Kegagalan Keamanan: Puluhan Militan Beroperasi di Jawa

Satuan antiteror Indonesia menangkap lebih dari 40 tersangka militan di Pulau Jawa, termasuk mereka yang terkait serangan bulan lalu. Seorang juru bicara kepolisian Jawa Tengah mengonfirmasi lebih dari 35 orang mengikuti latihan militer di Gunung Sumbing, Temanggung. Komisaris Polisi Liliek Darmanto mengatakan penggunaan senapan angin dan bayonet menunjukkan latihan itu bersifat semi-militer. Laporan menyebut mereka memasuki hutan pada malam hari dengan pakaian latihan mirip seragam militer dan membawa kantung tidur. Polisi mengatakan pada Sabtu bahwa mereka menangkap lima tersangka terkait serangan 14 Januari di Jakarta; polisi menangkap mereka di Malang Jumat malam. Laporan menyebut penggerebekan berubah menjadi pengejaran kendaraan, dan personel Detasemen 88 menembakkan senjata ke mobil yang melarikan diri. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan polisi menduga penangkapan ini berhubungan dengan ledakan di Jalan Thamrin pada 14 Januari.

Ia tidak mengungkap identitas mereka. Ia menyebut mereka anggota organisasi payung ekstremis Indonesia yang menyatakan kesetiaan kepada Daesh. Kelompok itu juga mengirim pejuang ke Suriah. Badrodin mengatakan JAKDN menganut ideologi yang sama. JAKDN terdiri dari beberapa kelompok, termasuk Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Abu Wardah Santoso. Jemaah Islamiyah juga tergabung; pihak berwenang menuduh afiliasi al‑Qaeda itu merencanakan pemboman Bali 2002 yang menewaskan 202 orang. Laporan menyebutkan Mujahidin Indonesia Barat, Jemaah Anshorut Tauhid, Hisbah Solo, dan Tauhid Wal Jihad sebagai anggota lain. Aman Abdurrahman memimpin JAKDN, dan polisi mencurigainya merencanakan serangan Jakarta. Pengadilan memenjarakan dia di Nusakambangan sejak 2010 atas tuduhan membantu latihan militer di Aceh utara. Pihak berwenang menyebut Abu Bakar Ba’asyir sebagai penasihat JAKDN. Mereka menduga dia dan narapidana lain meradikalisasi tahanan, termasuk salah satu pelaku yang tewas pada serangan Januari.

Dalang Serangan

Abdurrahman adalah dalang di balik serangkaian bom yang berujung baku tembak, bekerja sama dengan Bahrun Naim, seorang warga negara Indonesia yang memiliki posisi penting dalam Daesh di Suriah. Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bulan lalu polisi menelusuri laporan adanya korespondensi antara Aman dan Bahrun. Yudo Nugroho, Kapolresta Malang, menyatakan pada Sabtu bahwa penyidik masih mengumpulkan bukti di rumah yang digeledah dan telah menemukan senjata serta buku-buku dengan paham ekstremis.

Indonesia sudah siaga terhadap gerakan ekstremis selama setahun terakhir, dan menambah langkah-langkah keamanan setelah peristiwa pemboman dan penembakan di Jakarta Pusat pada 14 Januari yang menewaskan empat warga sipil dan empat penyerang yang berhubungan dengan Daesh. Kapolri Badrodin mengatakan pekan lalu bahwa sejak peristiwa tersebut pihak kepolisian menangkap 33 orang—17 diduga terlibat langsung dalam serangan dan 16 lainnya diduga akan melakukan aksi teror dalam waktu dekat.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *