Pada awal pagi 1 Oktober 1965, tujuh kesatuan militer bergerak menuju kediaman tujuh jenderal tertinggi Angkatan Darat.
Petugas menewaskan tiga orang dan menahan tiga orang lainnya. Panglima TNI Abdul Haris Nasution berhasil lolos, tetapi putrinya yang berusia lima tahun terluka parah akibat tembakan.
Para penangkap membawa tiga jenderal ke pangkalan udara utama di Jakarta Selatan. Di sana para penangkap membunuh mereka, lalu membuang jenazah ke dalam sumur.
Peristiwa ini mengubah arah sejarah modern, memicu salah satu pembantaian massal paling mengerikan abad ke-20. Peristiwa ini menghancurkan Partai Komunis terbesar ketiga di dunia, dan mengantarkan seorang jenderal berkuasa selama tiga puluh tahun. Kepemimpinannya menempatkan negara ini di bawah pengaruh Amerika Serikat sepanjang Perang Dingin.
Meski telah berlalu setengah abad, peristiwa ini masih menyisakan banyak tanda tanya. Pelaku utama serangan terhadap para jenderal dan tujuan sebenarnya masih belum terungkap jelas.
Dampak peristiwa berikutnya masih membekas dalam ingatan kolektif masyarakat hingga kini. Jutaan keluarga menderita trauma akibat pembantaian dan penahanan yang kejam. Peristiwa itu membuat banyak keluarga merasa bersalah karena keterlibatan mereka.
Setiap tahun stasiun televisi menayangkan film yang merepresentasikan versi resmi kejadian itu. Upacara peringatan rutin pemerintah gelar di sekitar sumur pangkalan udara yang kini terkenal sebagai Lubang Buaya.
Kisah ini mengaitkan percobaan kudeta dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Narasi itu menggambarkan anggota partai sebagai sosok keji dan brutal. Mereka menyebabkan penderitaan luar biasa dan menewaskan enam jenderal serta satu letnan.
Doktrin Soeharto menampilkan komunisme sebagai ancaman jahat dan tak beragama yang bisa menyebar jika masyarakat lengah. Narasi itu secara implisit membenarkan kelangsungan pemerintahan Orde Baru yang otoriter.
Namun, selama masa pemerintahan Soeharto, kebebasan untuk membicarakan peristiwa tersebut sangat terbatas. Di sejumlah desa terpencil di wilayah Jawa, terdapat tempat-tempat di mana pembunuhan terhadap individu komunis pernah terjadi.
Generasi muda menanyakan jawaban kepada orangtua mereka, tetapi orangtua hanya diam dan tidak memberi penjelasan.
Ketegangan Memuncak
Ketegangan antara militer dan Partai Komunis memuncak. Enam jenderal tewas dalam serangan malam yang pasukan pro-komunis lakukan.
Sekumpulan perwira militer yang seorang kolonel dari pasukan pengawal istana Presiden Soekarno pimpin berusaha melakukan kudeta.
Jenderal Soeharto memimpin operasi penumpasan terhadap kelompok komunis yang berlangsung brutal. Operasi itu menewaskan ratusan ribu orang yang berpandangan politik kiri.
Pihak berwenang menangkap lebih banyak orang dan menjebloskan mereka ke penjara tanpa proses peradilan.
Pihak militer memaksa Presiden Soekarno menyerahkan wewenang darurat kepada Jenderal Soeharto pada tahun 1966. Soeharto resmi menggantikan posisi presiden tahun berikutnya dan memerintah negara lebih dari tiga dekade.
Beberapa orang mengalami kehancuran hidup akibat gejolak 1965. Mereka terhalang melanjutkan pendidikan karena neneknya pernah terkait dengan kelompok komunis. Lainnya kesulitan mendapatkan pekerjaan layak karena pernah masuk penjara sebagai tahanan politik.
Sampai tahun 1995, para mantan tahanan politik memiliki kartu identitas nasional bertanda huruf ET. Peneliti memperkirakan jumlah mereka mencapai 100.000 orang. Pihak berwenang menahan mereka dalam kondisi memprihatinkan tanpa proses hukum antara 1965 dan 1979.
Para mantan tahanan politik terus menyuarakan keluhan tentang perlakuan diskriminatif yang mereka alami.
