Menteri Keuangan menyatakan pada Senin, pemerintah akan memakai APBN untuk meredam dampak lonjakan harga minyak. Alokasi subsidi BBM juga akan dinaikkan guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Pemerintah mengalokasikan Rp381,3 triliun untuk subsidi energi serta kompensasi bagi Pertamina dan PLN. Tujuannya menstabilkan harga beberapa jenis bahan bakar dan menjaga tarif listrik tetap terjangkau.
Anggaran ini mengasumsikan harga minyak mentah rata-rata $70/barel dan kurs Rp16.500/$ pada 2026.
Pada Senin, harga minyak melampaui $100 per barel. Kenaikan dipicu kekhawatiran guncangan pasokan berkepanjangan akibat konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah. Arus ke safe haven mengguncang rupiah ke rekor Rp16.990/$.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintah akan menahan guncangan kenaikan harga minyak global dengan anggaran dan mengupayakan pengendalian dampaknya seoptimal mungkin.
Subsidi mungkin meningkat, namun angka kenaikannya bergantung pada ketahanan harga minyak di level tinggi, katanya. Ia menambahkan, bulan depan pemerintah akan menilai kondisi guna memformulasikan respons kebijakan yang lebih jelas.
“Dalam sebulan, kami bisa memproyeksikan arah harga minyak lebih akurat dan menetapkan kebijakan yang tepat,” katanya.
“Kami punya kecakapan. Perubahan yang kami ambil tidak akan mengganggu kestabilan pertumbuhan ekonomi.”
Defisit Berpotensi Melebar
Purbaya menyebut pada 3 Maret bahwa bila minyak berada di kisaran $90–92/barel tahun ini, defisit berpotensi membengkak ke 3,6% PDB, melewati batas 3% yang diatur undang-undang.
Namun, pada skenario ini pemerintah akan melakukan penghematan belanja guna menjaga kepatuhan pada batas defisit, menurutnya.
Sementara pemerintah masih menilai dampak lonjakan harga minyak pada anggaran, pedoman defisit fiskal 2026 tetap 2,68% PDB, kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
Kantor berita Antara, merujuk pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, menyebut pasokan bahan bakar memadai dan tidak ada rencana penyesuaian harga bersubsidi setidaknya hingga Idul Fitri akhir pekan depan.
Seorang pejabat Kementerian ESDM mengatakan Indonesia berpeluang menghidupkan kembali rencana B50—campuran 50% biodiesel sawit dan 50% solar—pada akhir tahun, karena harga minyak mentah melonjak.