Grab dan GoTo menjajaki pemberian saham emas kepada dana negara untuk memperoleh persetujuan merger senilai sekitar 29 miliar dolar.
Diskusi penggabungan mencakup rencana pemberian saham minoritas kepada Danantara dengan hak istimewa atas unit bisnis tertentu.
Hak istimewa itu memberi Danantara kesempatan memengaruhi kebijakan, termasuk penetapan gaji pengemudi, menurut salah satu sumber.
“Industri ini sarat dengan dinamika politik karena melibatkan banyak pekerja di sektor gig,” ujar sumber tersebut. “Menjalin kedekatan dengan pemerintah menjadi hal yang penting.”
Grab berbasis Singapura dan GoTo asal Indonesia telah lama membahas rencana merger. Tahun ini, pembicaraan menguat dan pemerintah turut membahas rencana tersebut meski bukan investor.
Perusahaan hasil merger ini akan menguasai sekitar 90% pasar transportasi online dan layanan pengiriman makanan, menjadikannya pemimpin yang tak tertandingi.
Kedua perusahaan ini telah menjadi sumber lapangan kerja yang signifikan bagi masyarakat yang semakin mengandalkan pekerjaan informal. GoTo sendiri melaporkan memiliki sekitar 3,1 juta pengemudi untuk layanan mobil, ojek dan pengiriman barang.
Para pengemudi memainkan peran penting dalam perekonomian, mengantar penumpang melewati kemacetan serta mengirimkan makanan, bahan kebutuhan dan paket. Dengan kondisi pasar kerja yang semakin ketat dan ekonomi yang melambat, banyak orang memilih menjadi pengemudi untuk memperoleh penghasilan.
Pengaruh pekerja lepas terlihat saat mereka bergabung dengan ribuan warga memprotes tunjangan anggota parlemen pada Agustus 2025. Aksi terjadi setelah pengemudi Grab dan Gojek Affan Kurniawan tewas tertabrak kendaraan polisi saat demonstrasi.
Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah membahas rencana merger, dengan Danantara pengelola aset negara senilai sekitar 900 miliar dolar terlibat.
“Karena perusahaan ini bergerak di bidang jasa dan menciptakan banyak lapangan kerja, jumlah mitra pengemudi sangat besar, dan kami memahami bahwa mereka berperan penting dalam menggerakkan perekonomian,” ujarnya kepada wartawan.
Menurut analis Citigroup, komentar dan keterlibatan Danantara mencerminkan adanya dukungan pemerintah. Namun, mengingat riwayat pembicaraan merger yang kerap terhambat, risiko kegagalan atau penundaan tetap tinggi, ujar Ferry Wong.
Pemberhentian CEO
Secara terpisah, sejumlah pemegang saham GoTo, termasuk SoftBank, mengirimkan memo kepada dewan direksi yang meminta pemberhentian CEO Patrick Walujo pada rapat umum pemegang saham luar biasa berikutnya. Menurut dua sumber yang mengetahui hal tersebut, penurunan tajam harga saham mendorong permintaan ini, mengonfirmasi laporan Bloomberg.
SoftBank, yang juga memiliki kepemilikan di Grab, telah lama mendorong terwujudnya merger, menurut beberapa sumber yang mengetahui rencana perusahaan asal Jepang tersebut. SoftBank menolak memberikan komentar.
GoTo menyatakan dalam keterbukaan informasi bursa bahwa perusahaan akan menggelar rapat pemegang saham pada 17 Desember 2025, namun rapat itu tidak terkait aksi korporasi. Perusahaan juga menegaskan belum ada keputusan maupun kesepakatan terkait kerja sama dengan Grab.
Gabungan nilai pasar Grab dan GoTo sempat mencapai $72 miliar saat keduanya melantai di bursa pada tahun 2021 dan 2022. Namun sejak itu, harga saham anjlok, dengan saham Grab turun lebih dari separuh dan GoTo merosot lebih dari 80% akibat persaingan ketat di Asia Tenggara.
Analis memperkirakan Grab, yang terdaftar di Nasdaq dengan valuasi sekitar $24 miliar, berpotensi mengakuisisi GoTo yang terdaftar di Indonesia dengan nilai $5 miliar dalam skenario merger. Namun, pihak terkait telah lama memperdebatkan kepemilikan atas entitas Indonesia tersebut.
Dalam wawancara bulan Maret 2025, CEO GoTo Patrick menyatakan bahwa pihaknya terbuka terhadap kemungkinan merger, namun menekankan perlunya mempertimbangkan struktur kesepakatan karena GoTo merupakan perusahaan yang dianggap sebagai juara nasional.
Pandu Sjahrir, Kepala Investasi Danantara, menyatakan pekan ini bahwa pihaknya akan mengikuti arahan pemerintah, sementara detail terkait merger akan diserahkan kepada masing-masing perusahaan. Ia menolak memberikan komentar mengenai tawaran saham emas.
GoTo juga menolak memberikan komentar terkait penawaran saham emas. Dalam pernyataannya, perusahaan menegaskan bahwa dewan direksi dan manajemen selalu mendukung kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi dan pedagang, termasuk jika hal tersebut diwujudkan melalui merger, akuisisi atau langkah strategis lainnya.