Gelombang aksi massa yang meledak secara mendadak menggulingkan kekuasaan Soeharto pada 1998. Kejatuhan itu menghapus rasa takut yang membungkam pembicaraan tentang peristiwa 1965.
Situasi ini memberi kesempatan bagi para penyintas pembantaian untuk, pertama kali, menyadari kebenaran. Mereka menyadari bahwa narasi resmi yang selama ini mereka terima sebagian besar merupakan propaganda.
Ketegangan yang intens meliputi situasi pada tahun 1965. Sejak 1959, pemerintahan tunggal di bawah Presiden Soekarno menggantikan sistem parlementer yang masih awal. Masyarakat mengenal Soekarno sebagai pendiri bangsa yang memimpin dengan gaya dinamis.
Menumpas Pemberontakan
Pihak keamanan berhasil menumpas pemberontakan dan usaha kudeta. Ketegangan yang nyaris menjadi konflik terus melanda negara ini. Pasukan Indonesia berjuang merebut dan akhirnya menguasai wilayah Nugini yang sebelumnya berada di bawah kendali Belanda. Sementara itu, pasukan Indonesia bertempur melawan tentara Inggris yang menjaga federasi Malaysia yang baru terbentuk.
Soekarno menentang dominasi imperialisme yang Amerika Serikat pimpin, dan sebagai bentuk protes, menarik Indonesia dari keanggotaan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada saat yang sama, kondisi perekonomian negara nyaris mengalami kehancuran.
Di tengah gejolak, Partai Komunis Indonesia (PKI), yang memiliki sekitar tiga juta anggota dan kemungkinan memiliki dukungan oleh 20 juta simpatisan, berupaya memperluas pengaruhnya.
PKI juga mendorong program redistribusi tanah di Jawa yang padat penduduk; dalam beberapa kasus mereka melaksanakan redistribusi itu secara paksa sehingga merugikan pemilik tanah dari kalangan Muslim ortodoks.
Angkatan Darat, yang saat itu mendapat pelatihan dari Amerika Serikat dan memainkan peran strategis dalam sektor industri nasional, menganggap partai tersebut sebagai ancaman—terutama karena usahanya merekrut simpatisan dari kalangan militer. Kondisi kesehatan Soekarno yang memburuk membuat kedua pihak semakin sulit menghindari konflik.
Namun, usaha kudeta terhadap para jenderal senior tersebut berlangsung secara lemah dan tanpa perencanaan yang matang.
Sejumlah perwira militer berpaham kiri dari tingkat menengah memimpin gerakan ini, namun hanya beberapa kesatuan militer yang memberikan dukungan terbatas. Ketua PKI DN Aidit turut merencanakan aksi itu, tetapi tokoh paling berpengaruh adalah Sjam Kamaruzaman, agen misterius yang memimpin Biro Khusus—unit PKI yang kurang dikenal dan bertugas menyusup ke angkatan bersenjata.
Namun, mayoritas anggota kelompok tersebut tidak mengetahui adanya rencana tersebut dan tidak berada dalam posisi yang siap untuk mengambil keuntungan darinya.
Secara mengejutkan, para pelaku justru tidak memperhitungkan Jenderal Soeharto, yang saat itu memimpin Konstrad, satuan cadangan strategis yang memiliki peran krusial.
Pengunduran Diri
Pasca pengunduran diri Soeharto pada tahun 1998, Kolonel Latief—satu-satunya pelaku yang masih hidup—mengungkapkan bahwa ia telah memberitahu Soeharto mengenai rencana tersebut beberapa hari sebelumnya dan meyakini bahwa Soeharto mendukungnya. Namun, keyakinan itu ternyata merupakan kesalahan perhitungan yang sangat fatal.
Soeharto memimpin aksi balasan yang berlangsung dengan cepat dan efektif, berhasil melumpuhkan kelompok pelaku dalam kurun waktu satu hari. Para tokoh utama PKI ditangkap; sebagian, termasuk Aidit, dieksekusi tanpa melalui proses hukum, sementara lainnya dihadapkan ke pengadilan yang pada akhirnya juga berujung pada eksekusi lebih lanjut.
Militer menguasai saluran-saluran media dan memanfaatkan kekuasaannya untuk membangkitkan kemarahan publik terhadap PKI.
Setelah itu, aksi pembantaian pun terjadi. Dalam kurun waktu empat bulan, jumlah korban jiwa diperkirakan mencapai sedikitnya 500.000 orang.
Pada tahun 2001, seorang pria asal Pasuruan, Jawa Timur, yang terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut mengungkapkan bahwa membawa para korban ke dermaga, memukulinya hingga tewas, lalu membuang jasadnya ke laut. Menurut kesaksiannya, para korban tidak memberikan perlawanan, dan ratusan orang kehilangan nyawa di lokasi tersebut.
Sama seperti mayoritas warga di wilayah Jawa tersebut, ia merupakan pengikut setia Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi Islam tradisional yang memiliki puluhan juta anggota.
PKI dipandang sebagai lawan yang tidak beragama dan cenderung mudah melakukan tindakan kekerasan terhadap para pendukungnya. Di kemudian hari, Abdurrahman Wahid—tokoh NU yang kharismatik dan dikenal sebagai muslim reformis, serta menjabat sebagai presiden pada tahun 1999—sering mengungkapkan bahwa pengetahuannya tentang kekejaman yang dilakukan oleh sebagian pengikut NU pada tahun 1965 menjadi alasan utama dirinya enggan mendukung upaya menggulingkan Soeharto, karena khawatir hal tersebut akan memicu kembali konflik komunal yang berdarah.
Namun kini telah diketahui bahwa aksi pembunuhan massal umumnya baru berlangsung setelah pasukan khusus militer yang dikirim oleh Soeharto tiba di lokasi, sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat kekuasaan rezimnya. Militer memegang peran kunci dalam pelaksanaan kekerasan tersebut.
Sarwo Edhie
Pasukan ini berada di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie, yang secara kebetulan merupakan mertua dari Susilo Bambang Yudhoyono, presiden keempat setelah era Soeharto, yang mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2014.
Seluruh rangkaian peristiwa ini turut menjelaskan mengapa, bahkan setelah 17 tahun berlalu sejak kejatuhan Soeharto, diskusi yang mendalam mengenai tragedi tahun 1965 masih belum benar-benar terjadi.
Militer, yang masih menjadi institusi berpengaruh, berisiko kehilangan banyak kepentingan apabila keterlibatan dan perannya yang selama ini tidak transparan mulai diungkap dan diperbincangkan secara terbuka.
Jutaan individu yang terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut enggan untuk membahas atau mengungkapkan keterlibatannya.
Selama berpuluh-puluh tahun, PKI telah menjadi sasaran kampanye demonisasi yang intens, sehingga para simpatisannya menghadapi kesulitan besar untuk menyuarakan pendapat atau mengungkapkan pandangannya secara terbuka.
Dua film luar biasa karya sutradara asal Amerika, Joshua Oppenheimer, yang baru-baru ini dirilis, menampilkan para pelaku dan korban yang merekonstruksi kembali peran serta kenangannya terkait pembantaian tahun 1965. Karya ini untuk pertama kalinya berhasil menarik perhatian dunia internasional secara lebih luas terhadap tragedi tersebut.
Pertunjukan ini telah diselenggarakan dan memicu beragam tanggapan, mulai dari kemarahan dan kebingungan hingga, bagi sebagian orang, munculnya rasa penasaran untuk memahami lebih dalam.
Di sejumlah wilayah, keluarga korban telah mulai membuka kembali lokasi-lokasi kuburan massal yang diketahui keberadaannya guna mencari jenazah atau sisa-sisa kerabatnya.
Para aktivis di Belanda telah membentuk sebuah pengadilan rakyat dengan tujuan untuk merekam dan mengungkap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pada masa itu.
Presiden Joko Widodo pernah menyatakan komitmennya untuk mengadakan penyelidikan yang didukung oleh negara, namun hingga kini belum menunjukkan tindakan nyata, dan menolak menyampaikan permintaan maaf kepada para korban atas nama pemerintah.
Saksi Mata
Dari tahun ke tahun, jumlah saksi mata yang pernah menyaksikan tragedi mengerikan ini terus berkurang, seiring dengan usianya yang menua dan semakin sedikit yang masih hidup untuk memberikan kesaksian.
Kesempatan untuk mendokumentasikan secara menyeluruh kekejaman masa silam semakin menipis, begitu pula peluang untuk meredakan bayang-bayang kelam sejarah yang penuh luka.