Meski isu keamanan dan geopolitik menonjol, Indonesia dan Australia tetap menjalin kemitraan ekonomi jangka panjang di bidang bisnis.
Langkah ini bersifat simbolis karena Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull memilih Indonesia sebagai kunjungan luar negeri pertamanya.
Menilik kembali sejarah, terdapat bukti kuat bahwa Australia pernah mendukung Indonesia sebagai mitra ekonomi, begitu pula sebaliknya.
Kemungkinan besar, Indonesia menjadi mitra dagang awal Australia ketika masyarakat Makassar berdagang teripang dengan penduduk asli Australia.
Pada dekade 1940-an, saat Indonesia memperjuangkan kemerdekaan, Australia menjalin kerja sama perdagangan, investasi, dan pendidikan. Hubungan ini mengingatkan pada perintis dagang Joe Isaac yang baru mendapat penghormatan di Sydney. Menurut Joe Isaac, hubungan Australia–Indonesia terjalin erat sejak awal perjuangan Indonesia melawan Belanda setelah Jepang menyerah.
Isaac mengenang bahwa sempat bertemu Soekarno segera setelah tiba, dan dua kali lagi setelahnya. Mac menjelaskan tujuan misi tersebut serta menyampaikan bahwa Australia mendukung aspirasi politik Indonesia. Ia juga membahas tanggapan Soekarno terhadap pengiriman kapal berisi pasokan medis oleh pemerintah Australia. Mengingat aksi buruh pelabuhan Australia menolak kapal Belanda, Soekarno menyampaikan terima kasih atas dukungan rakyat Australia.
Dukungan ini sangat berarti bagi negara yang baru merdeka di Asia Tenggara saat itu. Isaac, Tom Critchley, dan Jamie Mackie mencatat bahwa Indonesia mencalonkan Australia ke Komite Jasa Baik karena dukungan awal tersebut. Dukungan itu mencakup aksi buruh pelabuhan Australia dan bantuan Australia kepada Indonesia di Dewan Keamanan PBB.
Hubungan ekonomi erat antara Indonesia dan Australia berlanjut setengah abad kemudian, tepatnya saat krisis keuangan Asia tahun 1997–1999. Pada masa itu, Bank Sentral Australia berselisih dengan IMF dan pemerintahan Clinton terkait analisis ekonomi Indonesia. Menteri Keuangan Peter Costello menolak pendekatan IMF dan memilih strategi berbeda berdasarkan saran Grenville dan Glenn Stevens. Hasilnya, Indonesia memulihkan perekonomiannya lebih cepat dan berhasil menghindari jebakan yang menjerat negara berkembang lain yang mengikuti arahan IMF.
Mitra Utama
Pada 2015, Indonesia menjadi mitra dagang utama Australia dengan nilai perdagangan dua arah sekitar 16 miliar dolar. Indonesia juga berperan penting di sektor pendidikan, namun Australia belum sepenuhnya menghargainya sebagai mitra ekonomi. Lebih dari 2.400 perusahaan Australia mengekspor ke Indonesia dan meraih imbal hasil tinggi, tetapi hanya sekitar 250 yang beroperasi langsung.
Masih banyak langkah yang perlu ditempuh. Pada pekan ini, Menteri Perdagangan dan Investasi Australia, Andrew Robb, bersama delegasi bisnis yang berjumlah sekitar 360 orang, berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri Pekan Bisnis Indonesia-Australia 2015. Delegasi tersebut terdiri dari pelaku usaha dari berbagai sektor, termasuk infrastruktur, manufaktur berteknologi tinggi, pertanian dan ketahanan pangan, produk makanan dan minuman premium, layanan kesehatan dan perawatan lansia, sumber daya dan energi, serta bidang pendidikan dan pariwisata.
Robb menyatakan bahwa Indonesia-Australia Business Week merupakan peluang untuk memperkuat dan mengembangkan hubungan bisnis yang sudah terjalin, sekaligus mencari cara memanfaatkan potensi pasar yang tumbuh pesat dengan lebih dari 250 juta penduduk, termasuk kelas menengah yang terus berkembang.
Diplomasi ekonomi terhadap Indonesia juga didukung oleh kedua pihak politik, terbukti dari langkah Menteri Keuangan Bayangan, Chris Bowen, yang mempelajari bahasa Indonesia sebagai bentuk penghargaan atas peran penting Indonesia dalam hubungan ekonomi Australia, baik saat ini maupun di masa depan.
Dapat disimpulkan bahwa dalam konteks diplomasi ekonomi, Indonesia dan Australia telah menjalin hubungan perdagangan yang erat di masa lalu, dan diyakini hubungan tersebut akan terus berkembang, meluas, serta semakin mendalam di tahun-tahun mendatang.