Pada awal September 2014, harga minyak sawit Malaysia turun hingga $572 per ton, terendah sejak Maret 2009. Pemerintah Malaysia meniadakan pajak ekspor CPO, lalu Indonesia mengikuti kebijakan itu untuk mendorong pemulihan harga. Malaysia menyatakan tarif ekspor nol berlaku hingga akhir tahun. Indonesia belum memastikan perpanjangan kebijakan serupa karena keputusan bergantung pada mekanisme harga. Kedua negara menghadapi stok minyak sawit tinggi dari produksi 2013–2014 serta pasokan kedelai, rapeseed, dan bunga matahari. Analis memperkirakan harga acuan CPO melampaui $750 per ton setelah Maret 2015. Pada November 2014, Kementerian Perdagangan menetapkan harga acuan CPO sebesar $665 per ton.
Ekspor minyak sawit pada Oktober 2014 menunjukkan kinerja positif secara bulanan, tetapi pencapaiannya berjalan relatif lambat daripada tahun sebelumnya. Selama 10 bulan pertama 2014, pelaku industri mencatat total ekspor CPO mencapai 17,5 juta metrik ton, hanya naik 2% daripada periode sama 2013 yang sebesar 17,2 juta metrik ton.
Penerapan tarif ekspor 0% dan lonjakan permintaan dari China mendorong kinerja ekspor CPO pada Oktober 2014. Produsen berhasil memenuhi regulasi baru terkait residu pestisida yang China terapkan. Akibatnya, ekspor ke China melonjak 390% secara bulanan hingga mencapai 275,9 ribu ton. Permintaan dari India juga tumbuh kuat. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat ekspor ke India naik 140% daripada bulan sebelumnya, menjadi 733,6 ribu ton. Rencana pemerintah India menaikkan tarif impor minyak nabati dari 2,5% menjadi 10% memicu importir mempercepat pembelian untuk memanfaatkan tarif rendah.
Ekspor CPO
Ekspor minyak sawit mentah (CPO) ke Amerika Serikat anjlok sebesar 95% secara bulanan pada bulan Oktober 2014, turun menjadi hanya 3,2 ribu ton. Melimpahnya pasokan kedelai di negara tersebut menyebabkan penurunan ini. Mengingat minyak kedelai dan minyak sawit menyumbang sekitar 60% dari produksi minyak nabati global dan sifatnya yang dapat saling menggantikan, produsen makanan cenderung memilih salah satunya berdasarkan harga yang lebih kompetitif.
Sejumlah faktor mengindikasikan potensi kenaikan harga CPO global dalam waktu dekat. Pertama, kekeringan di wilayah utama penghasil CPO seperti Sumatra dan Kalimantan telah memperlambat produksi, menurunkan tingkat cadangan nasional. Kedua, kekeringan di Brasil pada bulan Oktober 2014 mengancam produksi kedelai, yang diperkirakan akan mendorong harga naik dan meningkatkan daya saing CPO sebagai alternatif. Ketiga, lonjakan permintaan biodiesel domestik diprediksi mengurangi volume ekspor CPO. Sejak bulan Agustus 2013, pemerintah menaikkan batas minimal kandungan metil ester asam lemak dalam biodiesel dari 7,5% menjadi 10% guna mengurangi impor minyak, salah satu penyebab utama defisit transaksi berjalan. Dampaknya, kebutuhan CPO untuk biodiesel diproyeksikan meningkat dari 1,6 juta ton pada tahun 2014 menjadi 8,85 juta ton pada tahun 2016, yang akan memperketat pasokan global. Terakhir, siklus biologis sawit yang cenderung melemah pada tahun 2015 diperkirakan akan menahan laju pertumbuhan produksi seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
Indonesia dan Malaysia mendominasi produksi global minyak kelapa sawit, dengan kontribusi gabungan sekitar 85–90% dari total output dunia. Saat ini, Indonesia menempati posisi teratas sebagai produsen sekaligus eksportir minyak kelapa sawit terbesar secara global.