Ekspor Minyak Sawit RI Tersungkur 35,08%—Ada Masalah Serius?

Ekspor minyak sawit merosot

Ekspor minyak sawit merosot 35,08% (yoy) pada Maret. Penurunan ini menandai perlambatan, meski pemasok terbesar dunia sebelumnya konsisten mencatat pertumbuhan dua digit.

BPS menyatakan minyak sawit tetap menjadi penopang utama neraca dagang, menjaga surplus 71 bulan sejak Mei 2020. Namun pada Maret, ekspor CPO dan turunannya melemah tajam, bertepatan dengan mulainya perang melawan Iran yang masih berlangsung. BPS tidak menjelaskan penyebab turunnya pengiriman komoditas ini ke pasar luar negeri.

Dalam konferensi pers Senin, Deputi BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa ekspor CPO beserta turunannya pada Maret 2026 mencapai $1,42 miliar dengan volume 1,31 juta ton. Ia menambahkan, dari sisi nilai terjadi penurunan 35,08% daripada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ateng belum mengungkapkan bagaimana perkembangan volume ekspor secara tahunan.

Tetap Tumbuh

Kinerja pengiriman pada kuartal pertama tetap mencatat pertumbuhan, meskipun terbatas pada angka satu digit. Secara nilai, ekspor sepanjang Januari–Maret 2026 mencapai $6,11 miliar, meningkat sekitar 3,56% dari $5,90 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Volume ekspor pada kuartal I 2026 tercatat 5,85 juta ton, atau naik sekitar 9,30%. BPS tidak memaparkan siapa pembeli terbesar minyak sawit, sementara China dan India terus mendominasi sebagai pasar tujuan.

Indonesia mengawali 2026 dengan performa ekspor minyak sawit yang menguat. Pada Januari, nilai ekspor tercatat tumbuh 59,63% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara akumulasi Januari–Februari meningkat 26,40% dari sisi nilai.

Pada kesempatan yang sama, Ateng menyebutkan bahwa harga minyak sawit di pasar internasional cenderung meningkat sejak awal tahun. Harga pada April tercatat $1.149,33 per metrik ton, naik signifikan dibanding $980,12 per metrik ton pada Desember 2025.

Di dalam negeri, asosiasi produsen sawit Gapki sebelumnya menyoroti lonjakan biaya transportasi dan logistik ekspor hingga 50% setelah pecahnya perang Iran. Konflik tersebut—yang memicu blokade Selat Hormuz—memaksa pengapalan mencari jalur laut alternatif, sehingga waktu tempuh menjadi lebih panjang.

Indonesia tengah mempersiapkan peningkatan kewajiban bauran minyak sawit dalam bahan bakar diesel dari 40% menjadi 50% yang akan berlaku mulai Juli. Kebijakan tersebut, yang bertujuan mengurangi tekanan fiskal imbas perang, diperkirakan akan meningkatkan penyerapan sawit di dalam negeri seiring naiknya permintaan, kecuali terdapat peningkatan kapasitas produksi.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *