalnya membangkang dan tidak kooperatif saat tertangkap pada tahun 2005 sebagai pemimpin sindikat Bali Nine yang mencoba menyelundupkan delapan kilogram heroin ke Australia.
Kerobokan, salah satu penjara paling terkenal, mengalami dampak yang sangat besar.
Mereka memperkenalkan kursus seni, komputer, bahasa Inggris dan desain grafis. Mereka juga menjalankan bisnis percetakan kaos serta menjual karya seni untuk menghasilkan dana yang kemudian mereka salurkan kembali ke penjara.
Keduanya telah mengatur kursus pertolongan pertama, memasak serta kelas filsafat dan psikologi.
Keduanya rutin memberikan nasihat kepada narapidana dan masyarakat luar tentang bahaya narkoba.
Dampaknya sangat besar hingga Kepala Lapas saat itu, Siswanto, bersaksi mendukung kedua pria tersebut dalam upaya banding hukuman mati yang akhirnya gagal.
Raji Sukumaran, ibu Myuran, mengatakan bahwa ia yakin Presiden Jokowi tidak akan memerintahkan eksekusi jika mengetahui perubahan besar yang telah mereka lakukan.
Ratusan narapidana telah mengikuti kursus atau menerima konseling. Michael Chan menyatakan bahwa jika mendapat kesempatan, akan mengatakan kepada Presiden Jokowi bahwa warga Indonesia sendiri yang paling merasakan manfaat dari pekerjaannya.
Menurut kakak Andrew Chan, yang mereka bantu bukan warga Australia, melainkan warga Indonesia.
Kotribusi pada Negara
“Mereka berusaha memberikan kembali kepada negara yang dulu, menurut saya, pernah mereka permalukan dalam arti tertentu.”
Para pengacara kedua pria itu berencana mengajukan banding terakhir untuk menghentikan eksekusi. Keluarganya memiliki tim yang terdiri dari beberapa pengacara terbaik dan menyatakan puas dengan dukungan pemerintah Australia.
Chan, yang dihubungi Perdana Menteri Tony Abbott pada hari Jumat, mengatakan yakin pemerintahnya sudah melakukan segala upaya.
“Orang luar tidak mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Ada proses yang sedang berlangsung dan kita harus membiarkannya berjalan sebagaimana mestinya.”
Meski demikian, kedua keluarga menyadari bahwa kematian bisa terjadi kapan saja.
Ibu Sukumaran yang putus asa mengatakan sangat ketakutan. Ia diberi tahu bahwa putranya bisa dibawa keluar dan ditembak kapan saja. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan merasa putranya tidak pantas mati.
Keluarga Chan dan Sukumaran akan kembali ke Bali minggu ini, untuk pertama kalinya sejak kabar kegagalan banding.
“Aku hanya ingin memeluknya,” ujar Michael Chan. “Tak ada kata yang mampu mengungkapkan perasaanku.”