Destry Damayanti, Perempuan Pertama Pimpin BI

Indonesia mengakhiri ketidakpastian kepemimpinan bank sentral setelah Presiden Prabowo Subianto mencalonkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI. Deputi Gubernur Senior BI itu menjadi satu-satunya calon pengganti Perry Warjiyo. Pengunduran diri mendadak Perry bulan lalu sempat mengguncang pasar. Destry telah menjabat sebagai pelaksana tugas gubernur sejak Perry meninggalkan jabatannya. Sebelum resmi memimpin BI, ia harus menjalani uji kelayakan dan kepatutan di parlemen. DPR akan mencatat Destry sebagai perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia jika mengukuhkannya. Berikut lima hal penting mengenai ekonom yang akan menduduki salah satu posisi kebijakan paling krusial di Indonesia. Ekonom berusia 63 tahun ini berpengalaman dalam bidang akademik, perbankan investasi, pemerintahan, dan pengaturan sektor keuangan.

Destry, kelahiran Jakarta 1963, merupakan lulusan ekonomi Universitas Indonesia. Ia juga menyandang gelar master ilmu wilayah dari Cornell University di Amerika Serikat. Perjalanan profesionalnya bermula dalam bidang ekonomi dan penelitian. Selama 2000–2003, Destry menjadi penasihat ekonomi senior untuk Duta Besar Inggris di Indonesia. Ia memimpin bidang ekonomi Mandiri Sekuritas dan Bank Mandiri pada 2011–2015. Selanjutnya, ia menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan hingga 2019. Bank Indonesia mengangkat Destry sebagai Deputi Gubernur Senior pada 2019. Lima tahun kemudian, Bank Indonesia menunjuknya kembali untuk periode kedua. Pada Senin, 10 Agustus, Prabowo mencalonkannya sebagai satu-satunya kandidat Gubernur Bank Indonesia. Meski demikian, undang-undang memberikan kewenangan kepada presiden untuk mengusulkan maksimal tiga nama.

Kandidat Pengganti

Sejak Perry mundur, sejumlah nama muncul sebagai calon pengganti, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Berdasarkan hukum Indonesia, presiden mencalonkan gubernur bank sentral, sedangkan parlemen menilai dan memberikan persetujuan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pencalonan Destry masih memerlukan persetujuan DPR. Uji kelayakan dan kepatutan dijadwalkan pada 13 Agustus, disusul pemungutan suara paripurna pada 14 Agustus. Setelah Destry diumumkan sebagai calon tunggal pada Senin, rupiah menguat 0,75% menjadi Rp17.750 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi yang terkuat dalam sebulan dan menunjukkan respons positif pasar terhadap pencalonannya. Pasar menyambut kemungkinan hadirnya sosok berpengalaman yang dikenal dan akan memimpin bank sentral secara permanen. Analis mengatakan keputusan tersebut mengurangi beberapa kekhawatiran dalam situasi yang tidak pasti; karena ia dikenal dan dihormati oleh pemangku kepentingan global, penunjukannya dipandang sebagai tanda kesinambungan kebijakan Perry.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyatakan bahwa penunjukan Destry bisa menimbulkan rasa tenang karena ia sudah dikenal di lingkungan BI dan telah bekerja sama erat dengan Perry sejak menjabat Deputi Gubernur Senior. Ia berpengalaman mengatasi konsekuensi ekonomi akibat pandemi Covid-19, saat Bank Indonesia dan pemerintah bersinergi mengambil langkah-langkah untuk meredam guncangan ekonomi dan menstabilkan pasar finansial. Ia termasuk salah satu pejabat BI yang terlibat dalam pembahasan tentang pembagian beban dan peran bank sentral dalam mendukung respons pemerintah terhadap pandemi, sambil tetap mempertahankan independensi lembaga. Pada 27 Juli Perry mengundurkan diri secara tak terduga; pemerintah menyebutnya karena alasan pribadi, sementara hal ini muncul di tengah naiknya kecemasan investor mengenai independensi Bank Indonesia.

Rupiah Tertekan

Nilai rupiah tertekan signifikan sepanjang tahun, anjlok lebih dari 7% terhadap dolar dan sempat berada di level di bawah Rp18.000 per dolar AS. Naiknya harga minyak bersamaan dengan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkatkan beban pada pasar negara berkembang serta negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Helmi Amran, ekonom Citigroup, menyatakan tantangan Destry adalah memperkuat koordinasi antara BI dan pemerintah tanpa mengorbankan kredibilitas lembaga bank sentral. Arman menulis bahwa komunikasi antara BI dan pemerintah diperkirakan akan membaik ke depan, namun kondisi yang lebih luas terkait kredibilitas institusi masih bersifat dinamis. Dengan perhatian terfokus pada langkah BI berikutnya setelah tiga kali kenaikan suku bunga yang totalnya 100 basis poin tahun ini, para analis menyatakan prioritas Destry adalah mendukung nilai tukar rupiah, menahan inflasi, dan memastikan transmisi kebijakan moneter berjalan efektif ke seluruh perekonomian.

Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, menilai bahwa perhatian pasar kini tidak lagi hanya tertuju pada perubahan suku bunga kebijakan. Pelaku pasar juga semakin mencermati dampak bauran kebijakan bank sentral secara keseluruhan terhadap likuiditas, kondisi keuangan dan perekonomian. Ia menambahkan bahwa komunikasi yang jelas dan konsisten memberikan dampak ekonomi yang besar. Pasar tidak hanya memerlukan keputusan kebijakan yang tepat, tetapi juga penjelasan yang transparan mengenai dasar pengambilan keputusan, keterkaitan antar-instrumen serta arah kebijakan ke depan. Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8%. Target ambisius tersebut menempatkan Bank Indonesia dalam posisi strategis untuk mendorong percepatan pertumbuhan, sekaligus menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan.

Visited 4 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *