Kontroversi Napalm Death dan Hukuman Mati di Era Joko Widodo

Berita pekan lalu tentang penolakan grasi bagi Andrew Chan dan Myuran Sukumaran mengingatkan publik bahwa reformasi Indonesia belum selesai. Kedua warga Australia itu menghadapi ancaman eksekusi mati oleh regu tembak. Publik patut mengapresiasi upaya Presiden Joko Widodo dalam menyederhanakan birokrasi dan membangun sistem yang lebih akuntabel. Namun, pemerintah masih menghadapi kesulitan besar dalam memperbaiki warisan masa lalu Indonesia yang penuh gejolak. Kasus Chan dan Sukumaran telah menarik perhatian banyak pihak, termasuk Perdana Menteri Australia Tony Abbott dan Amnesty International. Amnesty International juga meluncurkan petisi daring yang meminta Presiden Indonesia menghentikan eksekusi tersebut. Namun, belum jelas apakah Jokowi akan mempertimbangkan tekanan politisi asing atau petisi daring itu. Sebagian pihak menilai kemungkinan itu kecil, karena pemerintah telah mengeksekusi lima warga negara asing bulan ini atas kasus penyelundupan narkoba.

Seruan pengampunan bagi dua warga Australia ini kini mendapat dukungan baru dari Napalm Death, band grindcore asal Inggris, yang menyampaikan permohonan langsung kepada Presiden Indonesia. Keterlibatan band grindcore asing dalam menyampaikan pandangan politik sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Banyak band dalam subgenre heavy metal ini menunjukkan kepedulian politik melalui lirik yang sering mengangkat persoalan sosial. Dalam ranah grindcore yang kritis terhadap isu sosial, banyak orang mengenal Napalm Death sebagai salah satu nama paling menonjol. Band pelopor genre keras tersebut selama ini mendukung berbagai isu, mulai dari hak-hak LGBT hingga veganisme. Napalm Death juga tidak terkenal sebagai pendukung kuat para politisi. Dalam wawancara dengan Billboard tahun lalu, vokalis Mark “Barney” Greenway mengatakan bahwa ia mungkin bisa mulai menghargai Jokowi jika sang presiden mampu menyingkirkan unsur-unsur politik yang lebih otoriter di Indonesia.

Lalu, mengapa Billboard membicarakan politik Indonesia dengan sebuah band grindcore asal Inggris? Lalu, mengapa Napalm Death menganggap masyarakat Indonesia akan memperhatikan pandangannya?

Penggemar Metal

Jawabannya berkaitan dengan salah satu fakta menarik tentang Jokowi. Banyak orang mengenal Presiden Indonesia tersebut sebagai penggemar musik heavy metal. Ia juga menyukai Napalm Death, selain Lamb of God dan Metallica. Bahkan, Metallica pernah memberinya sebuah gitar bass pada Agustus lalu. Namun, ia akhirnya harus menyerahkan hadiah itu kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Citra Jokowi sebagai tokoh reformis membuatnya memperoleh dukungan besar, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun, sikapnya yang tetap mendukung hukuman mati jelas menimbulkan banyak kritik. Banyak penggemar musik metal dunia sempat antusias menyambut kemenangan Jokowi dalam pemilihan presiden.

Meski begitu, sulit membayangkan mereka tetap senang melihat dukungannya terhadap hukuman yang dianggap sangat kejam tersebut. Dalam pesannya, Napalm Death berusaha memanfaatkan fakta bahwa Jokowi dikenal menyukai musiknya. Band tersebut menyampaikan bahwa sebagai penggemar Napalm Death, Jokowi tentu memahami lirik dan prinsip mereka yang menentang siklus kekerasan, baik yang dilakukan negara maupun individu. Greenway, yang tampaknya menulis pesan ini, juga menyatakan bahwa ia memahami Jokowi sebagai pemimpin yang ingin membawa perubahan ke arah lebih baik. Karena itu, ia menilai pemberian pengampunan akan menjadi langkah penting dalam upaya perbaikan tersebut.

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *