Eksekusi Mati Indonesia Disorot karena Gelombang Kecaman

Sejumlah surat kabar Australia memuat gambar keluarga yang berduka di halaman depan setelah pemerintah Indonesia memastikan eksekusi dua warganya. Editorial media setempat turut mengecam tindakan ini, yang mereka nilai menunjukkan kurangnya rasa kemanusiaan. Respons itu sangat berbeda dari liputan media dan percakapan media sosial Indonesia. Di sana terlihat sedikit simpati terhadap terpidana yang mengalami eksekusi. Di negara lain terkait kasus Bali Nine, sebagian pihak juga mendukung hukuman mati bagi pengedar. Dukungan itu muncul bahkan ketika pelaku adalah warga negara mereka sendiri. Sydney Morning Herald mengecam keputusan Presiden Joko Widodo sebagai tindakan barbar dan bermuatan politik. Dalam editorialnya, media tersebut menilai Presiden Indonesia tidak mampu memperlihatkan sikap kemanusiaan dasar berupa belas kasih dan kepedulian. Mark Findlay dari Canberra Times turut menyetujui pandangan tersebut. Ia menilai eksekusi itu menunjukkan presiden baru sebagai pemimpin tegas yang tak boleh orang remehkan.

Matthew Goldberg meragukan eksekusi itu akan mengurangi penggunaan, pasokan, atau perdagangan narkoba di Asia Tenggara. Ia menyebut tindakan tersebut sia-sia, tak dapat batal, dan sangat memprihatinkan. Editorial Sydney Morning Herald menyarankan Australia menarik duta besarnya sampai ada protokol baru perlindungan warga Australia. Namun editorial itu juga mengingatkan agar situasi tidak lebih parah dan komunikasi dengan Indonesia tetap terbuka. Di media sosial Australia, #Bali9 menjadi tagar utama dalam pembahasan kasus ini dan menghasilkan ribuan cuitan. Mayoritas pengguna mengecam eksekusi tersebut, sementara sejumlah tokoh politik terkemuka menyampaikan kesedihan dan penyesalan melalui unggahannya. Banyak warganet mengkritik keterlibatan polisi Australia yang pada 2005 memberi informasi kepada pihak berwenang Indonesia mengenai para penyelundup narkoba. Sebagian besar warga Australia menolak penerapan hukuman mati untuk kejahatan narkotika.

Berbeda dari kemarahan yang muncul di media Australia, seorang komentator Nigeria justru tampak lebih menyoroti rasa malu yang ditimbulkan bagi negaranya oleh keterlibatan sejumlah warganya dalam daftar terpidana yang dieksekusi.

Tindakan Mempermalukan

“Meski berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah warga Nigeria terlibat dalam perdagangan narkoba, masih banyak yang tetap melakukannya. Tindakan ini mempermalukan keluarga, teman dan bangsa secara keseluruhan,” tulis Sam Nzeh di Daily Times Nigeria. Ia menambahkan bahwa pelaku kejahatan tidak semestinya berharap pemerintah datang menyelamatkannya. Berbeda dari media lain, Philippine Star menampilkan sikap lebih simpatik terhadap Mary Jane, warga Filipina yang tetap menghadapi hukuman mati meski eksekusinya telah ditangguhkan. Tony Katigbak menulis bahwa meskipun ia menghargai sikap tegas Jokowi terhadap narkoba—terutama karena kasus penyalahgunaan dan kematian akibat narkoba meningkat di negaranya—ia juga mengakui bahwa beberapa perkara mungkin lebih rumit daripada yang terlihat; ia menambahkan bahwa pandangannya mungkin tampak bias karena Mary Jane Veloso adalah warga Filipina. Pelaksanaan hukuman ini tidak menjadi sorotan utama media Indonesia.

Karena opini publik umumnya mendukung hukuman mati bagi penyelundup narkoba, hanya sedikit pengamat yang mengangkat masalah ini, dan mayoritas dari mereka mendukung kebijakan pemerintah. Republika, sebuah surat kabar Islam terkemuka, mengutip pernyataan Presiden Jokowi—di luar isu penarikan duta besar Australia—bahwa hukum Indonesia bersifat berdaulat dan Indonesia juga menghormati hukum negara lain. Harian Kompas menuduh warga Australia bersikap bermuka dua dan mempertanyakan mengapa Australia tak pernah menyoroti eksekusi di Amerika Serikat. Namun sebuah artikel berbahasa Inggris di Jakarta Globe, yang mayoritas pembacanya adalah orang asing, mempertanyakan apakah tindakan Indonesia benar-benar telah merusak hubungannya dengan negara-negara Barat. Yohanes Sulaiman menulis bahwa meskipun ada yang berpendapat Australia dan Prancis begitu membutuhkan Indonesia sehingga hubungan ini takkan dibiarkan rusak untuk waktu lama, Jokowi tetap berisiko menghadapi sikap yang sangat tidak bersahabat dari negara-negara tersebut. Saat ia benar-benar membutuhkan pertolongan, ia akan menyesali pernyataannya yang mengatakan akan menolak semua permohonan pengampunan.

Di Twitter, mayoritas pengguna Indonesia tetap mendukung hukuman mati sejak kasus ini muncul, dan beberapa bahkan menyatakan dukungan untuk mengeksekusi politisi korup dengan regu tembak.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *