11 Kebiasaan Mengganggu di Indonesia

terjemahan blog milik Justine

Tulisan ini merupakan hasil terjemahan dari blog milik Justine, seorang penulis asal California yang memulai perjalanan backpacking menjelajahi Asia Tenggara sejak tahun 2013.

Selama satu dekade saya telah menjelajahi berbagai belahan dunia, namun sebelum menetap di Jakarta, saya belum pernah benar-benar tinggal di luar California. Tinggal di luar negeri ternyata sangat berbeda dari sekadar bepergian. Kehidupan di Jakarta memberi saya kesempatan untuk menyelami budaya lokal secara mendalam dan memahami keunikan kota ini secara langsung. Banyak hal yang awalnya terasa asing dan janggal sembilan bulan lalu, kini telah menjadi bagian dari rutinitas saya. Bahkan, saya kini mendapati diri melakukan berbagai kebiasaan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan.

11 Kebiasaan Aneh yang Saya Miliki di Indonesia

1. Berjalan sambil browsing internet

Penduduk Jakarta sangat terpikat oleh media sosial, sehingga tak jarang terus-menerus terpaku pada layar ponsel dan tablet. Sebuah artikel menyebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan sekitar sembilan jam setiap hari untuk menatap perangkat digital seperti ponsel, tablet dan laptop.

Terlihat tidak masuk akal? Cobalah habiskan satu hari di pusat perbelanjaan Jakarta, dan Anda akan menyadari betapa akuratnya pernyataan tersebut. Setiap kali saya berada di mal, saya selalu takjub melihat hampir semua orang—anak-anak hingga lansia—menatap layar ponsel mereka. Baik saat makan bersama keluarga, menunggu giliran di toko maupun sekadar berjalan-jalan, hampir semua mata tertuju pada gawai masing-masing.

Saat pertama kali tiba di sini, saya merasa kebiasaan ini cukup mengganggu. Saya bahkan sempat kesal melihat orang-orang berjalan sambil terus menatap layar ponselnya. Namun, setelah hampir setahun tinggal di sini, saya pun mulai terbiasa dan kini menjadi salah satu darinya—berjalan sambil menjelajahi internet di ponsel. Tak jarang, saya nyaris menabrak orang atau tembok karena terlalu fokus pada layar.

2. Minum jamu saat pertama kali merasa sakit

Jamu merupakan ramuan herbal tradisional yang sangat dipercaya oleh masyarakat Indonesia. Aaron pertama kali mengenalnya lewat rekan kerja dan murid-muridnya, yang bahkan memaksanya mencoba saat terserang flu. Ketika saya mengalami hal serupa, ia pun melakukan hal yang sama kepada saya. Sejak saat itu, jamu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kami. Meski belum ada bukti ilmiah yang mendukung khasiatnya, jamu terasa seperti versi lokal dari Emergen-C yang biasa dikonsumsi di Amerika sebelum naik pesawat. Begitulah kira-kira.

3. Hidup tanpa microwave

Menghabiskan sembilan bulan tanpa microwave sama sekali bukan bagian dari rencana awal saya. Saya memang berniat membelinya, namun setiap kali hendak membeli, saya selalu terkejut melihat harganya. Sejauh ini, saya belum menemukan microwave di sini yang harganya di bawah $150—dan ukurannya pun sangat kecil, bahkan tidak cukup untuk menampung satu piring. Mengingat banyak produk lokal yang cepat rusak atau tidak berfungsi dengan baik, menginvestasikan ratusan dolar untuk sebuah microwave terasa seperti risiko yang tidak ingin saya ambil.

Setelah beberapa bulan berlalu, saya mulai terbiasa memanggang roti dan menghangatkan makanan sisa menggunakan kompor. Lama-kelamaan saya menyadari bahwa meskipun rasanya tetap lezat, ternyata saya tidak benar-benar membutuhkan microwave.

