Berbagai pihak menyambut positif kenaikan FDI dari China ke Indonesia sebesar 291% pada Januari–September. Nilainya mencapai 1,5 miliar dolar AS selama periode tersebut. Perkembangan ini menguntungkan perekonomian Indonesia, yang membutuhkan FDI untuk menjaga pertumbuhan 5–5,5% pada 2016 dan menargetkan 6% pada 2017. Perkembangan itu mematahkan keraguan bahwa komitmen FDI China bernilai puluhan miliar dolar hanya akan terealisasi sebagian. Sebaliknya, investasi China kini memperlihatkan peluang pertumbuhan yang jauh lebih besar pada masa mendatang. Indonesia patut menyambut kenaikan ini karena kebutuhan investasi tinggi dan China memiliki minat serta kapasitas merealisasikannya.
Indonesia harus menanggapi situasi ini secara serius. Pertumbuhan ekonomi 5% belum mampu menyerap lebih dari dua juta tenaga kerja baru. Kondisi ini kemungkinan memerlukan pertumbuhan tahunan sekitar 7%. Selain itu, Indonesia juga berpotensi membutuhkan tambahan investasi karena pelemahan ekspor akibat perlambatan ekonomi di negara-negara mitra dan pesaing. Kebutuhan ini menjadi semakin penting apabila pemerintah ingin menekan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan ekonomi di masyarakat. Dalam konteks tersebut, investasi asing langsung dari China dapat menjadi salah satu unsur penting dalam upaya Indonesia mencapai sasaran-sasaran tersebut. Kali ini, investasi asing langsung (FDI) dari China hadir dalam skala yang benar-benar signifikan. Indonesia perlu menyambut positif investasi China dan mempersiapkan pengusaha serta UKM memanfaatkan peluang yang tersedia. Dahulu, banyak pihak memandang China dengan kecurigaan, sementara China juga mengkhawatirkan sentimen anti-China di Indonesia. Kini, situasinya telah berubah. China berkembang pesat dan mengubah penerapan sistem sosialismenya sejak Deng Xiaoping meluncurkan reformasi pada 1978.
Tenaga Kerja China
Apabila muncul persoalan terkait kehadiran tenaga kerja asal China dalam pelaksanaan proyek di Indonesia, seluruh pihak perlu melakukan pembahasan secara matang dan mencapai kesepakatan bersama sebelum mengambil keputusan akhir. Salah satu kendala yang berpotensi muncul adalah perbedaan bahasa yang dapat menghambat komunikasi. Di samping itu, peningkatan produktivitas tenaga kerja Indonesia juga perlu menjadi perhatian agar proyek dapat terlaksana secara efektif dan mencapai hasil yang optimal. Indonesia dan China perlu membangun kesepahaman bersama mengenai berbagai tantangan yang berpotensi muncul dalam hubungan kemitraannya. Hal ini mencakup pemahaman yang lebih mendalam dari pihak China terhadap dinamika politik Indonesia yang kerap terpengaruh sentimen nasionalisme. Dengan adanya sikap terbuka untuk berkompromi ketika perlu, kedua negara dapat memperluas peluang kerja sama dan memperkuat terwujudnya Kemitraan Strategis Komprehensif.
Karena banyak pemimpin Indonesia menempuh pendidikan di negara-negara Barat dan lebih akrab dengan sistem di sana, mereka memandang pendekatan baru dari pihak mitra dengan kehati-hatian tertentu. Sebagai kekuatan utama di Asia Timur saat ini, pengaruh China yang semakin besar tampaknya turut mendorong perubahan tersebut, terutama karena posisinya sebagai salah satu mitra penting Indonesia. Selain itu, China merupakan negara tetangga yang dekat, dan Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik dengannya sejak 1950, tidak lama setelah berdirinya Republik Rakyat China pada 1949.
Kerja Sama Erat
Indonesia dan China telah menjalin kerja sama yang erat sejak pemulihan hubungan diplomatik pada 1990, dengan membangun hubungan yang baik serta kepercayaan bersama di berbagai bidang, mulai dari tingkat pimpinan hingga pelaksana, dan dari pemerintah hingga lembaga riset, dunia usaha, media, serta organisasi nonpemerintah. Kita perlu menjalin hubungan dengan berbagai pihak sebagaimana kita membangun relasi dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat. Jika kita dapat mempertimbangkan dan mempelajari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang AS pimpin, maka kita juga dapat mendorong Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). ASEAN mengajukan RCEP sebagai respons atas inisiatif TPP, dan China kini turut mendorong pelaksanaannya.
Oleh karena itu, kita perlu mengkaji seluruh inisiatif tersebut secara cermat serta menilai pembahasannya berdasarkan keunggulan dan kelemahan masing-masing. Masa depan TPP masih berada dalam ketidakpastian, sedangkan RCEP memiliki peluang untuk terus dikembangkan karena perdagangan tetap menjadi syarat penting bagi pertumbuhan ekonomi. Selain itu, RCEP dinilai siap untuk didorong dan diselesaikan dalam waktu dekat. Oleh sebab itu, diperlukan dukungan bersama untuk mendorong kemajuannya.