Pada hari yang sama Presiden Prabowo Subianto bertemu Vladimir Putin di Rusia. Amerika Serikat dan Indonesia mengumumkan kemitraan pertahanan baru untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Asia.
Pengumuman ini muncul setelah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bertemu Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Amerika Serikat kemarin. Departemen Pertahanan AS dan Kementerian Pertahanan RI mengeluarkan pernyataan bersama pasca-pertemuan. Mereka menyatakan MDCP adalah hasil puluhan tahun kerja sama. Pernyataan ini menyebut kedua negara mengakui peran penting masing-masing dan menegaskan kekuatan serta potensi hubungan pertahanan bilateral.
Pernyataan itu juga menegaskan komitmen kerja sama berlandaskan saling menghormati, kedaulatan, dan kepentingan bersama demi perdamaian regional.
Dalam pertemuan dengan Sjafrie, Hegseth memuji perannya dalam inisiatif Dewan Perdamaian Presiden Donald Trump. Dia juga memuji kontribusinya pada Pasukan Stabilisasi Internasional untuk Gaza. Departemen Pertahanan AS menyatakan MDCP yang baru memperkuat pencegahan regional dan memperdalam komitmen bersama terhadap perdamaian melalui kekuatan. Sjafrie menanggapi dengan menyatakan antusiasme besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan.
Pernyataan bersama menyebut MDCP berdasar tiga pilar: modernisasi militer; penguatan kapasitas; pelatihan dan pendidikan militer profesional; latihan operasional. Kedua negara berencana mengejar inisiatif canggih, termasuk teknologi maritim, bawah permukaan, platform otonom generasi berikutnya, serta dukungan pemeliharaan. Pernyataan menegaskan komitmen Sjafrie dan Hegseth meningkatkan pelatihan pasukan khusus gabungan dan memperluas latihan multilateral seperti Super Garuda Shield.
Pengumuman disampaikan sehari setelah Kementerian Pertahanan mengonfirmasi pembicaraan soal proposal akses pesawat militer AS melintasi ruang udara Indonesia. Konfirmasi itu menyusul laporan media akhir pekan bahwa AS mencari izin lintas semalam penuh untuk pesawat militernya. Kementerian menegaskan belum ada kesepakatan akhir. Pemberitaan tentang MDCP tidak menyebut hak lintas udara AS, dan teks resmi perjanjian belum dipublikasikan.
Menimbulkan Kecurigaan
Waktu pengumuman ini menimbulkan kecurigaan, mengingat meningkatnya tekanan domestik pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menarik diri dari Dewan Perdamaian setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran. Awal Maret lalu, Indonesia mengumumkan penangguhan partisipasinya dalam kegiatan dewan sampai pemberitahuan lebih lanjut, dan keterlibatan di masa depan masih belum pasti.
Kematian tiga pasukan penjaga perdamaian baru-baru ini di Lebanon selatan memperkuat tuntutan agar pemerintah membatalkan rencana pengerahan 8.000 personel ke ISF. Analis kebijakan luar negeri dan kelompok muslim mengkritik minimnya perwakilan Palestina dalam ISF, dan berpendapat hal ini bisa mengurangi dukungan tradisional terhadap perjuangan Palestina.
Waktu penandatanganan menunjukkan perjanjian ini telah dinegosiasikan lama sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan pertahanan dengan mitra utama. Pada Februari, Indonesia menandatangani pakta keamanan dengan Australia yang mewajibkan peningkatan konsultasi keamanan dan koordinasi bersama terhadap ancaman bersama. Seperti pakta Australia, MDCP tampak lebih simbolis dan kurang substansial, berfokus pada perluasan bertahap inisiatif yang sudah ada. Penggunaan kata utama dalam judul perjanjian juga memberi kesan upaya melebih-lebihkan pentingnya kesepakatan tersebut.
Namun, tampak jelas pemerintahan Prabowo bertekad mempertahankan kebijakan luar negeri nonblok dengan terus menjalin kerja sama pertahanan bersama semua kekuatan besar, termasuk China dan Rusia.
Seolah menegaskan hal ini, Prabowo kemarin bertemu Presiden Vladimir Putin di Rusia, kunjungan ketiganya dalam kurang dari setahun. Perjalanan ini kemungkinan bertujuan mengkonsolidasikan kemajuan hubungan dengan Rusia dan mengamankan pasokan minyak Rusia untuk mengatasi kekurangan dari negara-negara Teluk.
Putin menyatakan kegembiraan atas terjalinnya kontak yang rutin dan menekankan karakter istimewa hubungan tersebut, menurut siaran pers resmi Rusia. Menanggapi, Prabowo berterima kasih atas pertemuan yang cepat terselenggara dan memuji kemajuan nyata di hampir semua bidang kerja sama yang pernah mereka bahas.
Peran Rusia
Prabowo menyatakan bahwa mengakui peran penting dan konstruktif Rusia dalam membentuk tatanan geopolitik saat ini, terutama di masa ketidakpastian; ia menekankan perlunya konsultasi bersama, pertukaran pandangan tentang perkembangan mendatang, dan penentuan prioritas kerja sama lebih lanjut, khususnya di bidang ekonomi dan energi.
Kunjungan mendadak Prabowo ke Rusia berlangsung setelah lawatannya ke Jepang dan Korea Selatan akhir Maret, di mana keamanan pasokan energi menjadi fokus utama.