Perwakilan Kementerian Keuangan menyatakan Indonesia tidak akan menghadapi krisis seperti Yunani. Yunani mengalami gagal bayar karena tidak mampu melunasi utang kepada lembaga seperti Dana Moneter Internasional.
Dalam diskusi Divisi Hubungan Masyarakat MPR pada Sabtu, Staf Khusus Menkeu Arif Budimanta menegaskan Indonesia tak akan bangkrut seperti Yunani.
Ia menjelaskan defisit fiskal Yunani mencapai 60%. Indonesia mencatat defisit fiskal jauh lebih rendah, di bawah 1,9%. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Indonesia menunjukkan tren positif, sementara Yunani mengalami pertumbuhan yang negatif.
Karena itu, Arif mengajak seluruh pihak untuk tetap percaya diri terhadap situasi keuangan nasional. Ia menekankan masyarakat tidak perlu cemas menghadapi kemungkinan kondisi yang kurang baik. Pemerintah telah menerapkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Komitmen pemerintah terhadap kepentingan rakyat tercermin melalui kebijakan anggaran yang menitikberatkan pada pembangunan desa. Alokasi dana untuk program ini meningkat signifikan, dari Rp9,7 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp21 triliun pada tahun ini.
Tony Prasetiantono, Kepala Pusat Kebijakan Publik dan Studi Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, sebelumnya menyatakan bahwa kondisi ekonomi saat ini masih sangat jauh dari krisis seperti yang terjadi pada tahun 1998, yang kala itu karena anjloknya nilai tukar rupiah.
Pada Kamis, 2 Juli 2015, Tony menegaskan bahwa meskipun rupiah sekitar Rp13.500 per dolar—mirip Rp15.000 pada 1998—situasi ekonomi kini sangat berbeda dari krisis 1998.
Ekonom dari Standard Chartered Bank, Eric Sugandi, menyatakan bahwa krisis yang terjadi di Yunani kemungkinan akan memberikan pengaruh tidak langsung terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Eric menyatakan pada hari Senin bahwa meskipun pengaruhnya tidak terjadi secara langsung, dampak yang timbul tetap memiliki bobot yang besar.
Ia menambahkan bahwa persoalan Yunani tidak akan berdampak langsung pada perekonomian Indonesia karena Yunani bukan investor utama di negara ini.
Namun, dampak terhadap perekonomian Indonesia kemungkinan akan muncul secara tidak langsung, karena negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan Yunani turut terdampak dan hal ini bisa berimbas.
Penguatan Dolar
Selain itu, penguatan dolar terhadap mata uang lain turut memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Eric menyampaikan bahwa fenomena penguatan dolar secara global, atau yang dikenal sebagai super dolar, turut memengaruhi sektor keuangan. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan seiring dengan semakin kuatnya posisi dolar.
Ia menyatakan bahwa dolar diperkirakan akan tetap menguat terhadap euro serta mata uang negara berkembang lainnya, termasuk rupiah. Kondisi ini akan memengaruhi jalur keuangan dan menimbulkan dampak psikologis di pasar.
Yunani akan dianggap bangkrut jika tidak mampu membayar utangnya sebesar 1,6 miliar euro kepada Dana Moneter Internasional.
Di samping itu, sejumlah negara Eropa lainnya menyatakan kesediaannya untuk membantu Yunani, dengan menetapkan berbagai syarat terkait penyesuaian dalam kebijakan anggarannya.