ADB: Perlambatan Ekonomi RI Ganggu Kinerja, Meski Sementara

ADB menilai perlambatan ekonomi

ADB menilai perlambatan ekonomi hanya sementara. Kenaikan belanja pemerintah diperkirakan mendorong pertumbuhan kembali ke 5% pada akhir tahun.

Wakil Direktur ADB, Edimon Ginting, menyampaikan pada hari Selasa bahwa pemerintah masih berpeluang menambah stimulus ekonomi, mengingat 88% anggaran infrastruktur—setara Rp255 triliun—belum terserap.

Mengacu pada pernyataan pemerintah bahwa realisasi belanja modal dapat mencapai 85% pada 2015, Edimon menilai investasi pemerintah akan meningkat 94% dan lebih banyak mengalir ke masyarakat daripada semester II 2014.

“Semester kedua menjadi fase yang sangat krusial, dan hal ini akan mengangkat kembali perekonomian,” tegasnya.

Terkait hal tersebut, Edimon menegaskan bahwa pemerintah perlu bersungguh-sungguh menuntaskan kendala administratif yang selama ini menghambat pencairan anggaran.

Ia menegaskan bahwa stimulus dari belanja pemerintah juga akan meningkatkan konsumsi domestik, baik di sektor swasta maupun sektor publik.

Ia menilai kinerja ekspor yang membaik akan menopang peningkatan konsumsi swasta, meskipun ekspor sempat menurun pada kuartal II 2015.

Ekspor Membaik

“Ekspor yang melemah sejak pertengahan 2014 mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal kedua. Sementara itu, neraca perdagangan akan menguat karena impor menurun, yang menjadi dampak positif dari depresiasi rupiah,” tegasnya.

Edimon memperkirakan konsumsi rumah tangga akan meningkat dari 5% pada kuartal pertama, setelah pemerintah menaikkan tunjangan pribadi serta gaji personel TNI dan Polri.

“Pemilihan kepala daerah serentak yang akan datang juga diperkirakan mendorong peningkatan konsumsi pemerintah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan ADB, agar pertumbuhan ekonomi bisa dipertahankan di atas 5%, konsumsi rumah tangga perlu mencapai 7%.

Di sisi lain, ia menilai bahwa upaya pemerintah menjaga kesinambungan reformasi struktural serta memperkuat koordinasi dengan BI juga akan menopang pertumbuhan. Namun, perhatian terhadap stabilitas ekonomi tetap harus menjadi prioritas.

“Inflasi akan tetap stabil karena selama ini pemicu utamanya berasal dari harga BBM dan pangan. Kini, melalui reformasi struktural, dampak subsidi BBM sudah berakhir sehingga inflasi dapat lebih terkendali,” ujarnya.

Edimon menambahkan bahwa ADB masih memproyeksikan inflasi 2015 sebesar 6,4% (yoy), seiring gejolak harga pangan akibat pencabutan subsidi bahan bakar.

Terkait proyeksi pertumbuhan, ADB menurunkan perkiraannya dari 5,5% menjadi 5,0%, atau berada pada kisaran 4,8%–5,2%.

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *