Inisiatif City Planning Lab bertujuan memperkuat kapasitas perencanaan tata ruang terpadu dan berbasis bukti. Inisiatif ini mendukung pengambilan keputusan investasi strategis serta mendorong pertumbuhan ekonomi kota inklusif dan berkelanjutan. Penyelenggara mewujudkan tujuan itu dengan membentuk fasilitas khusus bernama City Planning Lab untuk menginternalisasi kemampuan perencanaan jangka panjang. Bank Dunia menginisiasi Program Pembangunan Perkotaan Nasional (P3N) dan menyediakan pendanaan untuk infrastruktur transformatif. Selain investasi, P3N meningkatkan kapasitas teknis dan kelembagaan di wilayah perkotaan serta otoritas metropolitan. Bank Dunia memulai kerja sama langsung dengan pemerintah daerah di kota besar dan menengah serta kawasan metropolitan berpenduduk >500.000 jiwa.
Perubahan pesat melanda kawasan Asia Timur, terutama karena laju urbanisasi yang tinggi. Indonesia mencatat tingkat urbanisasi tahunan tercepat di kawasan itu, rata-rata 4,2% antara 1993 dan 2007. Pada 2010, 54% penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan, sehingga negara ini menjadi salah satu yang paling terurbanisasi di Asia. Proyeksi menunjukkan angka itu akan meningkat menjadi 68% pada 2025.
Meski urbanisasi berlangsung pesat, dampak ekonominya belum sebanding dengan negara-negara lain di kawasan Asia. Setiap peningkatan urbanisasi 1% hanya mendorong pertumbuhan PDB sekitar 2%, jauh lebih rendah daripada China, India, dan Thailand. Tanpa investasi terarah, kebijakan tepat, dan penguatan kapasitas kelembagaan, urbanisasi tak tertata dapat menghambat pertumbuhan berkelanjutan.
Periode kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang pada Perang Dunia II menandai dinamika kompleks dan pergolakan sejarah. Negara menghadapi tantangan internal, termasuk korupsi yang meluas. Transisi menuju demokrasi melahirkan presiden pertama yang rakyat pilih langsung pada 2004, 59 tahun setelah proklamasi. Pemerintah melaksanakan reformasi besar pada 1999 dengan mendesentralisasikan kekuasaan ke daerah. Sejak itu, pihak terkait menganalisis dan menyempurnakan pembagian peran, prosedur operasional, akses kewenangan, dan tanggung jawab hingga 2014.
Potensi Besar
Kota-kota memiliki potensi besar dalam mendorong kemajuan sosial dan ekonomi. Setelah desentralisasi dan pelimpahan kewenangan regulasi, pemerintah kota kini mampu membentuk iklim usaha lebih efektif. Pemerintah kota juga dapat memperbaiki sistem regulasi secara signifikan. Dengan perencanaan matang untuk infrastruktur, kebijakan, dan penegakan hukum, urbanisasi bisa mendorong efisiensi. Urbanisasi terarah memperluas kesempatan, meningkatkan akses layanan publik, dan menaikkan kualitas hidup warga.
Skala besar dan keberagaman karakteristik kota mengharuskan penerapan pendekatan yang pemerintah sesuaikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif. Kota-kota global memberi pengalaman sukses dan kegagalan yang menjadi acuan berharga untuk meningkatkan daya saing lokal dan mengoptimalkan keunggulan masing-masing kota. Pemerintah perlu merancang kebijakan berdasarkan konteks lokal untuk menciptakan iklim usaha yang efisien, transparan, dan mendukung pertumbuhan bisnis. Melalui City Planning Lab, setiap kota mendapatkan dukungan kapasitas teknis yang memungkinkannya mengkaji dan merumuskan strategi pengembangan terbaik secara mandiri.
Penyedia bantuan teknis biasanya menyajikan kajian terpisah untuk pembuatan dan analisis data kota, yang hanya memberi manfaat jangka pendek dan tidak meningkatkan kapasitas teknis atau keberlanjutan manajemen perkotaan secara menyeluruh. Peraturan mewajibkan kota menyusun informasi geospasial berskala besar, lebih rinci dari peta dasar 1:25.000, sebagai dasar pengembangan rencana tata ruang terperinci, dan menganjurkan kerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG). Pemerintah dan pemangku kepentingan memiliki peluang besar untuk mengimplementasikan sistem GIS, menetapkan standar data geospasial yang baik, serta memperkuat keahlian teknis dalam menghasilkan data akurat guna mendukung analisis spasial dan pengambilan keputusan strategis perencanaan kota. Namun, ketersediaan dan pemanfaatan data tersebut masih sangat terbatas. Organisasi donor asing mendukung proyek mitigasi bencana pasca-tsunami yang paling menonjolkan penggunaan GIS.
Pusat Koordinasi
Dengan berperan sebagai pusat koordinasi analitis di berbagai sektor—seperti pertumbuhan spasial, penggunaan dan pasar lahan, kawasan kumuh serta daya saing ekonomi—inisiatif City Planning Lab bertujuan memperkenalkan pendekatan terpadu dan holistik kepada para pemimpin kota dalam manajemen perkotaan. Pendekatan ini memungkinkannya memenuhi beragam kebutuhan melalui intervensi yang selektif namun bersifat strategis.
Setiap kota memiliki tanggung jawab penuh dalam menyediakan sumber daya dan menetapkan pengaturan yang dibutuhkan guna mendukung pembentukan serta kelangsungan operasional City Planning Lab.
Pada tahun pertama pelaksanaannya, inisiatif City Planning Lab berhasil meningkatkan pemahaman akan nilai data dan analitik spasial dalam menghadapi isu-isu perencanaan kota. Program ini mulai memperlihatkan potensi manfaatnya bagi kota-kota peserta melalui penerapan strategi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Selain itu, inisiatif ini juga mengidentifikasi tantangan bersama yang dapat ditangani secara kolektif melalui kerja sama lintas kota atau melalui dukungan di tingkat nasional.
Modul inti City Planning Lab mulai diterapkan di empat kota, dengan pelaksanaan nyata di Surabaya dan Denpasar yang mencakup dua lokakarya perencanaan partisipatif yang berhasil, masing-masing melibatkan 50–60 pejabat lintas sektor dari pemerintah kota. Sementara itu, proses konsultasi dan keterlibatan juga berlangsung di Balikpapan dan Palembang, dua kota yang telah mulai berinvestasi dalam fotografi udara beresolusi tinggi serta penyusunan peta dasar yang lebih terperinci.
Pemerintah Kota Denpasar telah mendirikan ruang khusus untuk City Planning Lab di kantor Bappeda (Bidang Perencanaan Tata Ruang), merekrut tim pelaksana dan merancang rencana awal untuk pengumpulan serta analisis data pada tingkat tapak maupun kota secara keseluruhan. Di Surabaya, keterlibatan dalam kegiatan CPL, termasuk Laporan Koridor, telah mendorong mobilisasi pendanaan sebesar $300 juta melalui program Urban Corridor Development. Berbagai capaian pada tahun pertama menunjukkan potensi besar untuk keberlanjutan inisiatif CPL di masa mendatang.