Asap tebal kembali menutupi beberapa kawasan di Asia Tenggara; polusi ini berasal dari pembakaran hutan dan lahan gambut untuk membuka lahan pertanian, terutama perkebunan kelapa sawit yang menguntungkan.
Fenomena tahunan yang sering melanda negara tetangga ini telah menyebabkan kematian dan berbagai penyakit.
Pemerintah yang telah menetapkan keadaan darurat di enam provinsi, berkali-kali menegaskan sedang menindak tegas praktik tebang-bakar.
Isu ini terus memicu ketegangan diplomatik, karena Singapura dan Malaysia menuduh Indonesia belum cukup menangani masalah tersebut.
Hidup dalam Kabut
Bau asap tipis tercium di Singapura selama beberapa hari, namun pada hari Jumat pemandangan dari jendela kantor semakin suram.
Badan pemantau mengukur polusi udara dengan Indeks Standar Polutan Singapura (PSI) dan menyatakan nilai di atas 100 sebagai tidak sehat. Meskipun rata‑rata 24 jam pada hari Jumat hanya sedikit melewati ambang, pembacaan tiga jam pada pukul 14.00 mencapai 215.
Asap tercium hingga ke dalam ruangan, menempel pada rambut dan pakaian serta membuat mata terasa gatal.
Tak heran beberapa orang membatalkan rencana di luar ruangan dan membeli banyak masker, namun Singapura masih jauh dari puncak kabut asap parah tahun lalu.
Dulu polusi udara sempat melampaui 300. Jarak pandang sangat terbatas sehingga keluar rumah tanpa masker nyaris tak terpikirkan.
Apa Penyebab Kabut Asap?
Setiap tahun kebakaran lahan pertanian melanda seluruh Sumatra dan sebagian Kalimantan; sekitar 100 titik api terdeteksi pada hari Jumat.
Kebakaran karena perusahaan besar dan petani kecil yang membuka lahan dengan tebang‑bakar untuk perkebunan sawit serta industri pulp dan kertas.
Peladang dan pihak yang membuka lahan sering menyalakan api, yang kemudian kerap tak terkendali dan merembet ke hutan lindung serta lahan gambut. Api lahan gambut terus membakar di bawah tanah selama berbulan-bulan, sehingga petugas membutuhkan banyak air untuk memadamkannya.
Seberapa Besar Dampaknya?
Pada puncaknya, kabut asap tahunan meluas hingga ratusan kilometer, menyebar ke Malaysia, Singapura, selatan Thailand dan Filipina, sehingga menurunkan kualitas udara secara signifikan.
Dalam beberapa tahun terakhir masalah ini kian parah karena lahan terus dibuka untuk memperluas perkebunan demi keuntungan perdagangan minyak sawit.
Apa yang Dilakukan Indonesia?
Indonesia menyatakan telah menangkap 450 orang sepanjang tahun ini terkait kebakaran, beberapa di antaranya terkait dengan perusahaan.
Presiden Joko Widodo memerintahkan penambahan sumber daya untuk pemantauan dan penanggulangan krisis, namun tahun lalu ia menyatakan bahwa diperlukan setidaknya tiga tahun untuk mulai melihat hasilnya.
Apakah Berbahaya?
Selain mengiritasi saluran pernapasan dan mata, polutan ini juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan kronis yang serius.
Indeks yang dipakai untuk menilai kualitas udara di wilayah ini umumnya mengukur partikel debu kasar (PM10), partikel halus (PM2.5), sulfur dioksida, karbon monoksida, nitrogen dioksida dan ozon.
Partikel PM2.5 dapat masuk hingga ke bagian dalam paru-paru dan telah berhubungan dengan timbulnya gangguan pernapasan serta kerusakan paru.
Walau Singapura sering mengeluhkan kualitas udara yang buruk, di beberapa wilayah Indonesia kabut asap bisa bertahan berbulan‑bulan dan berakibat fatal.