Hemat Konsumen Menghambat Pertumbuhan Ekonomi

Umat Islam secara tradisional

Umat Islam secara tradisional menjadikan bulan puasa sebagai waktu berlimpah. Para pembeli memadati pasar-pasar dan membeli hadiah. Kemudian bertukar hadiah dalam perayaan berbuka puasa yang mewah.

Ramadhan tahun ini berlangsung sejak pertengahan Juni dan menghadirkan momen lebih hemat. Hilangnya banyak lapangan kerja secara luas mengurangi daya beli konsumen. Lonjakan inflasi semakin menekan kemampuan masyarakat untuk berbelanja. Pendapatan yang lebih rendah dari komoditas ekspor juga melemahkan kekuatan konsumsi.

Kebiasaan berhemat yang kurang tepat dari 250 juta penduduk—yang secara keseluruhan membelanjakan sekitar $500 miliar setiap tahun untuk barang dan jasa, jumlah hampir setara dengan gabungan konsumsi Thailand, Malaysia dan Singapura—menjadi salah satu penghalang bagi janji Presiden Joko Widodo untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 7%.

Karena konsumsi swasta mencakup lebih dari setengah produk domestik bruto, penurunan kecil dalam pengeluaran dapat memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Pertumbuhan ekonomi melambat sejak 2009, konsumsi turun 5% kuartal pertama akibat pendapatan tertekan.

Pemerintah berupaya merangsang permintaan dengan mempertimbangkan kenaikan ambang batas pajak penghasilan. Bank sentral juga merencanakan pelonggaran aturan pinjaman, termasuk KPR dan KPM. Namun, inflasi yang terus naik serta nilai tukar rupiah terhadap dolar yang mencapai titik terendah dalam 17 tahun membuat pemotongan suku bunga tidak menjadi pilihan tepat.

Langkah ini terlambat bagi pedagang Pasar Tanah Abang yang menanti lonjakan penjualan musiman.

Meta, seorang perempuan paruh baya yang ramah, berkata, “Tahun lalu jauh lebih baik,” sambil mengintip dari balik tumpukan sajadah dan mukena di kios bawah tanahnya, memperhatikan pasar untuk menemukan pelanggan. Kini, ia hanya berharap bisnisnya kembali membaik menjelang lebaran.

Pembeli yang Hati-hati

Namun, berbagai indikasi memperlihatkan bahwa para pembeli masih bersikap waspada.

Pinjaman konsumen sedikit pulih setelah anjlok September, namun pertumbuhannya tetap lambat.

Penjualan mobil menurun 16,3% dan sepeda motor turun 21,5% pada Januari–April dibandingkan tahun sebelumnya, sementara dalam lima bulan pertama 2015, penerimaan pajak penjualan berkurang 6,1%.

Harga konsumen meningkat 7,15% pada Mei, tertinggi sepanjang tahun, akibat melonjaknya harga kebutuhan pokok seperti beras dan cabai. Kondisi ini membuat rumah tangga memiliki lebih sedikit dana untuk pengeluaran lainnya.

Fetty Kwartati menyebut tren penjualan PT Mitra Adiperkasa tahun ini menurun.

Satria Hamid, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel, menyampaikan bahwa penjualan pada masa liburan umumnya menyumbang 60–70% dari target tahunan, namun tahun ini para pengecer diperkirakan hanya mampu mencapai sekitar 40%.

Satria menegaskan bahwa para peritel harus membaca pasar dan mendiversifikasi strateginya. Ia menambahkan bahwa melakukan banyak promosi kartu kredit untuk menarik orang datang ke toko.

Di antara tumpukan tas belanja yang penuh di Pasar Tanah Abang, Erni, seorang perempuan asal Aceh, bertekad menjaga liburannya agar tidak terganggu oleh kondisi ekonomi yang melemah. Meskipun usaha suaminya sedang menurun, ia masih memiliki uang saku untuk dibelanjakan.

Ia berkata bahwa tetap harus membeli baju baru untuk lebaran.

Visited 9 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *