Kolaborasi Indonesia-AS Dinilai Mengancam Kedaulatan Energi

Indonesia dan Amerika Serikat

Indonesia dan Amerika Serikat sepakat memperkuat kerja sama energi untuk pembangunan berkelanjutan dan ketahanan energi. Berdasarkan Kemitraan Komprehensif, kedua negara mendorong teknologi dan kebijakan energi bersih untuk memenuhi kebutuhan, memperluas akses, dan menekan emisi. Kolaborasi melibatkan lembaga serta perusahaan AS, fokus pada energi bersih, sistem ketenagalistrikan, minyak dan gas berkelanjutan, serta penguatan ketahanan energi.

Amerika Serikat memberikan dukungan terhadap pengembangan sektor energi di Indonesia, yang meliputi berbagai bentuk investasi:

  • Millennium Challenge Corporation (MCC) mengalokasikan dana sebesar $332,5 juta untuk mendukung Program Kemakmuran Hijau
  • USAID mengalokasikan hampir $18 juta untuk mendukung pengembangan energi bersih di Indonesia. Dana itu juga memperkuat kapasitas Indonesia menurunkan emisi karbon dari penggunaan lahan dan sektor energi
  • Departemen Energi Amerika Serikat mengucurkan $1,2 juta untuk mendukung Program Listrik Berkelanjutan. Program itu bertujuan memperkuat jaringan listrik di wilayah terpencil Indonesia

Kedutaan Besar Amerika Serikat membentuk Kelompok Kerja Energi AS untuk Indonesia. Kelompok kerja itu menjadi wadah kolaborasi sektor swasta dan pemerintah AS mendukung target pembangkit listrik Indonesia.

Pada 23 Oktober 2015, Menteri Energi AS Moniz dan Menteri ESDM Sudirman Said menandatangani Nota Kesepahaman memperluas kerja sama energi. Kerja sama fokus pada pengembangan energi terbarukan di wilayah terpencil dan off-grid. AS mendukung pendirian Pusat Keunggulan Energi Bersih di Bali. Kedua negara juga sepakat mengelola cadangan minyak strategis secara berkelanjutan. Mereka berkolaborasi dalam teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon.

Millennium Challenge Corporation (MCC): Kemakmuran Hijau

MCC melalui Program Kemakmuran Hijau menjalin kemitraan strategis fokus pada investasi energi terbarukan dan pengurangan emisi berbasis lahan. Kemitraan ini mendorong kolaborasi publik-swasta untuk menarik investasi lanjutan. Kolaborasi menjadi pilar dukungan AS terhadap target pemerintahan Jokowi menurunkan emisi. MCC mengalokasikan lebih dari 145 juta dolar untuk proyek energi terbarukan. Pihak terkait memperkirakan dana itu dapat menarik hingga 400 juta dolar dari sektor swasta. MCC menyediakan 15 juta dolar untuk perencanaan teknis 40 proyek energi terbarukan. Mitra swasta dan pemerintah daerah mengembangkan proyek-proyek itu dengan kapasitas total sekitar 100 MW.

Kelompok Kerja Energi AS untuk Indonesia

Indonesia menetapkan sasaran meningkatkan kapasitas pembangkit listrik hingga 35 gigawatt pada 2019. Pemerintah menargetkan 25% dari kapasitas tersebut berasal dari energi terbarukan. Upaya ini bertujuan menyediakan pasokan listrik yang stabil dan terjangkau guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Tim AS meluncurkan Kelompok Kerja Energi AS untuk Indonesia pada September 2015 untuk mendukung target pembangkit listrik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta PLN menjalankan program ini bersama Tim AS melalui kemitraan erat. Kelompok itu terdiri dari sekitar 60 perusahaan dan 11 lembaga serta departemen pemerintah Amerika Serikat. Kelompok memainkan peran penting mendorong pemanfaatan energi bersih dan terbarukan di Indonesia.

Mempercepat Pengembangan Energi Terbarukan

USAID menjalin kemitraan dengan ESDM, Bappenas, dan OJK untuk percepatan energi terbarukan dan efisiensi energi. Kemitraan ini bagian dari strategi nasional memenuhi kebutuhan energi dan menurunkan emisi GRK. Pada Mei 2015 USAID meluncurkan tahap kedua Proyek Pengembangan Energi Bersih Indonesia ICED II. Proyek ICED II dirancang berjalan hingga tahun 2020. Tujuan proyek membantu pemerintah merumuskan kebijakan, regulasi, dan insentif untuk energi rendah karbon. Proyek juga bertujuan menarik investasi publik dan swasta serta memperkuat kapasitas SDM teknologi dan inovasi. Dukungan teknis kepada mitra pemerintah dan swasta menargetkan pengurangan emisi GRK sebesar 4,5 juta ton. Target lain adalah mobilisasi investasi publik dan swasta senilai $800 juta. Menargetkan perluasan akses energi bersih bagi lima juta orang; meningkatkan kapasitas 20 lembaga menangani isu perubahan iklim; mendorong pengajuan, adopsi, dan implementasi 20 regulasi atau kebijakan mitigasi.

Keterlibatan USAID dalam pengembangan energi bersih ke depan didasarkan pada keberhasilan sejumlah inisiatif yang dilaksanakan antara tahun 2010 hingga awal 2015. Secara keseluruhan, dukungan teknis senilai $18 juta dari USAID telah mendorong pembiayaan publik dan swasta sebesar sekitar $269 juta untuk proyek-proyek energi bersih berskala komersial. Investasi tersebut mencerminkan potensi kapasitas listrik sebesar 181 MW, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik lebih dari 300.000 rumah tangga dan melayani sekitar 1,2 juta orang. Hingga awal tahun 2015, USAID juga berperan dalam penyelesaian empat pembangkit listrik tenaga air kecil serta 10 proyek percontohan energi bersih berbasis komunitas dengan total kapasitas 21,84 MW, yang telah menyediakan listrik bagi 202.400 orang dan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 75.600 ton CO₂e. Selain itu, program-program ini turut berkontribusi dalam pengurangan subsidi sektor kelistrikan sebesar $3,28 juta.

Dalam rangka mencapai target tersebut, USAID telah memberikan pelatihan kepada sekitar 5.200 individu serta mendukung 24 institusi lokal dalam memperkuat pengetahuan dan kemampuannya terkait pengembangan proyek energi bersih dan upaya mitigasi perubahan iklim.

Energi Berkelanjutan untuk Jaringan Listrik Terpencil di Indonesia

Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) memberikan pendanaan untuk program Energi Berkelanjutan bagi Jaringan Listrik Terpencil di Indonesia (SERIG), yang berlangsung selama tiga tahun. Program ini bertujuan mendukung pengembangan energi bersih dan memperluas akses listrik di wilayah-wilayah terpencil di Indonesia. SERIG merupakan hasil kerja sama antara Laboratorium Energi Terbarukan Nasional (NREL) dan Winrock International, serta terdiri dari dua komponen utama:

Studi Percontohan: Program SERIG melakukan kajian teknis dan ekonomi terhadap pemanfaatan energi terbarukan dan sistem hibrida guna mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar diesel di sejumlah jaringan listrik di Indonesia. Proyek ini telah menetapkan tiga lokasi percontohan yang menunjukkan keunggulan teknis dan efisiensi biaya dari sistem hibrida. Saat ini, SERIG berfokus pada penyediaan hasil analisis dari lokasi-lokasi tersebut untuk mendorong pengembangan proyek demonstrasi sebagai bukti konsep oleh pihak lain.

Replikasi Nasional: Langkah berikutnya dari program SERIG adalah merumuskan strategi untuk mempercepat perluasan energi terbarukan di jaringan listrik terpencil di seluruh Indonesia. Dengan dukungan dan masukan dari mitra lokal, SERIG berupaya memanfaatkan pengalaman dan pelajaran yang telah diperoleh untuk mendorong penerapan energi terbarukan secara lebih luas dan efektif.

Manfaat Iklim dari Pengembangan Energi Panas Bumi

Dalam rangka memperkuat kemitraan dalam penanganan perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan energi nasional, Indonesia dan Amerika Serikat akan bekerja sama dalam merancang skema pembiayaan serta mekanisme mitigasi risiko proyek yang efektif guna mempercepat investasi di sektor panas bumi. Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi sekitar 29 GW, yang jika dimanfaatkan sepenuhnya, dapat mencegah emisi karbon sebesar 0,73 gigaton CO₂e setiap tahun.

Kementerian Keuangan Indonesia telah menginisiasi dana bagi hasil panas bumi senilai lebih dari $300 juta sebagai mekanisme pembagian risiko untuk mengurangi ketidakpastian sumber daya pada tahap awal pengembangan panas bumi. Di sisi lain, Bank Dunia telah menghimpun dana sebesar $150 juta untuk mendukung Rencana Pengembangan Panas Bumi Global. Menindaklanjuti hal tersebut, Kementerian Luar Negeri mengusulkan program pengurangan risiko panas bumi yang bertujuan memanfaatkan dana yang belum digunakan guna mendukung kegiatan pengeboran eksplorasi serta menyediakan instrumen asuransi bagi risiko pengeboran produksi, sehingga dapat mempercepat pendanaan proyek-proyek panas bumi di Indonesia.

Visited 12 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *