93% Wilayah Tanpa Jalan Lebih Kecil dari Setengah Cincinnati

Jalan raya berdampak serius pada satwa liar, memisahkan populasi, merusak habitat, membuka akses pemburu, dan membunuh hewan. Studi terbaru di jurnal Science menilai luas jaringan jalan global dan menemukan sekitar 600.000 fragmen. Hanya 7% fragmen lebih besar dari 100 km², sementara separuhnya kurang dari 1 km². Sebagai perbandingan, luas daratan kota Cincinnati sekitar 200 km². Perlindungan resmi hanya mencakup sekitar 9% fragmen besar yang tersisa. Tim internasional menganalisis data jalan global, termasuk 36 juta km peta OpenStreetMap. Area tanpa jalan terluas ada di tundra dan hutan boreal Eurasia serta Amerika Utara. Beberapa bagian tropis di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara juga memiliki area luas tanpa jalan.

Tim peneliti mengatakan data mungkin memiliki kekurangan, namun tetap merupakan sumber paling komprehensif yang tersedia. Menurut Monika Hoffmann, meskipun datanya tidak sempurna, sumber ini tetap yang paling baik untuk membuat peta global area tanpa jalan. Mereka mengakui bahwa angka tersebut cenderung melebih‑lebihkan luas wilayah tanpa jalan karena banyak area sebenarnya telah hilang atau menyusut. William Laurance dari Universitas James Cook, yang banyak meneliti dan menulis tentang dampak jalan raya, menyampaikan kekhawatiran serupa. Laurance menulis bahwa meskipun temuan Ibisch dan koleganya tampak mengkhawatirkan, studi itu mungkin meremehkan skala masalah. Ia menilai para penulis tidak bersalah atas estimasi yang kurang tepat. Penyebabnya, menurutnya, adalah pembangunan jalan yang cepat dan keterbatasan pemantauan satelit. Ia menambahkan bahwa data crowdsourced seperti OpenStreetMap, berbasis pengamatan lapangan, seringkali lebih andal.

Pemetaan Intensif

Laurance mengatakan pemetaan manusia lebih intensif di beberapa wilayah, seperti Swiss dan Australia. Sebaliknya, banyak bagian di Indonesia, Peru, dan Kamerun masih kurang terpetakan. Tinjauan cepat OpenStreetMap menunjukkan area perkotaan jauh lebih lengkap dipetakan daripada pedalaman. Di Amazon Brasil, timnya menemukan sekitar tiga kali lebih banyak jalan ilegal tak tercatat dibanding jalan resmi. Selain hilangnya hutan dan hewan yang tertabrak, jalan memicu dampak lanjutan seperti perburuan dan penebangan. Studi 2014 di Biological Conservation menemukan hampir 95% deforestasi Amazon Brasil terjadi dalam 5,5 km dari jalan atau sungai.

Dampak kehilangan hutan ini sangat serius. Di India, rencana pembangunan infrastruktur mendapat kecaman dari para konservasionis karena merusak habitat harimau dan menghambat upaya pemulihan populasinya. Di Asia Tenggara, perluasan jaringan jalan dianggap sebagai salah satu penyebab utama hilangnya habitat dan meningkatnya perburuan liar, yang menurut para ilmuwan berisiko mendorong 21–48% spesies mamalia asli di kawasan ini menuju kepunahan pada tahun 2100. Dampak ini tidak hanya terkait jalan besar yang padat; jalan kecil, seperti jalur penebangan, juga dapat menyebabkan kerusakan tambahan. Nuria Selva menjelaskan bahwa semua jenis jalan—termasuk jalur penebangan dan jalan tanah kecil—berdampak pada lingkungan, dan efeknya meluas jauh melampaui tepi jalan; area yang paling parah terpengaruh berada dalam radius sekitar 1 km di kedua sisi jalan. Penelitian tersebut menyoroti fenomena pembangunan menular: satu jalan memicu munculnya jalan-jalan baru, yang pada gilirannya memperluas akses manusia ke kawasan sebelumnya terlindungi.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Para penulis menelaah data terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, yang mencakup isu mulai dari pengentasan kemiskinan hingga penanggulangan perubahan iklim. Mereka menyatakan bahwa temuan menunjukkan adanya benturan antara target pertumbuhan ekonomi dan upaya pelestarian keanekaragaman hayati—tujuan ekonomi berpotensi mengancam area tanpa jalan yang tersisa, sementara tujuan konservasi seringkali mengabaikan pentingnya melindungi kawasan tersebut. Studi tersebut menyatakan bahwa jalan raya hanya disebutkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan karena perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, yang mendorong perluasan ke daerah pedesaan terpencil, tanpa mempertimbangkan biaya lingkungan dan sosial dari pembangunan jalan.

Meskipun menemukan kelemahan, peneliti juga melihat kesempatan. Menjaga area tanpa jalan yang penting secara ekologis dapat membantu memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan—misalnya dengan menghentikan degradasi lahan dan mendorong industri ramah lingkungan—maka mereka menyarankan pemerintah menilai manfaat mempertahankan kawasan tersebut tanpa jalan. Pierre Ibisch menyatakan bahwa seiring jaringan jalan terus berkembang, diperlukan strategi global yang mendesak untuk konservasi, restorasi dan pemantauan efektif terhadap area tanpa jalan dan ekosistemnya; ia mendesak pemerintah untuk menahan pembangunan jalan mahal di daerah terpencil karena dampak ekologisnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *