Sekitar 80.000 jurnalis ada di Indonesia, namun hanya 9.000 yang tersertifikasi Dewan Pers, kata Hendry Ch. Bangun pada Dialog Media Jerman-Indonesia, Senin (7 November). Tidak ada regulasi khusus untuk profesi jurnalistik di Indonesia; hanya UU Pers 1999 yang melindungi wartawan. Perlindungan itu kadang tidak mencukupi, sehingga kebutuhan pemahaman dan kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalis meningkat. Survei Dewan Pers 2012 menunjukkan 41% jurnalis membaca kode etik; 59% hanya membaca sebagian atau belum membaca. Hendry menilai angka tersebut sejalan dengan banyaknya pengaduan soal minimnya liputan isu tertentu dan bias pemberitaan. Ia juga menyebut banyak publikasi berisi informasi yang tidak akurat secara faktual. Hendry menambahkan posisi jurnalis sering orang salah gunakan untuk keuntungan finansial melalui penerimaan bayaran publikasi.
Hendry mengatakan Indonesia belum punya pedoman baku soal upah jurnalistik. Akibatnya banyak wartawan menerima gaji rendah, dan beberapa bergantung pada komisi yang mereka terima setelah mereka mendapatkan pengiklan. Kondisi ini melanggar standar internasional yang menuntut jurnalis bebas dari pengaruh berkepentingan. Data itu mencatat sekitar 2.000 outlet berita daring dan total 3.500 outlet media. Meski jumlahnya besar, Hendry menilai pihak terkait harus memperbaiki kualitas dan praktik. Ia menambahkan bahwa media sering absen dalam meliput bias gender dan isu yang memengaruhi perempuan. Media juga kurang memberi perhatian pada kelompok miskin, anak-anak, dan orang sakit. Pemilik media sering mencampuri urusan editorial, memilih berita yang jurnalis liput, dan merambah ranah politik. Menurut Hendry, di samping campur tangan, serangan dan tindakan kekerasan terhadap wartawan masih sering berlangsung di tanah air.
Tindakan Kekerasan
Pada 15 Agustus tahun ini bentrokan antara warga dan Angkatan Udara terjadi di Medan Polonia; dua jurnalis laki-laki melaporkan tindakan kekerasan fisik terhadapnya, sedangkan seorang jurnalis perempuan mengklaim mengalami pelecehan dari personel angkatan udara.
Baru-baru ini, saat demonstrasi menentang Gubernur Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama pada Jumat lalu, seorang jurnalis melaporkan diserang secara fisik dan kartu memori kameranya dirampas oleh para pengunjuk rasa.