BI Gagal Selamatkan Rupiah dari Krisis Energi

Bank Indonesia memperkuat upaya

Bank Indonesia memperkuat upaya mempertahankan rupiah di tengah ketegangan geopolitik dan kenaikan imbal hasil obligasi AS. Pada Rabu 29 April rupiah melemah 0,29% menjadi Rp17.293 per dolar AS, tertekan krisis energi dan ekspektasi bank sentral Barat.

Stabilitas rupiah menjadi kunci pengendalian inflasi dan kesehatan utang korporasi. Gangguan di Selat Hormuz, jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia, mendorong lonjakan biaya energi yang mengancam pemulihan. Bagi investor internasional, kemampuan BI mempertahankan nilai tukar tanpa menggerus cadangan devisa $140 miliar menjadi ujian makroekonomi 2026.

Strategi Intervensi Tiga Arah

Untuk meredam volatilitas, BI tak lagi hanya menjual di pasar spot tradisional. Bank sentral kini agresif beroperasi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic NDF (DNDF) untuk menahan tekanan spekulatif.

Pendekatan multi-aspek ini memberi bank sentral kemampuan mengelola ekspektasi pasar tanpa menguras cadangan devisa secara besar‑besaran. Laporan mingguan Kantor Kepala Kelompok Ekonomi BRI menyatakan BI menstabilkan pasar lewat intervensi di NDF dan DNDF serta penyesuaian ambang transaksi valuta asing.

Faktor Trump dan Guncangan Energi

Tekanan eksternal meningkat setelah laporan menyatakan blokade Selat Hormuz memutus sebagian besar pasokan energi global. Meski Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran meminta pencabutan blokade angkatan laut, Badan Energi Internasional menilai situasi ini sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah modern.

Ketidakpastian mendorong harga minyak Brent naik ke $105 per barel dan mendorong Indeks Dolar AS (DXY) ke 98,7. Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, mengatakan kenaikan imbal hasil Treasury AS 10 tahun ke 4,35% mengembalikan investor ke aset berbasis dolar dan menekan pasar negara berkembang.

Mempertahankan Suku Bunga

Meski rupiah melemah, Bank Indonesia mempertahankan BI‑Rate pada 4,75% dalam rapat 22 April. Bank menggunakan operasi pasar terbuka dengan posisi penyerapan bersih untuk menyerap likuiditas berlebih sambil menjaga pertumbuhan uang primer (M0) tetap dua digit.

Ruang kesalahan semakin menyempit. Saat Federal Reserve membuka pertemuan kebijakan dua hari minggu ini, para analis memperkirakan BI mungkin harus mengetatkan kebijakan moneter jika rupiah menembus Rp17.500. Untuk kini, BI mempertahankan bauran kebijakan yang menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dan dukungan bagi ekonomi domestik yang tumbuh sekitar 5%.

Visited 4 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *