Pemerintah Indonesia menggandeng komunitas adat untuk menangani kabut asap. Mereka memanfaatkan praktik tradisional untuk mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan. Setiap musim kemarau, kabut asap menyelimuti wilayah ini. Kebakaran lahan untuk membuka perkebunan sawit dan bubur kertas menjadi penyebab utamanya. Kebakaran tersebut banyak terjadi di Sumatra dan Kalimantan. Mayoritas kebakaran terjadi di lahan gambut yang sangat rentan terbakar. Api sering menjalar ke wilayah lain dan memicu penyebaran kabut asap lintas negara. Untuk pertama kalinya, BRG bekerja sama dengan masyarakat adat untuk memanfaatkan kearifan lokal dalam pengelolaan lahan dan pencegahan kebakaran.
Lembaga ini dibentuk Presiden Joko Widodo pada 2016 untuk mengatasi kebakaran lahan. Menurut Myrna Safitri, masyarakat adat telah lama mengelola lahan gambut secara efektif dengan memanfaatkan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional. Sebagai contoh, masyarakat Dayak di Kalimantan mewajibkan warga menjaga lokasi pembakaran hingga api benar-benar padam. Selama musim kemarau, petani sering menggunakan pembakaran lahan sebagai metode yang lebih efisien dan berbiaya rendah untuk membuka lahan pertanian baru. Pejabat tersebut menyatakan bahwa beberapa suku telah menerapkan pendekatan alternatif yang memungkinkan mereka menyiapkan musim tanam baru tanpa melakukan pembakaran lahan.
Penyebaran Praktik
“Kami sangat mengapresiasi hal tersebut. Kami berharap pengakuan terhadap masyarakat adat dapat mendorong penyebaran praktik berbagi pengetahuan ini ke berbagai daerah lain,” ujar Myrna. Berdasarkan kesepakatan yang terjalin dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara pada pekan lalu, lembaga tersebut akan memfasilitasi penyebaran praktik-praktik tersebut dengan harapan masyarakat adat dapat menjadi teladan bagi komunitas lain. Organisasi tersebut berperan sebagai wadah representasi bagi sekitar 50 juta masyarakat adat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Kami berharap pendekatan ini dapat menjadi salah satu langkah efektif dalam mengendalikan kebakaran di tingkat masyarakat,” ujar Myrna.
Indonesia menghadapi kritik dari negara-negara tetangga dan kelompok lingkungan karena belum mampu menghentikan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahun. Pada tahun 2015, kondisi cuaca kering akibat fenomena El Nino memicu salah satu peristiwa kabut asap paling parah dalam beberapa tahun terakhir. Asap tersebut menyebar ke Singapura dan Malaysia selama berminggu-minggu, bahkan mencapai wilayah Thailand. Pada tahun tersebut, kebakaran mengakibatkan kerugian ekonomi mencapai Rp200 triliun serta berdampak pada lebih dari 500.000 kasus gangguan pernapasan di Indonesia.