4. Makan cabai mentah

Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan ragam kuliner yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Namun, di Jakarta, kecintaan terhadap makanan pedas sangat menonjol. Sebagai seseorang yang berasal dari San Diego—kota yang dikenal dengan kelezatan makanan Meksiko—saya memang penggemar berat rasa pedas. Meski begitu, saya tak pernah menyangka bahwa saya akan terbiasa makan cabai mentah hampir setiap hari.

Semua bermula ketika Aaron membawa pulang bakwan, jajanan kaki lima yang cukup populer di Indonesia. Perkedel jagung itu disajikan bersama segenggam cabai hijau kecil, dan Aaron menjelaskan bahwa orang Indonesia biasanya langsung menyantapnya secara utuh. Saya pun ikut mencoba. Cabai kecil itu terasa sangat pedas, namun rasanya luar biasa nikmat. Sejak saat itu, saya tidak bisa menikmati bakwan tanpa cabai. Bahkan, saya jadi begitu tergila-gila pada cabai mentah hingga terbiasa mengirisnya dan menambahkannya ke berbagai makanan, mulai dari sandwich hingga pizza.

5. Belajar menggetarkan nada R seperti orang Meksiko sejati

Sebagai seseorang yang berasal dari San Diego dan memiliki latar belakang Meksiko, saya sudah mulai belajar bahasa Spanyol sejak masih kecil. Meski saya merasa tidak terlalu berbakat dalam mempelajari bahasa, kemampuan saya cukup lumayan. Awalnya saya tak menyangka bahwa keterampilan berbahasa Spanyol akan berguna saat tinggal di Jakarta—namun ternyata, itu justru sangat membantu.

Pelafalan dalam bahasa Indonesia ternyata cukup mirip dengan bahasa Spanyol. Karena itu, saat saya berbicara dalam bahasa Indonesia, saya mengucapkannya seperti saat berbicara dalam bahasa Spanyol—dan orang-orang tetap bisa memahami saya. Perbedaan utama terletak pada pengucapan huruf R yang harus digetarkan dalam bahasa Indonesia. Jika saya tidak melakukannya, ucapan saya jadi sulit dimengerti. Menariknya, banyak ekspatriat di Jakarta, terutama dari Australia, mengalami kesulitan dalam menggoyangkan huruf R. Sementara itu, orang Indonesia justru senang karena saya bisa melakukannya dengan baik.

6. Merasa takut dengan eskalator

Fenomena eskalator—atau seperti yang disebut beberapa teman ekspatriat saya, “tangga ajaib”—memang menarik. Entah apa penyebabnya, tapi dari pengalaman saya, cukup banyak orang Indonesia yang tampak ragu atau cemas saat menggunakan eskalator. Secara khusus, saya melihat hal ini paling sering terjadi pada kalangan lansia.

Sudah menjadi pemandangan umum melihat seseorang berdiri ragu di ujung eskalator, menatap anak tangga yang bergerak di depannya. Saya pernah menyaksikan orang-orang berdiri di sana selama hampir satu menit, sementara antrean di belakangnya semakin padat, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melangkah. Saya pun tak terhitung berapa kali berjalan cepat menuju eskalator, hanya untuk tiba-tiba menabrak seseorang yang berhenti mendadak di depan saya. Fenomena ini terasa begitu aneh, namun setelah cukup lama tinggal di sini, saya justru mulai ikut berhati-hati saat hendak naik eskalator. Saya pun bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada saya?

7. Menjadi seorang fanatik delivery

Di San Diego, layanan antar terbatas, umumnya hanya mencakup pizza dan makanan China. Sebaliknya, di Jakarta hampir semua jenis barang bisa diantar tanpa biaya tambahan.

Ingin bir dingin atau rokok? Cukup hubungi minimarket terdekat, dan barang akan diantar langsung ke rumah. Perlu layanan laundry? Pihak penyedia akan menjemput dan mengembalikan cucian Anda dengan biaya yang terjangkau. Di Indonesia, layanan pesan antar McDonald’s tersedia sepanjang hari. Meski saya belum pernah mencobanya, rasanya menyenangkan mengetahui layanan seperti itu ada.

8. Menghindari sinar matahari dengan segala cara

Ada anggapan bahwa masyarakat Indonesia takut terhadap sinar matahari, namun kenyataannya memang cenderung menghindarinya. Jika di Amerika Serikat kulit berwarna cokelat dianggap menarik, di Indonesia justru kulit cerah dipandang sebagai simbol kecantikan. Tak heran, produk pemutih kulit sangat diminati—mulai dari sabun, deodoran hingga lulur wajah kerap mengandung bahan pemutih, sehingga saya pun harus lebih teliti saat berbelanja.

Secara umum, masyarakat Indonesia tampaknya tidak menyukai aktivitas berjemur. Di kompleks apartemen tempat saya tinggal, kolam renangnya bahkan tidak dilengkapi kursi santai—karena memang tidak ada kebutuhan untuk berjemur. Dengan terbatasnya ruang terbuka dan kegiatan luar ruangan di Jakarta, saya merasa banyak orang jarang terpapar sinar matahari, termasuk saya sendiri. Saat keluar rumah, saya biasanya langsung naik taksi dari apartemen dan menuju pusat perbelanjaan. Itulah rutinitas di sini. Tubuh saya nyaris tidak terkena sinar matahari, dan saya sangat merindukan kehangatannya.

9. Berenang pakai tank top

Bicara soal kolam renang, saya harus mengakui bahwa kini saya terbiasa berenang dengan pakaian lengkap. Di Indonesia, hal ini cukup umum—banyak perempuan berenang mengenakan jeans, kemeja, bahkan kaus kaki, sehingga tidak dianggap aneh. Justru yang terasa janggal adalah jika saya mengenakan bikini; orang-orang cenderung memperhatikan, dan mungkin merasa tidak nyaman.

Sekarang, setiap kali ada orang di sekitar, saya langsung masuk ke kolam renang hanya mengenakan tank top. Namun saya menyadari bahwa kebiasaan ini mungkin kurang tepat jika saya melakukannya saat musim panas di California.

10. Membuang tisu toilet ke tempat sampah

Setelah menghabiskan hampir dua tahun di Asia Tenggara, saya nyaris lupa bahwa di Amerika Serikat, tisu toilet dibuang langsung ke dalam kloset. Di Jakarta, seperti di banyak wilayah Asia Tenggara lainnya, sistem saluran pembuangan kurang memadai. Dan saya rasa cukup sampai di situ pembahasannya.

11. Tidak terpengaruh oleh azan

Ketika pertama kali menetap di Jakarta, saya sempat menulis tentang berbagai hal unik dalam kehidupan di kota ini. Salah satu pengalaman yang paling terasa asing dan hampir surealis bagi saya saat itu adalah suara azan. Lima kali sehari, lantunan azan menggema di seluruh penjuru kota, dan setiap kali terdengar, saya selalu tersadar dengan perasaan takjub: “Wow, saya benar-benar tinggal di Indonesia.”

Setelah sembilan bulan tinggal di Jakarta, suara azan telah menjadi bagian yang akrab dalam keseharian saya—begitu terbiasa hingga sering tak lagi saya sadari saat terdengar di siang hari. Namun belakangan, ketika menyadari betapa cepatnya dua bulan terakhir berlalu, saya justru mulai menghargai dan menikmati lantunannya.

Saya biasanya jogging di malam hari, bertepatan dengan waktu salat Isya. Kini, alih-alih mendengarkan musik, saya memilih melepas earphone dan menikmati lantunan azan sambil berlari. Suara yang dulunya terasa asing saat pertama kali pindah ke sini, justru menjadi salah satu hal yang paling saya rindukan dari Jakarta.

Visited 16 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *