Kalau Anda pernah mendengar tentang kukang, besar kemungkinan alasannya keliru. Video viral yang menampilkan orang memelihara, menggelitik, atau memberi kukang bola nasi memikat banyak orang, padahal kenyataannya jauh dari menggemaskan.
Para pedagang menangkap kukang liar untuk dijual sebagai hewan peliharaan, lalu mencabut giginya tanpa anestesi atau antiseptik. Pemilik sering memaksa kukang peliharaan tetap terjaga siang hari, menyebabkan stres, gangguan penglihatan, dan masalah kesehatan. Tingkah lucu sering sebenarnya tanda stres; misalnya kukang meraih payung kecil karena mencari pegangan seperti cabang pohon.
Singkatnya, orang tidak boleh menjadikan kukang sebagai hewan peliharaan. Jika tidak mati saat perdagangan, mereka sering meninggal di penangkaran karena malnutrisi. Penanganan buruk dan infeksi juga sering menjadi penyebab kematian.
Jumlah kukang di alam liar belum pasti, tetapi semua spesies menghadapi ancaman serius. Orang memperdagangkan kukang sebagai hewan peliharaan dan memburunya untuk keperluan pengobatan tradisional. Habitat mereka hilang di banyak wilayah Asia karena konversi hutan menjadi pertanian, jalan, dan permukiman. Untuk kukang Jawa, kurang dari 20% habitat yang sesuai tersisa dan sangat terfragmentasi.
Beruntung bagi kukang, ada pembela gigih: Anna Nekaris dan tim Little Fireface Project di Jawa. Nama Inggris organisasi ini menerjemahkan istilah Sunda muka geni untuk kukang. Istilah itu merujuk pada pola wajah seperti topeng, menyerupai air mata atau nyala api di sekitar mata.
Tim Little Fireface Project menggunakan berbagai pendekatan, dari riset dasar hingga kampanye media sosial. Mereka mendorong masyarakat melindungi kukang, mulai dari desa asal hingga ke tingkat global.
Kukang mencakup semua spesies dalam genus Nycticebus, yang tersebar dari timur laut India hingga Asia Tenggara, Indonesia dan Filipina. Mereka memiliki beberapa ciri yang menarik bagi manusia, termasuk satu yang hampir unik. Kukang memiliki gigitan berbisa, sehingga menjadi salah satu dari sedikit mamalia berbisa.
Ancaman utama kukang datang dari kukang lain—kukang jantan sangat teritorial—tetapi gigitannya juga berpotensi membahayakan manusia.
Menyebabkan Alergi
Toksin ini berhubungan dengan alergen yang menyebabkan reaksi alergi pada manusia, mirip alergen pada kucing. Nekaris mengetahui ada korban gigitan kukang yang hampir meninggal karena syok anafilaksis, dan ia ikut menulis makalah bersama korban tersebut.
Bisa kukang juga tidak biasa. Kukang menjilat kelenjar lengan untuk mengaktifkan mekanisme pertahanan. Sekresi kelenjar tidak beracun sampai bercampur air liur; kombinasi itulah yang menghasilkan racun. Nekaris mencatat sistem bisa ini lebih rumit dari dugaan sebelumnya dan akan segera menerbitkan makalah yang menjelaskan prosesnya.
Rahasia soal gigitan beracun kukang hanyalah salah satu dari banyak teka-teki hewan ini. Masih banyak pertanyaan dasar yang belum terjawab, termasuk berapa sebenarnya jumlah spesiesnya. Para ahli memperkirakan IUCN akan mencantumkan sembilan spesies kukang saat memperbarui status akhir tahun ini. Semua akan berstatus terancam atau sangat terancam, naik dari delapan spesies sebelumnya.
Nekaris, anggota tim penyusun pembaruan ini, menilai angka tersebut belum final. Ia mencontohkan bahwa kukang Bengal tersebar luas dari India hingga China, wilayah yang bagi primata lain menampung puluhan spesies. Kukang Bengal menunjukkan variasi luar biasa. Berat kukang Bengal berkisar 600 gram hingga 2,4 kilogram. Warna bulunya bervariasi dari putih pucat hingga merah cerah. Nekaris mengatakan perbedaan ini sulit dia jelaskan jika kukang Bengal benar satu spesies. Ia menegaskan bahwa para peneliti masih harus melakukan banyak studi pada kelompok kukang yang kurang kita pahami ini.
Penentuan nama spesies, subspesies, dan batas sebaran tampak seperti perdebatan akademis rumit, tetapi penting untuk konservasi. Contohnya, invasi tupai abu-abu mendorong tupai merah keluar habitat Inggris. Jika ilmuwan menganggap keduanya satu spesies, kepunahan lokal tupai merah akan tampak tidak terjadi.
Lokasi Salah
Kasus serupa terjadi jika peneliti, dengan niat baik, melepas kukang kerabat dekat di lokasi yang salah. Tindakan itu dapat menyebabkan pencampuran spesies atau subspesies berbeda secara tidak sengaja. Nekaris mengatakan kesalahan seperti ini pernah terjadi, bahkan saat pembagian spesies tampak jelas. Oleh karena itu, pengetahuan rinci tentang identitas dan sebaran tiap spesies sangat penting untuk konservasi.
Kukang cenderung memilih tepian hutan sebagai habitat. Di sana cahaya matahari membentuk anyaman cabang dan sulur yang rapat. Struktur ini mereka butuhkan untuk memanjat dengan cengkeraman seperti capit. Mereka menggunakan cengkeraman itu untuk berpindah antar cabang.
Berbeda dari banyak primata lain, kukang tidak mampu melompat antar pohon. Itu salah satu alasan orang menjuluki mereka “slow”. Sekitar 40% mamalia plasenta juga menunjukkan tingkat metabolisme basal yang rendah.
Kukang menyukai tepian hutan. Kegiatan manusia seperti menebang dan menanam pohon sering kali tanpa sengaja menciptakan habitat yang cocok bagi kukang. Aktivitas itu membentuk hutan kecil, kebun pohon, lahan pertanian, dan habitat tepian lainnya.
Di lokasi penelitian Little Fireface Project di Desa Cipaganti, Jawa Barat, kukang berhasil berkembang biak. Petani menanam Akasia decurrens (jiengjen) yang menghasilkan getah sangat disukai kukang. Selain getah, mereka juga memakan buah, nektar, serangga, telur, dan mangsa kecil.
Ketertarikan kukang pada tepian buatan manusia ibarat pedang bermata dua. Aktivitas manusia memberi mereka habitat dan sumber makanan. Namun banyak hutan di Asia tidak terlindungi. Kehadiran kukang dekat pemukiman justru menempatkan mereka pada risiko.
Nekaris mengatakan manusia menentukan keberlangsungan kukang di tempat ini; jika manusia menebang semua pohon, kukang bisa lenyap dalam waktu singkat. Penebangan untuk menambah lahan demi memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah adalah praktik yang umum di seluruh wilayah jelajah kukang.
Keberadaan Bermanfaat
Tim Anna Nekaris memfokuskan penelitian dasar untuk meyakinkan petani bahwa keberadaan kukang bermanfaat demi perlindungan mereka. Seorang peneliti dalam tim mengamati kukang untuk mendokumentasikan kebiasaan memakan serangga dan peran mereka sebagai pengendali hama. Temuan penting baru-baru ini menunjukkan kukang juga merupakan penyerbuk yang sangat efektif: lidahnya termasuk yang terpanjang di antara primata sehingga dapat mengambil nektar tanpa merusak bunga, dan saat menjilat nektar serbuk sari menempel di wajahnya lalu terbawa ke bunga berikutnya.
Anggota tim, Kathleen Reinhardt, kini meneliti secara rinci dampak ekologis penyerbukan oleh kukang, sebuah topik dengan konsekuensi ilmiah yang signifikan. “Ada teori bahwa primata purba berevolusi bersama angiosperma,” ujarnya. Penelitian ini memungkinkan pengujian apakah perilaku kukang mendukung teori tersebut. Temuan ini juga penting untuk mereka sampaikan kepada petani lokal yang menanam pohon-pohon yang mereka teliti; jika kukang membantu memperbanyak pohon dan tanaman yang bernilai bagi petani, hasilnya bisa menjadi argumen kuat untuk mendukung upaya konservasi.
Little Fireface Project juga berusaha melibatkan anak muda. Nekaris menyebut anak-anak sebagai patroli kecil karena mereka menyukai hewan dan cenderung ingin melihat ketika ada kukang yang orang tangkap. Oleh karena itu tim menyusun buku edukasi untuk mengajarkan anak-anak mengapa berburu kukang itu salah dan menekankan pentingnya upaya pelestarian.
Upaya penyuluhan ini membuahkan hasil. Nekaris mengatakan bahwa ketika warga menyadari keberadaan kukang di sekitar mereka dan mulai menyukai hewan ini, mereka secara mandiri melakukan patroli dan menolak perburuan. Di daerah yang telah menerima program pendidikan dan pemberdayaan, perburuan kukang berhenti, sedangkan di lokasi sekitar 10 km yang belum terjangkau, perburuan masih berlangsung.
Gaya hidup kukang yang lamban dan mudah tertangkap, dan penampilan serta tingkah laku yang menggemaskan, membuat mereka menjadi incaran utama penyelundup untuk orang perdagangkan sebagai hewan peliharaan.
Pemerintah Melindungi
Dr. Chris Shepherd, Direktur Regional TRAFFIC untuk Asia Tenggara, menyatakan bahwa pemerintah di sebagian besar negara tempat kukang hidup melindungi mereka dari perburuan, penangkapan, kepemilikan, dan perdagangan; selain itu, CITES mencantumkan semua spesies kukang dalam Lampiran I sehingga melarang perdagangan internasional untuk tujuan komersial.
Namun hukum tak banyak berguna jika pihak berwenang tidak menegakkannya, dan di sinilah masalahnya. Shepherd menyebutkan bahwa para pedagang sering memperdagangkan kukang secara terang-terangan di pasar burung seperti Pasar Jatinegara. Pedagang yang memamerkan kukang dan satwa terlindungi lainnya secara terbuka mengabaikan aturan dan mencerminkan lemahnya penegakan hukum.
Menurut Tilo Nadler dari Endangered Primate Rescue Center (EPRC) di Taman Nasional Cuc Phuong, situasinya serupa di Vietnam. Ia menyatakan bahwa meskipun petugas taman kadang menyita kukang, pihak berwenang nyaris tidak pernah menuntut pelaku. Antara 2008 dan 2013, ketika EPRC merawat 150 kukang kerdil dan 40 kukang lambat, 81% kasus kejahatan satwa liar yang melibatkan kukang tidak berakhir dengan hukuman.
Selain EPRC, terdapat beberapa pusat penyelamatan lain yang efektif dalam menyelamatkan kukang dan melepasnya kembali ke alam, termasuk Endangered Asian Species Trust (EAST) di Vietnam. Shepherd dari TRAFFIC menyatakan bahwa Indonesia juga memiliki jaringan pusat rehabilitasi yang kuat yang bekerja sama erat dengan pemerintah.
Pusat-pusat ini menerima kukang melalui berbagai cara, termasuk penyitaan oleh aparat dan penyerahan dari pemilik yang tak menyadari hewan ini ilegal. Para penyelamat menilai perdagangan gelap sebagai ancaman utama. Dr. Marina Kenyon, Direktur Pusat Spesies Primata Langka Dao Tien, mengatakan kukang sebenarnya nyaman hidup di habitat campuran dekat permukiman jika manusia membiarkan mereka sendiri, tetapi perburuan untuk orang jadikan peliharaan, obat, atau atraksi wisata terus mengganggu mereka. Dalam 18 bulan terakhir, seiring meningkatnya kesadaran dan fokus pemerintah pada penyitaan kukang, pusat-pusat itu menerima lebih dari 40 kukang kerdil, jauh lebih banyak daripada biasanya 4–6 ekor pada periode yang sama.
Hidup dan Sehat
Penelitian dasar tentang kukang oleh Little Fireface Project mendukung jaringan pusat penyelamatan dengan membantu menjaga kukang hasil sitaan tetap hidup dan sehat sebelum mereka lepasliarkan. Tim juga menemukan bahwa kukang mengonsumsi getah pohon dalam jumlah sangat besar.
Oleh karena itu, setiap pusat penyelamatan yang menampung kukang hasil sitaan harus menyediakan pohon yang sesuai dan mudah mereka akses atau memastikan ketersediaan getah secara berkelanjutan. Temuan ini mereka sebarluaskan ke sebanyak mungkin kebun binatang dan pusat rehabilitasi karena kukang yang mereka pelihara sering mengalami masalah kesehatan akibat pola makan yang keliru.
Memulihkan kesehatan kukang hanyalah tahap awal dalam upaya penyelamatan yang efektif. Pelepasliaran kembali bukan sekadar membuka pintu kandang; para pelaksana harus memahami secara mendalam perilaku dan preferensi habitat kukang.
Dulu, saat Nekaris dan tim memantau kukang yang mereka lepasliarkan, mereka mendapati sekitar 90% gagal bertahan; hewan-hewan ini cenderung melesat ke dalam hutan sampai kelelahan dan akhirnya mati kelaparan.
Nekaris mengatakan salah satu penjelasan adalah lokasi pelepasliaran kurang cocok sehingga kukang justru melarikan diri mencari habitat yang sesuai. Penelitiannya merupakan studi jangka panjang pertama tentang kukang di alam liar, dan setiap beberapa bulan tim menemukan hal-hal mengejutkan dan baru yang secara mendasar mengubah cara melakukan reintroduksi.
Meskipun berbagai penelitian dan upaya dari pusat penyelamatan, banyak kukang hasil sitaan tidak bisa mereka lepasliarkan karena gigi mereka tercabut dan kondisi kesehatannya rusak permanen akibat penangkaran, sehingga mereka tak lagi mampu hidup mandiri di alam.
Shepherd mengatakan bahwa kukang yang orang perdagangkan jarang memiliki masa depan yang baik meskipun pihak berwenang berhasil menyita mereka; yang paling penting adalah menghentikan perdagangan ini. Untuk menurunkan perdagangan ilegal secara nyata, pihak berwenang harus menuntut pemburu, pedagang, dan pembeli—penyitaan saja tidak cukup.
Perdagangan kukang berskala internasional membuat upaya lokal saja tidak memadai; pemerintah dan lembaga harus mengoordinasikan kebijakan dan program di tingkat nasional dan lintas negara.
Rencana Aksi
Dalam rangka upaya tersebut, Little Fireface Project menyusun rencana aksi nasional untuk negara-negara habitat kukang dan menyebarkan data ini. Mereka juga melatih petugas satwa liar agar cepat mengenali kukang saat terlihat, sehingga petugas bisa segera menyita hewan itu dan memindahkannya ke pusat penyelamatan.
Kolaborasi antara proyek Nekaris dan TRAFFIC mendorong kunjungan terbarunya ke Jepang. Di sana otoritas mengizinkan kepemilikan kukang sebagai hewan peliharaan dengan persyaratan izin, namun lemahnya penegakan hukum membuat banyak kukang hasil penyelundupan tetap masuk ke pasar.
Nekaris, misalnya, menemukan seekor kukang yang orang jual dengan label spesies yang keliru namun dengan izin CITES untuk spesies lain. Ia juga melihat seekor bayi kukang yang memakai izin satwa liar yang keluar beberapa tahun lalu. Meski demikian, ia berharap pemerintah Jepang akan mengubah undang‑undang agar praktik ini tidak terulang, yang menurutnya merupakan langkah maju besar.
Proyek ini menjalankan sebagian besar kegiatan internasional utamanya secara daring, menyebarkan informasi yang mengedukasi publik tentang kekejaman perdagangan hewan peliharaan, pembuatan video yang mengeksploitasi kukang, dan praktik memelihara primata sebagai hewan peliharaan. Upaya ini, termasuk pendidikan kepada para petani, telah memberikan dampak positif.
Nekaris menyatakan bahwa saat orang semakin mengenal dan menyayangi kukang serta menyadari penderitaan yang mereka alami, sikap publik berubah. Proyek memantau komentar daring selama tiga tahun dan mencatat transformasi nyata; menurutnya, jumlah orang yang membela kukang meningkat secara signifikan. Pesan ini kian kuat: semakin banyak suara yang menilai memelihara kukang sebagai tindakan kejam, melanggar hukum, dan tidak layak menjadi hewan peliharaan.
Sepanjang perjalanannya, ia menyadari bahwa kukang makin sulit dia temui di pasar satwa liar. “Dulu kami sering menemukan 30–40 ekor; sekarang mungkin hanya satu,” ujarnya tentang pasar yang pernah dia kunjungi. “Ini mengurangi pembeli impulsif. Mungkin masih bisa orang peroleh, tetapi harus melalui jaringan pasokan ilegal—tidak lagi bisa orang beli begitu saja secara terbuka di jalan.”
Perubahan Serupa
Ia juga menyaksikan perubahan serupa saat berkunjung ke Jepang. Para penjual sering mengatakan, “Kalau mau, belilah sekarang—kita tak tahu kapan akan ada lagi,” padahal beberapa tahun lalu kukang bisa dibeli di mana saja. Bagi dia, ini merupakan perubahan yang signifikan.
Perkembangan ini memberi harapan, kata Nekaris, dan Little Fireface Project telah mencapai banyak hal luar biasa meski timnya beranggotakan kurang dari 10 orang. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan kelangsungan hidup kukang.
Kukang masih diburu untuk keperluan pengobatan tradisional, dan belum ada program yang menangani persoalan ini. “Diperlukan tindakan di lapangan berupa model perubahan perilaku yang melibatkan praktisi pengobatan tradisional setempat,” ujarnya.
Dalam penelitiannya di Kamboja, Nekaris menemukan bahwa kukang dimanfaatkan untuk membuat tonik persalinan dan obat untuk masalah pencernaan, luka, patah tulang serta penyakit menular seksual. Menariknya, pembeli utama ramuan berbahan kukang adalah perempuan dari kalangan menengah ke atas. Shepherd menambahkan bahwa perdagangan ini meluas ke seluruh kawasan; TRAFFIC, misalnya, telah mendokumentasikan perdagangan obat dan perburuan untuk daging di Myanmar.
Seperti banyak spesies Asia yang hampir punah, masalah utama adalah minimnya dana untuk konservasi kukang; tidak ada organisasi konservasi internasional besar yang secara rutin menggalang dana akhir tahun dengan kampanye berwarna-warni untuk menyelamatkan kukang.
Nekaris memilih memusatkan perhatian pada primata kecil ini karena kecewa melihat mereka tersisih oleh fokus pada hewan besar dan karismatik seperti orangutan dan harimau. Ia terus memperingatkan bahwa kukang terancam punah, namun sering ditanggapi bahwa upaya konservasi lebih diarahkan pada spesies yang penting.
Pusat penyelamatan menghadapi tantangan yang sama. Nekaris mengatakan kukang sulit menarik donor, sehingga seringkali pusat harus mengalihkan dana dari program spesies lain untuk membiayai perawatan kukang. Meski dianggap lucu, kukang tidak bisa menandingi daya tarik orangutan.
Penggalangan Dana
Hingga kini belum ditemukan cara penggalangan dana alternatif yang bisa menandingi daya tarik megafauna yang dipromosikan organisasi konservasi besar. Akibatnya, banyak ekosistem dan spesies kunci—termasuk tumbuhan yang terancam—tidak menerima dukungan penting yang mereka perlukan untuk bertahan di alam liar.
Sayangnya, biaya menyelamatkan kukang bisa setara dengan biaya menyelamatkan orangutan. Konservasi itu mahal: mereintroduksi satu kukang secara benar—termasuk perawatan medis sebelum pelepasliaran, pemeliharaan, pemasangan kalung radio dan pelacakan selama satu tahun—menelan biaya sekitar $20.000.
Nekaris mengeluhkan bahwa sebenarnya tidak ada data pasti tentang berapa banyak kukang yang masih hidup di alam liar, namun hibah sekitar $200.000 bisa mulai menjawab pertanyaan ini. Saat ditanya apakah dana sebesar ini kini tersedia untuk penelitian kukang, ia tertawa dan menjawab tidak mungkin. Sejak Little Fireface Project berdiri pada 1993, tim hanya sekali menerima hibah sebesar ini, dan ini diberikan untuk studi tentang racun yang menarik bagi manusia.
Nekaris menegaskan bahwa membantu kukang tidak harus dengan menyumbang $200.000; cukup menahan diri untuk tidak menyukai atau membagikan video kukang secara online dan, sebagai gantinya, meninggalkan komentar yang bersifat edukatif pada unggahan tersebut.
Ia menyarankan agar video disertai pesan konservasi dan mengimbau untuk tidak bersikap menyerang. Pengunggah sering kali tidak menyadari masalahnya; kadang mereka pemilik hewan, kadang hanya membagikan tanpa mengetahui kekejaman yang terjadi.
Saat bepergian, Nekaris menyarankan agar tidak berfoto dengan kukang atau satwa liar lain yang ditawan. Kukang yang dipakai untuk foto sering mengalami kondisi yang lebih buruk daripada hewan peliharaan: mereka diambil dari alam, sering dibius, giginya dicabut, dipaksa bekerja 12–20 jam sehari, dipindah-pindah dari penjual ke penjual tanpa pernah bisa tidur karena dipaksa tampil di siang hari padahal mereka nokturnal; kesejahteraan mereka sangat memprihatinkan.
Properti Foto
Kenyon mengatakan bahwa informasi dari wisatawan sebelumnya telah membantu timnya menyelamatkan kukang yang dipakai sebagai properti foto, dan ia mendorong pelancong yang menyaksikan praktik tersebut untuk melaporkannya kepada otoritas setempat.
Nekaris menyarankan agar konsumen membuat pilihan yang ramah hutan, yakni hanya membeli produk yang menggunakan minyak sawit bersertifikat berkelanjutan. Perluasan produksi kelapa sawit yang cepat dan kurangnya pengaturan di Asia Tenggara tidak hanya merusak habitat orangutan, tetapi juga berdampak pada kukang dan spesies lainnya.
Nekaris menyatakan bahwa kepedulian terhadap kukang juga menguntungkan satwa liar lain. Ia memandang kukang sebagai simbol bagi reptil, mamalia kecil dan burung-burung langka yang kerap diabaikan demi spesies besar dan lebih populer. Baru-baru ini muncul empati serupa terhadap kukang, dan bagi dirinya ini menandai perubahan besar dalam penelitian yang dilakukannya.